Detak.media — Bitcoin (BTC) melemah pada sesi Asia Senin (13/7/2026) setelah harga minyak mentah dunia melonjak menyusul serangan baru Amerika Serikat ke Iran. Aset kripto nomor satu sempat turun 2,4% ke level US$62.600 pada pukul 12.45 waktu Singapura.
Penurunan membawa Bitcoin kembali di bawah garis rata-rata pergerakan 200 mingguan, indikator teknis yang sering dikaitkan dengan tren pasar lesu. Ether (ETH) juga terpangkas sekitar 2,5% pada perdagangan yang sama.
Sentimen Pasar Dipengaruhi Lonjakan Minyak
Richard Galvin, Chairman Eksekutif di firma investasi kripto DACM, menyebut aksi jual mengikuti pelemahan perdagangan kontrak berjangka saham AS dan lonjakan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan dengan Iran. “Aksi jual ini mengekor melemahnya perdagangan kontrak berjangka saham AS dan lonjakan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan dengan Iran,” ujarnya.
Peningkatan harga energi memicu kekhawatiran inflasi, yang menurut pengamat dapat mendorong bank sentral AS menaikkan suku bunga. Investor kini menantikan rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS dan kesaksian Ketua The Federal Reserve, Kevin Warsh, minggu ini untuk membaca arah kebijakan moneter.
Tony Sycamore, analis dari IG Australia, mengatakan data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan akan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun. “Hal tersebut tentu akan menjadi beban berat bagi Bitcoin,” ujarnya. Sebaliknya, jika inflasi sesuai perkiraan atau melandai, itu dianggap mendukung pernyataan Warsh bahwa tekanan inflasi mulai mereda.
Konflik Geopolitik dan Arus Modal
Serangan rudal baru AS ke Iran pada Minggu (12/7/2026) meningkatkan kekhawatiran terhadap keselamatan jalur pelayaran Selat Hormuz. Kondisi ini mendorong harga Brent melonjak 4,4% hingga melewati US$79 per barel karena potensi gangguan pasokan.
Meski perdagangan kripto melemah hari ini, aliran modal ke produk spot Bitcoin ETF di bursa AS masih mencatat masuk bersih minggu lalu sebesar US$197,4 juta—arus dana mingguan positif pertama setelah sembilan minggu berturut-turut mengalami kekosongan.
Perkembangan terakhir menegaskan hubungan erat antara dinamika geopolitik di Timur Tengah dan pasar aset digital. Selat Hormuz yang kini menjadi titik panas konflik dilewati sebagian besar arus minyak global, sehingga ketegangan di wilayah itu langsung berdampak pada harga energi dan ekspektasi inflasi.
Seiring masuknya institusi finansial tradisional melalui instrumen ETF, karakter Bitcoin dinilai semakin sensitif terhadap sentimen makro dan kebijakan suku bunga global. Oleh karena itu, ancaman inflasi yang mendorong pengetatan likuiditas kini menjadi tekanan negatif terhadap performa pasar kripto.
Ikuti Detak.media
