Detak.media — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bergerak melemah pada perdagangan Rabu (15/7/2026). Meski sejumlah faktor eksternal memberi tekanan positif, sentimen domestik diperkirakan akan membatasi laju kenaikan indeks.
Penguatan bursa Wall Street dan kenaikan harga beberapa komoditas menjadi katalis positif. Namun, masuknya beberapa saham berbobot besar ke daftar HSC serta berlanjutnya aksi jual investor asing dipandang sebagai tekanan negatif terhadap IHSG.
“IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 5.980-5.920 dan resist 6.100-6.160,” tulis CGS International Sekuritas Indonesia dalam ulasan, Rabu (15/7/2026).
Pengaruh Data Inflasi AS dan Pergerakan Saham Semikonduktor
Pada perdagangan sebelumnya di Wall Street, indeks kompak menguat setelah data inflasi Juni menunjukkan penurunan jika dibandingkan periode sebelumnya. Penurunan inflasi ini menurunkan probabilitas kenaikan suku bunga acuan dari 42% menjadi 17%.
Biro Statistik Ketenagakerjaan Amerika mencatat penurunan inflasi bulan lalu sebagai yang terbesar dalam enam tahun terakhir, seiring turunnya harga minyak mentah. Inflasi Juni tercatat turun 0,4% mom/+3,8% yoy (vs sebelumnya +0,5% mom/+4,2% yoy), lebih rendah dari konsensus ekonom yang mengarapkan penurunan inflasi 0,2% mom dan +3,8% yoy.
Sejalan dengan penurunan angka inflasi, saham emiten semikonduktor yang sebelumnya melemah berhasil rebound. Hal ini mengangkat VanEch Semiconductor ETF sebesar 2,5%, didorong kenaikan harga saham beberapa emiten seperti Applied Material (3,5%), Teradyne (3,5%), Lam Research (4,9%), Micron Technology (4,9%) dan STMicroelectronics (2,4%).
Rekomendasi Saham untuk Trading
Dalam catatannya, CGS International Sekuritas Indonesia merekomendasikan enam saham untuk aktivitas trading pada Rabu (15/7/2026). Saham tersebut adalah ASII, INCO, ENRG, EXCL, MEDC, dan ELSA.
Ikuti Detak.media
