— Harga Bitcoin (BTC) melonjak pada perdagangan Rabu (15/7/2026) pagi setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) tercatat lebih rendah dari perkiraan pasar. Penurunan inflasi memicu harapan bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menempuh kebijakan suku bunga yang lebih longgar.

Kapitalisasi pasar kripto global naik 3,97% menjadi US$ 2,23 triliun dalam 24 jam terakhir, menurut data CoinMarketCap pada pukul 06.35 WIB. Harga Bitcoin tercatat menguat 4,46% ke level US$ 64.861,98 per koin atau sekitar Rp 1,17 miliar (kurs Rp 18.165 per dolar AS).

Indeks CoinDesk 20, yang menggambarkan kinerja 20 aset kripto terbesar, melesat 4,34%. Aset kripto lain juga bergerak tinggi: Ethereum naik 6,75% ke US$ 1.884, sementara Binance (BNB) terkerek 2,78% menjadi US$ 581.

Inflasi AS pada Juni tercatat 3,5% secara tahunan, lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 3,8%. Angka ini merupakan penurunan bulanan terbesar sejak April 2020.

Penurunan inflasi terutama didorong oleh melemahnya harga energi. Indeks energi turun 5,7% pada Juni setelah sebelumnya meningkat selama tiga bulan berturut-turut. Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS (Bureau of Labor Statistics/BLS), penurunan harga energi menjadi faktor terbesar yang menekan inflasi secara keseluruhan, meski harga kebutuhan lain seperti perumahan dan pangan masih mengalami kenaikan.

Respons pasar terhadap data inflasi ini langsung positif. Indeks-indeks saham Wall Street menguat, sementara aset kripto bergerak lebih tinggi karena pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed semakin kecil.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed bulan Juli turun tajam. Namun pasar masih memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan September. Ekonom Mohamed El-Erian menilai data inflasi tersebut membantu meredakan ekspektasi pasar yang sebelumnya terlalu agresif terhadap kebijakan moneter The Fed.

Waspadai Area Resistensi Bitcoin

Meski berhasil menembus level US$ 64.000, sejumlah analis menilai Bitcoin masih menghadapi tantangan untuk mempertahankan penguatannya.

Analis pasar yang menggunakan nama Exitpump mengatakan, lonjakan harga dipicu oleh aksi penutupan posisi jual (short covering) setelah data inflasi dirilis. “Pelaku pasar yang mengambil posisi jual mulai menutup transaksinya sehingga harga terdorong naik. Namun, pasar masih bergerak dalam pola konsolidasi,” ujarnya.

Data CoinGlass menunjukkan nilai likuidasi posisi short di pasar kripto dalam 24 jam terakhir mencapai lebih dari US$ 220 juta.

Sementara itu, analis lain, Killa, mengingatkan bahwa Bitcoin masih menghadapi area resistensi kuat di kisaran US$ 64.800. Menurutnya, apabila Bitcoin gagal bertahan di atas level pembukaan mingguan, reli saat ini berpotensi hanya menjadi kenaikan sementara sebelum kembali menguji area US$ 60.000.

“Kami akan mengamati tanda-tanda pelemahan apabila harga menembus level tertinggi lokal. Jika gagal bertahan, Bitcoin berpotensi kembali turun menuju US$ 60.000,” ujarnya.