IHSG Bertahan di Puncak 8.944, Saham Tambang Pimpin Penguatan LQ45

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menutup perdagangan di zona positif pada Rabu, 7 Januari 2026. Penguatan ini melanjutkan tren positif yang telah berlangsung sejak awal tahun, meskipun kenaikannya tercatat terbatas dan indeks bertahan di dekat level tertinggi sepanjang masa.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dilaporkan melalui RTI, IHSG tercatat menguat tipis sebesar 11,20 poin atau 0,13%, mengakhiri sesi perdagangan di level 8.944,81. Pergerakan indeks sepanjang hari menunjukkan adanya aksi selektif dari para investor yang cenderung memilih saham-saham tertentu.

Pasar Saham Indonesia Dibuka Hijau, IHSG Pagi Ini Bergerak Dekati 9.000

Pergerakan Sektoral yang Terbagi

Penguatan IHSG pada perdagangan kemarin ditopang oleh kinerja positif dari lima dari total sebelas indeks sektoral yang ada di BEI. Sektor perindustrian mencatat kenaikan paling signifikan sebesar 2,40%. Posisi ini diikuti oleh sektor barang konsumer non-primer yang naik 1,18%, sektor barang baku naik 1,11%, sektor energi menguat 0,51%, dan sektor infrastruktur yang bertambah 0,60%.

Sementara itu, enam sektor lainnya justru harus mengalami tekanan jual dan ditutup di zona merah. Sektor transportasi dan logistik menjadi yang terkoreksi paling dalam dengan penurunan 1,83%. Diikuti oleh sektor barang konsumer primer yang melemah 0,93%, sektor teknologi turun 0,56%, sektor keuangan terkoreksi 0,24%, sektor properti dan real estate turun 0,22%, serta sektor kesehatan yang melemah tipis 0,05%.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa pasar saham bergerak secara selektif. Investor tampaknya melakukan rotasi sektor di tengah tren penguatan IHSG yang sudah berjalan cukup panjang.

Aktivitas Perdagangan Tetap Tinggi

Di sisi aktivitas transaksi, perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia tercatat cukup ramai. Total volume saham yang ditransaksikan mencapai 70,23 miliar lembar dengan nilai transaksi keseluruhan sebesar Rp 36,67 triliun. Frekuensi perdagangan yang tinggi ini menunjukkan minat investor yang masih solid, meskipun penguatan indeks tidak terlalu agresif.

Secara keseluruhan, tercatat 344 saham ditutup menguat, sementara 362 saham melemah, dan 104 saham lainnya stagnan. Perbandingan ini menandakan bahwa tekanan jual dan beli relatif berimbang pada perdagangan hari itu.

Saham Tambang Pimpin Penguatan LQ45

Di jajaran saham unggulan LQ45, penguatan signifikan dipimpin oleh saham-saham yang bergerak di sektor komoditas tambang. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menunjukkan performa impresif dengan melesat 12,44% ke level Rp 6.325 per saham. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menyusul dengan kenaikan 11,59% ke harga Rp 3.850 per saham.

Selain itu, PT Adaro Energy Tbk (ADRO) juga mencatat penguatan sebesar 7,77%, ditutup pada level Rp 2.010 per saham. Penguatan saham-saham tambang ini sejalan dengan sentimen positif harga komoditas global serta ekspektasi permintaan yang masih solid, khususnya dari sektor energi dan industri.

Saham BUMI dan DEWA Masuk Radar MSCI, Ini Faktor Pendorongnya

Tekanan Jual di Sejumlah Saham Konsumer

Sebaliknya, beberapa saham unggulan LQ45 harus ditutup di zona merah. PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) menjadi saham dengan penurunan terbesar (top loser), terkoreksi 6,93% ke level Rp 2.550 per saham. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) juga melemah 3,93% ke Rp 6.725 per saham.

PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turut mengalami koreksi sebesar 3,17%, ditutup pada harga Rp 3.050 per saham. Koreksi pada saham-saham konsumer ini diduga dipengaruhi oleh aksi ambil untung (profit taking) oleh investor pasca-reli sebelumnya, serta adanya kehati-hatian pasar terhadap prospek kinerja sektor konsumsi dan industri ke depan.