Detak.Media — Samsung dikabarkan akan menaikkan harga beberapa varian ponsel lipat generasi terbaru mereka, yakni Samsung Galaxy Z Fold 8 dan Samsung Galaxy Z Flip 8. Kenaikan ini disebut paling terasa pada model dengan kapasitas penyimpanan besar, terutama varian 1 TB.
Laporan terbaru dari media Korea Selatan, Newspim, mengungkap bahwa Samsung saat ini tengah menghadapi kenaikan biaya produksi komponen utama, termasuk chipset dan memori DRAM. Kondisi tersebut membuat perusahaan harus menyesuaikan strategi harga menjelang peluncuran foldable terbaru mereka.
Meski begitu, Samsung disebut masih berusaha mempertahankan harga model dasar agar tetap kompetitif di pasar smartphone premium.
Varian 512 GB dan 1 TB Diprediksi Lebih Mahal
Berdasarkan informasi yang beredar, model Galaxy Z Fold 8 dan Z Flip 8 dengan penyimpanan dasar kemungkinan tetap dijual di kisaran harga generasi sebelumnya. Namun, varian 512 GB hingga 1 TB diperkirakan mengalami kenaikan harga.
Samsung dalam beberapa tahun terakhir memang cenderung mempertahankan harga entry-level, sementara penyesuaian harga dilakukan pada model penyimpanan lebih tinggi. Strategi ini dianggap lebih aman untuk menjaga daya tarik produk di pasar global.
Sebagai gambaran, Galaxy Z Fold generasi sebelumnya dipasarkan mulai sekitar 1.999 dollar AS atau setara Rp 32,5 juta. Jika tren kenaikan berlanjut, maka varian tertinggi Galaxy Z Fold 8 berpotensi menembus harga yang lebih mahal lagi di segmen ultra-premium.
Sementara itu, lini Galaxy Z Flip 8 juga disebut bakal mengalami penyesuaian harga, meski kenaikannya diprediksi tidak sebesar seri Fold.
Harga Memori dan Chip AI Jadi Pemicu
Kenaikan harga perangkat foldable Samsung kali ini tidak lepas dari kondisi industri semikonduktor global. Permintaan tinggi terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI) membuat harga chip dan memori kembali mengalami lonjakan.
Harga DRAM dilaporkan meningkat dalam beberapa bulan terakhir karena produsen chip mulai mengalihkan fokus ke komponen untuk kebutuhan AI dan pusat data. Dampaknya ikut dirasakan industri smartphone premium, termasuk perangkat foldable.
Selain itu, biaya produksi ponsel lipat memang relatif lebih tinggi dibanding smartphone konvensional karena penggunaan panel fleksibel, engsel khusus, dan teknologi layar yang lebih kompleks.
Fold 8 Disebut Fokus pada Penyempurnaan
Di sisi spesifikasi, bocoran awal menyebut Samsung Galaxy Z Fold 8 kemungkinan tidak membawa perubahan besar secara desain. Samsung dikabarkan lebih fokus melakukan penyempurnaan dari generasi sebelumnya.
Sejumlah rumor menyebut pengurangan lipatan layar (crease) mungkin belum mengalami peningkatan signifikan dibanding seri sebelumnya. Hal ini menjadi perhatian karena kompetitor asal China mulai menawarkan perangkat foldable dengan lipatan layar yang lebih samar.
Selain itu, dukungan teknologi Privacy Display terbaru Samsung dan fitur S Pen juga disebut kemungkinan masih belum hadir di Galaxy Z Fold 8. Keputusan tersebut diduga berkaitan dengan efisiensi biaya produksi.
Samsung Hadapi Persaingan Foldable yang Semakin Ketat
Samsung hingga kini masih menjadi pemimpin pasar smartphone foldable global. Namun, persaingan mulai semakin ketat dengan hadirnya merek-merek asal China yang menawarkan desain lebih tipis, baterai lebih besar, dan harga lebih agresif.
Di saat yang sama, industri juga masih menantikan langkah Apple yang dirumorkan tengah menyiapkan iPhone lipat pertamanya, meski belum ada pengumuman resmi hingga saat ini.
Samsung diperkirakan akan memperkenalkan Galaxy Z Fold 8 dan Galaxy Z Flip 8 pada akhir Juli 2026 melalui acara Galaxy Unpacked yang kabarnya digelar di London.
Dengan potensi kenaikan harga tersebut, tantangan terbesar Samsung kini bukan lagi membuktikan bahwa ponsel lipat diminati pasar, melainkan memastikan konsumen merasa peningkatan yang ditawarkan sebanding dengan harga yang semakin tinggi.
Ikuti Detak.Media
