— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh tajam pada sesi I perdagangan Selasa, 30 Juni 2026. Pelemahan ini tercatat sebesar 141 poin atau 2,42%, membawa IHSG ke level 5.679.

Penurunan dipicu kombinasi sentimen negatif dari dalam dan luar negeri, yang mendorong investor memilih strategi wait and see menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting.

Sentimen Global dan Dampaknya

Di pasar global, perhatian mengarah pada rencana dilanjutkannya pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran di Doha, Qatar. Meskipun terdapat kesepakatan penghentian sementara aksi militer di Selat Hormuz, pasar masih mempertahankan kewaspadaan.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas mencatat, ketidakpastian meningkat setelah Iran menegaskan akan tetap mengawasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz. “Kondisi itu membuat investor tetap berhati-hati meski Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan negosiasi damai akan kembali dilanjutkan,” tulis Pilarmas dalam risetnya.

Di sisi lain, aktivitas ekonomi China menunjukkan perbaikan. Data menunjukkan PMI manufaktur Juni naik menjadi 50,3 dari 50,0, sedangkan PMI non-manufaktur meningkat menjadi 50,2 dari 50,1. Peningkatan ini didukung oleh permintaan ekspor sektor teknologi dan suntikan likuiditas dari People’s Bank of China sebesar 300 miliar yuan melalui operasi reverse repo.

Namun, menurut Pilarmas, sentimen positif dari China belum berhasil mendorong kembali minat beli di pasar saham domestik.

Sentimen Domestik Membebani

Pilarmas menilai tekanan terbesar terhadap IHSG justru datang dari faktor domestik. Investor menahan transaksi menunggu data ekonomi dan hasil evaluasi indeks MSCI yang berpotensi memengaruhi aliran dana asing.

Pasar juga terkejut oleh terbitnya aturan yang memberikan perlindungan hukum menyeluruh bagi pembeli obligasi yang diterbitkan Badan Pengelola Investasi Danantara. Kebijakan ini menimbulkan kekhawatiran terkait tata kelola dan transparansi, sehingga mendorong kehati-hatian investor asing.

“Sentimen tinjauan MSCI dan regulasi baru terkait Danantara menjadi perhatian pasar karena menimbulkan kekhawatiran terhadap tata kelola dan transparansi. Kondisi ini mendorong terjadinya outflow dana investor asing,”

Tekanan jual muncul di hampir seluruh sektor pada sesi I. Saham-saham dengan kenaikan terbesar di antaranya PEGE, AYLS, MGNA, BOBA, dan ENAK. Sementara itu, MMIX, PANS, RGAS, COCO, dan OILS tercatat mengalami pelemahan terdalam.

Meski koreksi tajam, Pilarmas masih melihat peluang pada saham PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU). Sekuritas tersebut merekomendasikan buy dengan area support di level 4.240 dan resistance di level 5.250.