Detak.media — Fenomena El Nino yang diperkirakan berkepanjangan dan mencapai kategori sangat kuat pada akhir 2026 menjadi katalis baru bagi saham-saham emiten produsen minyak kelapa sawit mentah (CPO). Cuaca kering akibat El Nino berpotensi menekan produktivitas sawit dan memperketat pasokan global, sehingga membuka ruang kenaikan harga CPO.
Pelaku pasar memperkirakan dampak El Nino mulai terlihat pada semester II-2026 dan berlanjut pada 2027. Kombinasi pasokan yang lebih ketat dan permintaan meningkat diperkirakan memperbaiki prospek profitabilitas emiten perkebunan, ditopang implementasi program biodiesel B50 yang dapat menaikkan permintaan domestik.
Sentimen Pasar dan Dampak untuk Emiten
“El Nino yang memperpanjang periode kering, berisiko menurunkan produktivitas sawit, sehingga berpotensi mengetatkan pasokan dan menopang harga CPO. Di sisi lain, program B50 berpotensi meningkatkan permintaan domestik biodiesel berbasis sawit, yang membantu menjaga keseimbangan supply-demand,” kata Analis dan Branch Manager Panin Sekuritas Elandry Pratama kepada Investor Daily, Senin (13/7/2026).
Elandry mengatakan kombinasi potensi pengetatan pasokan akibat El Nino dan implementasi B50 bakal meningkatkan sentimen investor terhadap sektor CPO. Prospek perbaikan laba akan lebih terbuka jika harga CPO mampu bertahan pada level tinggi.
Dia mengingatkan dampak positif tersebut tidak akan dirasakan sama oleh seluruh emiten. Kinerja perusahaan tetap ditentukan oleh volume produksi, tingkat rendemen, efisiensi operasional, dan struktur biaya. Emiten yang mampu menjaga produksi di tengah tekanan cuaca berpeluang menikmati peningkatan margin lebih besar ketika harga CPO menguat.
Rekomendasi Saham dan Pergerakan Teknikal
Dari sisi teknikal, Elandry menilai saham-saham CPO mulai kembali dilirik setelah melalui fase konsolidasi. Beberapa saham telah menunjukkan perbaikan momentum, meski volatilitas sektor komoditas masih relatif tinggi. Investor disarankan memperhatikan area support dan resistance saham-saham tersebut.
Karena itu, dia menyarankan investor mencermati emiten dengan fundamental kuat, produksi stabil, dan neraca keuangan sehat, seperti AALI, LSIP, SSMS, dan TAPG. Emiten-emiten itu dinilai memiliki peluang lebih besar memanfaatkan kenaikan harga CPO apabila implementasi B50 berjalan efektif dan dampak El Nino mendorong pengetatan pasokan.
Senada, Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai saham-saham CPO secara umum masih berada dalam tren naik jangka pendek. Menurut dia, momentum penguatan sektor masih terjaga, sehingga peluang kenaikan harga saham tetap terbuka.
Herditya merekomendasikan buy on weakness untuk AALI dengan target harga Rp6.650-6.925, atau berpotensi naik sekitar 9,92% dari penutupan Senin (13/7/2026). LSIP direkomendasikan trading buy dengan target Rp1.380-1.410 dan potensi kenaikan sekitar 8,04%. Sementara itu, SSMS direkomendasikan buy if break dengan target Rp950-1.040 atau berpotensi menguat hingga 22,35%.
Adapun TAPG direkomendasikan trading buy dengan target Rp1.650-1.700 atau berpotensi naik sekitar 10,03%, sedangkan DSNG direkomendasikan buy if break dengan target Rp1.295-1.350 atau menyimpan potensi kenaikan sekitar 13,92%.
Proyeksi Produksi, Stok, dan Intensitas El Nino
Sementara itu, analis Indo Premier Sekuritas Halima Yefany dan Aurelia Barus dalam riset yang dipublikasikan Senin (13/7/2026) mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor perkebunan. Menurut mereka, prospek kenaikan harga CPO masih didukung dua katalis utama, yakni implementasi penuh program biodiesel B50 dan penguatan fenomena El Nino.
Indo Premier mencatat produksi minyak sawit Malaysia meningkat menjadi 2,4 juta ton pada Juni 2026 atau naik 7% dibanding bulan sebelumnya. Produksi yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor mendorong persediaan minyak sawit naik menjadi 3,2 juta ton. Namun, peningkatan stok tersebut diperkirakan hanya bersifat sementara, karena produksi diproyeksikan mulai menurun seiring cuaca yang makin kering.
Mengacu pada proyeksi National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), peluang El Nino mencapai kategori sangat kuat pada Oktober-Desember 2026 sebesar 81%, sehingga berpotensi menjadi salah satu yang terkuat sejak 1950. Bahkan, terdapat peluang 97% fenomena tersebut berlanjut hingga awal 2027.
Menurut Indo Premier, kondisi cuaca yang lebih kering akan memperlambat pematangan buah dan menurunkan kualitas tandan buah segar (FFB), sedangkan dampak terbesar terhadap produktivitas umumnya baru terlihat sekitar 12-18 bulan setelah El Nino mulai terjadi. Secara historis, periode El Nino diikuti kenaikan harga CPO sekitar 5-19% pada tahun berikutnya.
Karena itu, Indo Premier memperkirakan harga CPO masih berpotensi menguat pada semester II-2026 dan berlanjut pada 2027, didukung implementasi penuh B50 serta potensi penurunan produksi akibat El Nino. Apabila fenomena tersebut berlangsung lebih lama atau lebih kuat dibandingkan skenario dasar, proyeksi harga CPO pada 2027-2028 masih berpeluang direvisi lebih tinggi. Meski demikian, investor tetap perlu mencermati risiko perubahan kebijakan pemerintah maupun kondisi cuaca ekstrem yang dapat memengaruhi produksi dan kinerja emiten perkebunan.
Ikuti Detak.media
