Saham BUMI dan DEWA Masuk Radar MSCI, Ini Faktor Pendorongnya
Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA), emiten yang terafiliasi dengan Grup Bakrie dan Salim, kembali menjadi pusat perhatian investor pada awal tahun ini. Lonjakan harga kedua saham tersebut dalam sebulan terakhir memunculkan spekulasi mengenai potensi masuknya mereka ke dalam indeks global MSCI.
Dalam sebulan terakhir, saham BUMI tercatat melesat hampir 95% hingga menyentuh level Rp464 per saham. Sementara itu, saham DEWA melonjak sekitar 97,8%. Kenaikan signifikan ini turut diiringi oleh peningkatan likuiditas yang tinggi pada kedua emiten tersebut.
Pada perdagangan Selasa (6/1/2026), saham BUMI mencatatkan transaksi sebanyak 8,65 miliar lembar dengan nilai mencapai Rp3,02 triliun. Frekuensi perdagangannya tercatat sebanyak 311.339 kali. Sementara itu, DEWA membukukan volume perdagangan 2,54 miliar saham senilai Rp2 triliun, dengan frekuensi transaksi 175.054 kali.
Potensi Masuk Indeks MSCI Global
Maybank Sekuritas menilai bahwa likuiditas tinggi yang ditunjukkan oleh kedua saham tersebut membuka peluang bagi BUMI untuk dipertimbangkan masuk ke dalam MSCI Global Standard. Sementara itu, DEWA juga memiliki peluang untuk masuk ke indeks global MSCI, meskipun tidak pada kategori Global Standard.
Sebelumnya, Indo Premier Sekuritas (IPOT) telah memperkirakan bahwa saham BUMI memiliki kemungkinan tertinggi untuk masuk ke dalam MSCI Standard Cap dalam peninjauan indeks yang dijadwalkan pada Februari 2026. Menurut estimasi IPOT, ambang batas minimum untuk dimasukkan ke dalam indeks ini adalah sekitar Rp315 per saham, dan harga BUMI saat ini telah jauh melampaui batas tersebut.
“Perlu dicatat bahwa BUMI sudah menjadi anggota Investible Market Indexes (IMI) MSCI dan saat ini masuk dalam MSCI Small Cap. Meskipun harga saham naik dua kali lipat dalam sebulan (+117%), harga tersebut masih sesuai dengan aturan kenaikan ekstrem MSCI, kecuali jika harga saham BUMI melampaui Rp700 per saham pada akhir Januari 2026, yang merupakan periode peninjauan,” tulis riset Indo Premier baru-baru ini.
Sentimen Pasar dan Prospek Saham
Lonjakan harga dan likuiditas BUMI serta DEWA tidak terlepas dari minat investor institusi, baik domestik maupun asing. Selain itu, tren positif saham di sektor pertambangan yang didorong oleh kenaikan harga komoditas global, khususnya batu bara, turut memberikan sentimen positif.
Kedua saham ini menjadi yang paling banyak diperdagangkan dalam beberapa minggu terakhir, mencerminkan momentum kuat bagi investor yang memantau potensi masuknya ke indeks global. Para analis menekankan bahwa meskipun peluang masuk MSCI sangat menarik, investor tetap perlu mewaspadai risiko volatilitas jangka pendek.
Risiko tersebut dapat timbul akibat aksi ambil untung oleh investor dan dinamika harga komoditas yang dapat memengaruhi kinerja saham di sektor pertambangan secara keseluruhan.