Motorola Razr Fold Siap Tantang Dominasi Samsung dalam Persaingan Ponsel Lipat
Motorola bersiap memasuki segmen ponsel lipat gaya buku (book-style) dengan peluncuran perangkat terbarunya, Motorola Razr Fold. Peluncuran ini menandai ambisi Motorola untuk menantang dominasi Samsung yang telah lama memimpin pasar foldable premium.
Perangkat baru ini diklaim akan membawa fitur-fitur canggih, integrasi kecerdasan buatan (AI), dan fokus pada peningkatan produktivitas pengguna. Kehadiran Motorola di pasar ini sangat strategis mengingat proyeksi pertumbuhan pasar ponsel lipat yang signifikan. Analis industri memprediksi pengiriman ponsel lipat akan meningkat sebesar 38 persen pada tahun 2026.
Berbeda dengan model Razr sebelumnya yang mengusung format clamshell atau lipat vertikal, Razr Fold akan mengadopsi format lipat horizontal yang membuka seperti buku catatan. Desain ini menawarkan pengalaman layar dalam yang lebih luas, sangat cocok untuk kebutuhan multitasking.
Ponsel ini diposisikan sebagai perangkat yang berorientasi pada produktivitas dan konsumsi media, berbeda dari daya tarik nostalgia Razr lama. Bocoran desain menunjukkan inspirasi dari paten Motorola yang menekankan fungsi multitasking untuk membedakannya dari pesaing seperti Samsung Galaxy Z Fold.
Fungsionalitas dan Kualitas Layar
Layar luar Razr Fold dikabarkan akan jauh lebih fungsional dibandingkan model Razr sebelumnya. Hal ini memungkinkan pengguna untuk berinteraksi cepat tanpa perlu membuka perangkat sepenuhnya.
Ketika dibentangkan, Razr Fold menawarkan pengalaman menyerupai tablet, memberikan efisiensi dalam paket yang ringkas. Kualitas pembuatan menjadi aspek penting, dengan perkiraan engsel yang lebih tahan lama dan profil yang lebih ramping dibandingkan beberapa foldable gaya buku lainnya.
Spesifikasi Premium dan Integrasi AI
Laporan awal mengindikasikan Razr Fold akan dilengkapi spesifikasi kelas premium. Layar utama disebut memiliki resolusi tinggi dengan refresh rate tinggi untuk performa mulus. Sistem kamera juga dikabarkan mengalami peningkatan signifikan, berpotensi menyaingi flagship non-lipat, dengan dukungan AI untuk fotografi dan videografi.
Motorola juga disebut akan memperkuat perangkat ini dengan integrasi AI, termasuk penggunaan Google Gemini AI yang sudah terlihat pada model Razr+ terbaru. Integrasi ini diharapkan mencakup asisten cerdas untuk meringkas informasi, pembuatan konten kreatif, dan fitur produktivitas khusus layar ganda.
Daya tahan baterai, yang kerap menjadi perhatian pada ponsel lipat, diyakini akan ditingkatkan melalui penggunaan chipset yang lebih efisien dan optimasi perangkat lunak.
Implikasi Strategis dan Harga Kompetitif
Langkah ini membawa implikasi strategis besar bagi Motorola. Perusahaan berupaya memadukan warisan merek Razr yang kuat dengan teknologi mutakhir. Keahlian perusahaan induknya, Lenovo, diharapkan menghadirkan sinergi tambahan, terutama dalam aspek produktivitas dan integrasi lintas perangkat.
Harga menjadi faktor penentu di pasar foldable yang kompetitif. Meski ponsel lipat gaya buku umumnya mahal, bocoran mengisyaratkan Razr Fold kemungkinan akan dipasarkan dengan harga lebih rendah dibandingkan pesaing utama. Strategi harga agresif ini berpotensi menjadikannya pilihan menarik bagi konsumen yang menginginkan inovasi ponsel lipat dengan biaya lebih terjangkau.
Menjelang CES 2026, spekulasi menguat bahwa Motorola akan melakukan pratinjau atau pengumuman resmi Razr Fold di ajang tersebut. Keberhasilan Razr Fold akan bergantung pada kualitas eksekusi, terutama dalam mengatasi tantangan umum ponsel lipat seperti keandalan engsel dan visibilitas lipatan layar.