— JAKARTA, Gobel Group merayakan warisan kepemimpinan dan nilai-nilai luhur yang ditinggalkan oleh Chairman mereka, Rachmat Gobel, yang berpulang sepekan lalu. Kepergiannya menyisakan duka mendalam bagi keluarga, karyawan, dan masyarakat luas, yang mengenangnya sebagai sosok visioner yang memprioritaskan kepedulian sosial, kerja keras, dan keberlanjutan lintas generasi.

Ribuan ucapan belasungkawa membanjiri media sosial dan ruang publik, menyoroti sosok Rachmat Gobel tidak hanya sebagai pengusaha ulung, tetapi juga pribadi yang sederhana dan peduli terhadap berbagai lapisan masyarakat. Bagi Gobel Group, peninggalan terbesarnya bukan sekadar jaringan bisnis yang kokoh, melainkan nilai-nilai kepemimpinan, pengabdian, dan tanggung jawab sosial yang menjadi fondasi kuat bagi kelangsungan perusahaan.

President Director dan Group CEO Gobel Group, Hiramsyah S. Thaib, menyatakan bahwa Rachmat Gobel telah meninggalkan warisan budaya organisasi dan landasan yang tak ternilai. “Kami kehilangan seorang pemimpin yang memberikan teladan dan inspirasi. Namun, Bapak Rachmat Gobel juga telah mempersiapkan fondasi perusahaan, budaya, dan nilai-nilai yang menjadi pedoman seluruh keluarga besar Gobel Group,” ujar Hiramsyah.

Ia menambahkan, menjaga nilai-nilai tersebut dan meneruskan cita-cita perusahaan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat adalah cara terbaik menghormati perjalanan hidup Rachmat Gobel.

Filosofi Pohon Pisang sebagai Pedoman

Salah satu nilai fundamental yang mengakar kuat dalam perjalanan Gobel Group adalah filosofi pohon pisang, yang pertama kali diperkenalkan oleh pendiri Thayeb Mohammad Gobel. Filosofi ini menggambarkan pohon pisang yang hampir seluruh bagiannya bermanfaat bagi kehidupan manusia, serta siklus hidupnya yang diakhiri dengan menumbuhkan tunas baru.

Makna filosofis ini menekankan pentingnya kebermanfaatan dan regenerasi. Rachmat Gobel meneruskan semangat ini dalam mengembangkan Gobel Group, memandang keberlanjutan perusahaan tidak hanya dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari kemampuan membangun organisasi, mengembangkan sumber daya manusia, dan menyiapkan generasi penerus yang kompeten.

Prinsip ini telah membentuk budaya perusahaan yang mendorong karyawan untuk terus bertumbuh, berinovasi, dan melihat pekerjaan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.

Regenerasi sebagai Kunci Keberlanjutan

Saat ini, Gobel Group mengelola lebih dari 25 entitas bisnis dengan lebih dari 18.000 karyawan. Di tengah dinamika perkembangan tersebut, perusahaan menempatkan regenerasi sebagai elemen krusial untuk menjaga kesinambungan organisasi. Regenerasi di sini dipahami sebagai proses mendalam yang mencakup penanaman nilai, pembentukan karakter, dan pemberian pengalaman berharga bagi calon penerus.

M. Arif Rachmat Gobel, putra almarhum Rachmat Gobel, telah melalui proses pembelajaran intensif sejak usia muda. Pengenalan terhadap operasional perusahaan dimulai sejak SMP melalui magang di pabrik dan pengalaman tinggal di asrama karyawan. Pendidikan lanjutannya di Jepang serta pengalaman karier yang dimulai dari divisi penjualan, memberikannya pemahaman komprehensif tentang bisnis.

Proses ini mencerminkan pandangan Rachmat Gobel bahwa seorang pemimpin harus memahami operasional dari akar rumput, merasakan kehidupan karyawan, dan memiliki semangat belajar yang tak pernah padam. “Ayahanda selalu mengajarkan bahwa perusahaan tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari manfaat yang diberikan kepada masyarakat,” ungkap Arif.

Arif menegaskan bahwa kepemimpinan adalah amanah yang harus dijalankan dengan kerendahan hati dan keberanian untuk mempersiapkan estafet kepemimpinan berikutnya. Sepeninggal Rachmat Gobel, Gobel Group bertekad melanjutkan visi perusahaan dengan memperkuat tata kelola, mendorong inovasi, dan mengembangkan talenta lintas generasi.

Nilai kebermanfaatan yang diwariskan oleh Thayeb Mohammad Gobel dan diteruskan oleh Rachmat Gobel menjadi pengingat abadi bahwa keberlanjutan perusahaan tidak semata-mata ditentukan oleh usia atau skala usaha, melainkan oleh kemampuan menjaga integritas nilai dan menyiapkan generasi penerus yang siap membawa tongkat estafet.