Detak.media — JAKARTA — PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu, membuka rincian penggunaan dana hasil penawaran umum saham (IPO) hingga 30 Juni 2026.
Sekretaris Perusahaan CDIA, Merly, menyatakan realisasi penggunaan dana berbeda dari rencana prospektus, dengan rincian yang ia sampaikan dalam keterbukaan informasi pada Selasa, 14 November 2026.
Merly menjelaskan tanggal efektif IPO saham CDIA adalah 9 Juli 2025. Jumlah hasil penawaran mencapai Rp 2,37 triliun dengan biaya penawaran umum Rp 19,42 miliar, sehingga realisasi bersih mencapai Rp 2,35 triliun.
“Sisa dana Rp 511,04 miliar,” ungkap Merly dalam keterbukaan informasi.
Menurut Merly, rencana penggunaan dana menurut prospektus adalah Rp 2,35 triliun, sementara realisasi penggunaan baru mencapai Rp 1,84 triliun.
“Sisa dana tersebut ditempatkan di rekening giro pada Bank DBS Indonesia dengan tingkat bunga 4,16%,” sambungnya.
Rincian Penyaluran Dana
Merly membeberkan realisasi penggunaan dana IPO untuk penyetoran modal kepada anak usaha CSI dan MIM sebesar Rp 871,75 miliar, yang disebut sudah sesuai dengan prospektus.
Selain itu, realisasi penyetoran modal kepada anak usaha CSP tercatat Rp 969,53 miliar. Dalam prospektus, rencana penyetoran ke CSP tercantum sebesar Rp 1,48 triliun.
Penilaian BCA Sekuritas
BCA Sekuritas merilis riset terkait CDIA dan menilai secara fundamental bisnis perusahaan tetap kuat. Broker efek tersebut memperkirakan trajektori pertumbuhan perseroan akan tetap solid, baik secara organik maupun anorganik.
“Permintaan energi diperkirakan tetap tinggi dalam tiga tahun ke depan, didukung oleh rencana beroperasinya pabrik Chlor Alkali–Ethylene Dichloride (CA-EDC) milik TPIA pada 2027F,” sebut riset BCA Sekuritas pada Senin, 13 Juli 2026.
Pada segmen pelabuhan dan penyimpanan, BCA Sekuritas menyatakan peluang merger dan akuisisi (M&A) masih menjadi bagian dari pipeline pertumbuhan CDIA.
Di segmen logistik, perseroan menargetkan peningkatan armada pelayaran menjadi setidaknya 15 kapal dalam 2–3 tahun ke depan.
“Melihat pipeline pertumbuhan yang dimiliki saat ini, kami menilai CDIA menggunakan dua pendekatan valuasi, yaitu Discounted Cash Flow (DCF) dan Dividend Discount Model (DDM),” beber BCA Sekuritas.
Berdasarkan metode DCF, BCA Sekuritas menilai nilai wajar CDIA berada di Rp 815 per saham, mengingat perseroan masih berada dalam fase ekspansi dan berpotensi membukukan pertumbuhan lebih dari 20% per tahun.
Sementara itu, berdasarkan metode DDM dengan asumsi dividend payout ratio 40%, nilai wajar CDIA mencapai Rp 810 per saham.
Pada perdagangan Senin, 13 Juli 2026, saham CDIA ditutup naik 3,25% ke Rp 635 per saham.
Ikuti Detak.media
