Detak Media — Nilai tukar rupiah diperkirakan kembali rentan melemah pada perdagangan Rabu, 1 Juli 2026. Pergerakan mata uang domestik dipengaruhi oleh sentimen eksternal dan data ekonomi yang dinantikan pasar.
Pada penutupan perdagangan Senin sore (30/6/2026), rupiah tercatat melemah 55 poin ke level Rp 17.906 per dolar AS, setelah sempat bergerak hingga melemah 60 poin di posisi Rp 17.851.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan fluktuasi rupiah pada perdagangan berikutnya dengan kisaran penutupan antara Rp 17.900 hingga Rp 17.950. “Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.900 – Rp 17.950,” katanya dalam keterangan tertulis pada Selasa (30/6/2026).
Adapun analis di Bank Woori Bersaudara memperkirakan rupiah akan melemah pada rentang Rp 17.850–17.920. Proyeksi ini dipengaruhi oleh penguatan indeks dolar AS yang berada di level 101,2.
Faktor Eksternal dan Data Makro
Ibrahim menyatakan salah satu pemicu pelemahan rupiah adalah fokus pasar terhadap hasil pembicaraan perdamaian antara AS dan Iran di Doha, Qatar. Selain itu, keyakinan pasar bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga turut memberikan tekanan pada mata uang domestik.
“Sentimen tentang keyakinan yang semakin menguat bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga juga turut melemahkan rupiah. Hal ini terjadi setelah bank sentral menunjukkan sikap hawkish selama pertemuan Juni, dengan beberapa pembuat kebijakan terlihat menyerukan kenaikan suku bunga,” ujar Ibrahim.
Pasar juga menunggu rilis data ketenagakerjaan AS bulan Juni, yakni Nonfarm Payrolls (NFP), yang dijadwalkan rilis pada hari Kamis. Pergerakan data tersebut dinilai memiliki potensi memengaruhi arah penguatan dolar AS dan tekanan terhadap mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Sentimen Dari Dalam Negeri
Dari sisi domestik, rupiah melemah di tengah penantian pasar terhadap rilis data neraca perdagangan Indonesia untuk bulan Mei. Kondisi ini menyusul defisit transaksi berjalan dan pelebaran anggaran pada April sebelumnya.
“Surplus perdagangan yang menyusut, dinilai akan memberikan tekanan terhadap defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) pada tahun ini. Kondisi tersebut berpotensi memperlemah ketahanan eksternal dan meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah jika tidak diimbangi oleh masuknya aliran modal asing,”
Menurut Ibrahim, kombinasi tekanan eksternal dan indikator domestik yang kurang menguntungkan meningkatkan risiko pelemahan rupiah dalam jangka pendek jika aliran modal asing tidak kembali masuk.
Ikuti Detak Media
