Detak Media — Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada sesi perdagangan Selasa (30/6/2026). Mata uang Garuda tercatat melemah 57 poin atau 0,32% ke level Rp17.908 per dolar Amerika Serikat.
Penurunan ini berlangsung seiring penguatan dolar AS yang dipicu meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan semula.
Tekanan Didominasi Faktor Eksternal
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, mengatakan tekanan terhadap rupiah pada perdagangan pagi lebih banyak disebabkan faktor eksternal dibandingkan perubahan fundamental domestik.
Menurut Fakhrul, penguatan dolar mendorong investor global menyesuaikan portofolio mereka ke aset berbasis dolar, sehingga memberi tekanan pada hampir seluruh mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
“Penguatan dolar AS terjadi seiring meningkatnya ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Kondisi ini membuat investor kembali memburu aset berbasis dolar,” ujar Fakhrul.
Fundamental Domestik Dinilai Tetap Solid
Fakhrul menilai kondisi fundamental ekonomi Indonesia relatif terjaga, sehingga pelemahan rupiah saat ini lebih mencerminkan penyesuaian ekspektasi pasar daripada memburuknya kondisi ekonomi nasional.
“Belum terdapat perubahan fundamental yang signifikan. Justru beberapa indikator makro Indonesia masih relatif terjaga. Karena itu, pelemahan yang terjadi lebih merupakan penyesuaian ekspektasi pasar,” katanya.
Prospek Jangka Pendek
Meski tertekan, Fakhrul memperkirakan dampak terhadap rupiah bersifat sementara. Setelah kebijakan moneter The Fed lebih jelas dan keyakinan pasar terhadap prospek ekonomi domestik pulih, rupiah berpeluang menguat kembali.
Ia menjelaskan ekspektasi pasar masih menjadi penggerak utama pergerakan nilai tukar. Ketika ketidakpastian global mereda, tekanan terhadap rupiah diperkirakan berangsur menurun.
“Secara keseluruhan, peluang penguatan rupiah masih terbuka setelah fase penyesuaian ekspektasi ini berlalu,” ujar Fakhrul.
Untuk perdagangan hari itu, Fakhrul memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.850–Rp17.950 per dolar AS, dengan kemungkinan penutupan pada rentang Rp17.880–Rp17.920, bergantung perkembangan sentimen global sepanjang sesi.
Ikuti Detak Media
