Detak.media — Harga Bitcoin (BTC) melemah pada perdagangan Selasa (14/7/2026) pagi, turun lebih dari 2% ke kisaran US$62.000 per koin. Pelemahan ini terjadi di tengah kondisi pasar kripto global yang melemah dan sikap hati-hati investor menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat.
Pada pukul 06.40 WIB, kapitalisasi pasar kripto global turun 2,21% menjadi US$2,14 triliun dalam 24 jam terakhir. Harga Bitcoin tercatat turun 2,59% ke level US$62.083,89 per koin atau sekitar Rp1,12 miliar (kurs Rp18.158 per dolar AS).
Indeks CoinDesk 20, yang mencerminkan kinerja 20 aset kripto terbesar, terpangkas 2,94%. Aset lain juga melemah: Ethereum turun 2,2% ke US$1.765 dan Binance (BNB) anjlok 1,39% ke US$565.
Beberapa indikator menunjukkan aksi jual besar-besaran yang membebani pasar kripto dalam beberapa bulan terakhir mulai mereda setelah Bitcoin anjlok sekitar 28% sepanjang tahun ini.
Ketahanan di Level US$62.000
Bitcoin mampu bertahan di kisaran US$62.000 sepanjang akhir pekan meski ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Ketahanan ini berbeda dengan kondisi pada Maret dan April lalu, ketika eskalasi geopolitik dan lonjakan harga minyak memicu pelemahan tajam aset kripto terbesar tersebut.
Trader over-the-counter Wintermute Jasper De Maere menilai pasar sudah menunjukkan perubahan perilaku. “Bitcoin mampu bertahan di level US$ 62.000 meski terjadi serangan udara AS dan penutupan Selat Hormuz. Pasar tampaknya sudah ditinggalkan oleh investor yang mudah panik,” ujarnya.
Peran ETF Bitcoin Spot
Sentimen positif datang dari dana yang diperdagangkan di bursa (exchange traded fund/ETF) Bitcoin spot di Amerika Serikat. Pekan lalu, ETF Bitcoin mencatat arus masuk bersih (net inflow) sebesar US$197,4 juta, mengakhiri delapan pekan berturut-turut mengalami arus keluar dana.
Menurut De Maere, berakhirnya tren arus keluar ETF menjadi sinyal bahwa tekanan jual mulai berkurang.
Tekanan Jual Mereda, Pasar Belum Pulih
Analisis serupa disampaikan analis Nexo Dessislava Ianeva. Ia mengatakan data ETF selama 10 hari terakhir menunjukkan keseimbangan antara arus masuk dan keluar dana dengan hasil bersih yang masih positif.
Ia juga mengutip data Glassnode yang menunjukkan tekanan jual di pasar spot terus mereda. “Pada Juni, rata-rata penjualan bersih mencapai hampir 2.000 Bitcoin per hari, sedangkan pada Juli turun drastis menjadi sekitar 53 Bitcoin per hari, menjadi level terendah sepanjang 2026 di luar April.”
Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa pasar belum sepenuhnya pulih.
Kepala Analis Pasar FxPro Alex Kuptsikevich mengatakan pemulihan harga Bitcoin saat ini lebih banyak ditopang aktivitas perdagangan derivatif, bukan pembelian di pasar spot. “Permintaan Bitcoin memang mulai pulih, tetapi kenaikan masih didorong oleh investor ritel di pasar futures. Sementara itu, kondisi pasar spot masih belum cukup kuat,” ujarnya.
Kuptsikevich menilai tanpa kembalinya likuiditas pembelian yang solid di pasar spot, harga Bitcoin berpotensi bergerak mendatar dalam beberapa bulan ke depan.
Agenda Ekonomi yang Jadi Pengarah
Pelaku pasar juga masih menunggu sejumlah agenda ekonomi penting Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi arah pasar, termasuk rilis data inflasi Consumer Price Index (CPI) untuk Juni serta kesaksian pertama Ketua The Fed Kevin Warsh di hadapan Kongres AS pekan ini.
Kedua agenda tersebut diperkirakan akan menjadi penentu apakah pemulihan Bitcoin dapat berlanjut atau kembali tertahan oleh sentimen makroekonomi.
Ikuti Detak.media
