Detak.Media — Peluncuran laptop Apple terbaru, MacBook Neo, pada Maret 2026, telah memicu lonjakan permintaan yang luar biasa hingga menyebabkan stok produk ini habis di pasaran global. Perangkat yang diposisikan sebagai Mac paling terjangkau dalam sejarah Apple ini, dengan harga mulai dari US$599, dilaporkan mencatatkan penjualan yang melampaui ekspektasi, menunda pengiriman pesanan hingga pertengahan Mei 2026. Fenomena ini menjadi indikasi kuat keberhasilan strategi Apple dalam merambah segmen pasar laptop murah yang selama ini didominasi oleh Chromebook dan laptop bersistem operasi Windows.
Sejak diperkenalkan pada 4 Maret 2026 dan mulai tersedia di pasaran pada 11 Maret, MacBook Neo langsung menarik perhatian konsumen. CEO Apple, Tim Cook, bahkan menyatakan pada 20 Maret 2026 bahwa Mac baru saja mencatatkan “minggu peluncuran terbaik yang pernah ada untuk pelanggan Mac pertama kali.” Namun, antusiasme pasar yang tinggi ini segera menimbulkan tantangan pasokan. Hanya berselang beberapa hari setelah peluncuran, laporan mulai menunjukkan stok MacBook Neo ludes terjual secara daring, dengan estimasi pengiriman yang mundur ke bulan April 2026.
Puncaknya, pada 21 April 2026, dilaporkan bahwa seluruh stok MacBook Neo untuk periode April 2026 telah habis terjual. Akibatnya, pesanan baru harus menunggu hingga Mei 2026 untuk dapat dikirimkan, dengan perkiraan keterlambatan pengiriman mencapai dua hingga tiga minggu karena tingginya permintaan yang terus berlanjut.
Di Indonesia, MacBook Neo telah resmi mengantongi sertifikasi dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) pada 8 April 2026 (nomor model A3404), menandakan kesiapan produk ini untuk memasuki pasar domestik. Meskipun demikian, belum ada pengumuman resmi mengenai jadwal rilis pasti maupun harga spesifik di tanah air. Perkiraan harga di Indonesia berkisar antara Rp10 juta hingga Rp12.975.000 untuk varian dasar 256GB.
Keberhasilan MacBook Neo ini tidak lepas dari penggunaan chip Apple A18 Pro, yang sama dengan yang digunakan pada iPhone 16 Pro. Chip ini menjadi jantung dari laptop yang juga dilengkapi layar Liquid Retina 13 inci, RAM 8GB, dan pilihan penyimpanan SSD 256GB atau 512GB. Tersedia dalam empat pilihan warna menarik: Silver, Blush, Citrus, dan Indigo, serta diklaim memiliki daya tahan baterai hingga 16 jam pemutaran video, perangkat ini menawarkan nilai yang sulit ditolak di kelas harganya.
Namun, di balik kesuksesan fenomenal ini, Apple menghadapi dilema serius terkait ketersediaan stok chip A18 Pro. Analis Tim Culpan melaporkan bahwa stok chip yang “didaur ulang” atau “binned” dari sisa produksi iPhone 16 Pro ini mulai menipis lebih cepat dari perkiraan. Kondisi ini memaksa Apple untuk mempertimbangkan opsi produksi chip A18 Pro baru dengan biaya yang lebih tinggi, yang berpotensi memangkas margin keuntungan atau bahkan berujung pada penyesuaian harga MacBook Neo.
Strategi Apple dalam menggunakan chip yang memiliki cacat minor (satu inti GPU dinonaktifkan) untuk menekan biaya produksi terbukti jitu dalam menargetkan segmen pasar yang sensitif terhadap harga, seperti pelajar dan pekerja dengan anggaran terbatas. Meskipun demikian, untuk mencapai harga kompetitif, beberapa spesifikasi juga dikompromikan, seperti tidak adanya backlit keyboard pada edisi standar dan penggunaan trackpad mekanis “jadul” tanpa fitur Force Touch.
Firma riset pasar TrendForce memprediksi Apple berpotensi menjual sekitar empat hingga lima juta unit MacBook Neo tahun ini. Namun, kelancaran pencapaian target tersebut akan sangat bergantung pada kemampuan Apple dalam mengatasi kendala pasokan chip A18 Pro di tengah tingginya permintaan global yang terus mengalir.
Ikuti Detak.Media
