Detak Media — Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada pembukaan perdagangan Rabu, 1 Juli 2026. Pada pasar spot exchange pukul 09.05 WIB, rupiah tercatat dibuka turun 37 poin atau 0,21% ke level Rp 17.944 per dolar AS.
Sebelumnya, pada penutupan Selasa, 30 Juni 2026, rupiah tercatat melemah 55 poin ke Rp 17.906 per dolar AS. Pelemahan awal hari ini sejalan dengan penguatan indeks dolar yang tercatat naik 0,13% ke tingkat 101,323.
Tekanan Dari Pelemahan Yen dan Mata Uang Regional
Pelemahan rupiah mendapat tekanan dari pergerakan mata uang regional. Yen Jepang menyentuh level terendah dalam 40 tahun pada sesi awal perdagangan Asia, mencapai 162,77 per dolar AS.
Selain yen, dolar Australia melemah 0,18% menjadi 0,6907 dolar AS, sedangkan dolar Selandia Baru turun 0,04% ke 0,5674 dolar AS. Euro tercatat turun 0,07% ke 1,1413 dolar AS dan poundsterling melemah 0,09% ke 1,3252 dolar AS.
Sentimen Menjelang Data Tenaga Kerja AS
Kondisi pasar saat ini juga dipengaruhi oleh kewaspadaan pelaku pasar menjelang rilis data penggajian non-pertanian Amerika Serikat yang dijadwalkan akhir pekan ini. Laporan terakhir menunjukkan kenaikan lowongan pekerjaan AS ke level tertinggi dua tahun pada Mei 2026, meski perekrutan yang lebih lemah mempengaruhi pandangan terhadap pasar tenaga kerja.
Menanggapi potensi intervensi untuk menopang mata uang, Chidu Narayanan, kepala strategi makro APAC di Wells Fargo, mengatakan, “Kami yakin kami hampir mencapai potensi tindakan.”
Di sisi lain, Ray Attrill, kepala strategi FX di National Australia Bank, menyoroti kekuatan pasar tenaga kerja AS dalam konteks kebijakan moneter. “Semua bukti dan pandangan The Fed sendiri menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja terbukti tangguh, dan oleh karena itu, dalam hal mandat ganda The Fed, pasar tenaga kerja jelas tidak memberikan sinyal apa pun bahwa mereka harus mempertimbangkan untuk memangkas suku bunga,” kata Attrill.
Ikuti Detak Media
