Detak.media — S&P Global Ratings memperkirakan perekonomian Indonesia akan tumbuh 5,1% pada 2026, menegaskan prospek pertumbuhan yang tetap kuat meski ketidakpastian global meningkat. Proyeksi itu disampaikan bersamaan dengan keputusan lembaga pemeringkat tersebut mempertahankan peringkat kredit Indonesia.
Dalam pengumuman yang dirilis pada Senin (13/7/2026), S&P mempertahankan sovereign credit rating Indonesia di level BBB atau investment grade untuk utang jangka panjang dan A-2 untuk utang jangka pendek, serta mempertahankan outlook di level stabil.
Menurut S&P, peringkat tersebut mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi Indonesia, kebijakan makroekonomi yang umumnya bijaksana, serta beban utang luar negeri dan pemerintah bersih yang relatif ringan dibandingkan negara-sebanding.
“Peringkat kami terhadap Indonesia mencerminkan prospek pertumbuhan ekonomi yang kuat, kebijakan makroekonomi yang umumnya bijaksana, dan beban utang luar negeri dan pemerintah bersih yang relatif ringan dibandingkan dengan negara-negara sebanding,” tegas S&P.
Lembaga pemeringkat itu memperkirakan pertumbuhan Indonesia akan stabil di sekitar 5% per tahun dalam dua hingga tiga tahun ke depan, meski harga energi tetap tinggi. Dukungan pertumbuhan disebutkan berasal dari kebijakan hilirisasi yang meningkatkan kinerja ekspor serta ekspansi belanja pemerintah.
Dalam laporannya S&P mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,6% secara tahunan (year on year/yoy) pada triwulan I-2026. Kinerja itu didorong peningkatan konsumsi masyarakat terkait periode mudik dan Idulfitri, serta percepatan realisasi belanja pemerintah pada awal tahun.
Namun pasar keuangan domestik mengalami tekanan sepanjang semester I-2026. S&P mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kehilangan lebih dari 30% kapitalisasi pasar, sementara nilai tukar rupiah melemah sekitar 7% terhadap dolar AS.
S&P menilai perbedaan antara kinerja sektor riil dan pasar keuangan merefleksikan meningkatnya ketidakpastian dari faktor eksternal dan domestik. Meskipun dampak kebijakan tarif Amerika Serikat mulai mereda, lembaga itu menyebut munculnya risiko baru akibat konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz yang menambah kerentanan bagi perekonomian Indonesia.
S&P menjelaskan Indonesia masih merupakan importir bersih minyak mentah dan produk olahan minyak. Di sisi lain, Indonesia menjadi eksportir bersih gas alam cair (LNG) dan berbagai komoditas seperti batu bara, minyak sawit mentah (CPO), nikel, bauksit, dan tembaga. Namun, kenaikan harga komoditas ekspor tersebut dinilai belum mampu mengimbangi lonjakan harga minyak dunia.
“Akibatnya, neraca perdagangan Indonesia memburuk sejak Maret, dengan harga bahan bakar dan pakan ternak yang lebih tinggi memengaruhi banyak sektor ekonomi,” ungkap S&P.
Mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, termasuk ketidakpastian global yang berlanjut dan kenaikan suku bunga domestik setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan, S&P menilai pertumbuhan 5,1% pada 2026 mencerminkan normalisasi setelah laju pertumbuhan relatif tinggi pada triwulan I-2026.
“Kami memperkirakan pertumbuhan rata-rata 4,9% per tahun dari tahun 2026 hingga 2029,” tandas S&P.
Ikuti Detak.media
