Detak.media — Andry Hakim, investor muda sekaligus founder dan CIO Hakimson.id, mengatakan ia memulai investasi kripto sebelum beralih ke saham. Pernyataan itu disampaikannya dalam acara Money Lab, Investor Day 2026, yang berlangsung di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa, 30 Juni 2026.
Menurut Andry, pengalaman awal di dunia kripto membentuk pandangannya terhadap karakter aset tersebut, terutama dari sisi kesulitan memetakan harga ideal untuk melakukan transaksi.
“Sebelum saya masuk ke saham itu, saya masuk kripto di 2017. Jadi saya udah paham dulu dunia kripto. Saya tahu kripto itu ujungnya itu susah ya. Susahnya itu dia itu pure supply and demand tanpa ada fundamentalnya,” ujar Andry Hakim dalam acara tersebut.
Dia menjelaskan implikasi dari sifat pasar kripto itu terhadap strategi beli dan jual. Menurutnya, fluktuasi yang sulit diprediksi membuat investor sulit menentukan kapan harus masuk atau keluar posisi.
“Kalau naik enggak tahu naiknya sampai kapan untuk kita harus jual. Kalau turun itu gak tahu turunnya seberapa dalam baru kita boleh beli,” paparnya.
Perbandingan Dengan Saham
Andry membandingkan kondisi pasar kripto dengan pasar saham yang dinilai lebih mudah dianalisis secara fundamental. Di pasar saham, menurutnya, ada indikator yang membantu menilai harga wajar dan potensi pengembalian modal.
“Enaknya di saham itu atas sama bawahnya itu keliatan. Kalau di saham itu ada yang namanya PE dan BV. BV itu book value itu harga wajar perusahaan ini. Kalau PE itu harga berapa lama kita balik modal kalau beli saham ini di harga segini,” katanya.
Ikuti Detak.media
