— Harga emas dunia berhasil kembali menembus level US$ 4.000 per ons troi pada penutupan perdagangan Jumat, 17 Juli 2026, setelah sempat menyentuh titik terendah dalam lebih dari dua pekan terakhir. Meski demikian, logam mulia ini masih berada dalam jalur penurunan mingguan terbesar sejak awal Juni.

Pergerakan harga emas dipengaruhi oleh meningkatnya kekhawatiran inflasi yang dipicu oleh memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Situasi ini juga memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).

Harga emas spot tercatat melesat 1,02% menjadi US$ 4.017,23 per ons troi pada penutupan perdagangan. Sebelumnya, harga sempat menyentuh level terendah sejak 30 Juni. Meskipun mengalami penguatan, secara keseluruhan harga emas masih melemah sekitar 2,52% sepanjang pekan ini. Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus juga ditutup menguat 0,77% ke level US$ 4.023 per ons troi.

Penguatan dolar AS selama dua hari berturut-turut turut menekan daya tarik emas. Hal ini membuat logam mulia tersebut menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. “Faktor utama di balik aksi jual emas adalah penguatan dolar AS dan meningkatnya kekhawatiran inflasi global yang mendorong kenaikan suku bunga,” ujar Chris Gaffney, Presiden World Markets EverBank.

Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah AS memperluas serangan ke Iran, menargetkan jembatan dan sebuah bandara. Sebagai respons, Teheran dilaporkan melancarkan serangan balasan ke sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.

Harga Minyak Melonjak Akibat Konflik

Konflik antara AS dan Iran memicu lonjakan harga minyak mentah. Minyak Brent dilaporkan melonjak sekitar 16% sepanjang pekan, yang semakin meningkatkan kekhawatiran akan pemanasan kembali inflasi global.

Sejak perang yang didukung AS terhadap Iran dimulai pada akhir Februari, harga emas secara keseluruhan telah merosot sekitar 25%. Pasar menilai lonjakan harga energi akibat perang berpotensi membuat bank sentral, khususnya The Fed, mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Meskipun emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga cenderung mengurangi daya tarik logam mulia karena tidak memberikan imbal hasil. Gaffney menambahkan bahwa data ekonomi terbaru memang sedikit menurunkan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) berikutnya. Namun, kenaikan suku bunga global dan lonjakan harga minyak berpotensi mendorong The Fed untuk mengambil sikap yang lebih hawkish.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada September mencapai sekitar 58%. Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson pada Kamis juga menyatakan keterbukaannya untuk kembali menaikkan suku bunga apabila inflasi tidak menunjukkan perbaikan dalam waktu dekat.

Di sisi lain, Goldman Sachs menilai prospek jangka panjang emas masih didukung oleh meningkatnya permintaan investasi. Bank investasi tersebut memprediksi bahwa porsi kepemilikan emas dalam portofolio investor swasta masih relatif rendah, sehingga ketegangan geopolitik dapat mendorong diversifikasi investasi ke emas, di luar pembelian oleh bank sentral.

Untuk logam mulia lainnya, harga perak spot mengalami kenaikan 0,75% menjadi US$ 55,94 per ons. Sebaliknya, platinum anjlok 1,55% ke US$1.596,84 per ons, sedangkan paladium melemah 0,18% ke level US$ 1.251,3 per ons. Ketiga logam tersebut juga mencatat pelemahan sepanjang pekan ini.