Detak.media — JAKARTA, investor.id – Investor asing menunjukkan minat tinggi pada saham-saham unggulan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat, 17 Juli 2026. Tiga saham perbankan besar tercatat paling banyak diborong, yaitu PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).
Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, saham BBCA menjadi primadona dengan mencatatkan transaksi beli bersih (net buy) senilai Rp 698,29 miliar di pasar reguler. Posisi kedua ditempati oleh saham BMRI dengan net buy sebesar Rp 374,8 miliar, disusul oleh BBRI yang meraih net buy Rp 267,69 miliar.
Sementara itu, saham PT Astra International Tbk (ASII) menjadi saham yang paling banyak dilepas oleh investor asing, dengan mencatat transaksi jual bersih (net sell) mencapai Rp 162,5 miliar.
Secara keseluruhan, investor asing membukukan net buy sebesar Rp 638,5 miliar di seluruh pasar pada hari yang sama. Dengan tambahan ini, total net sell investor asing sepanjang tahun berjalan mencapai Rp 75,7 triliun.
Di tengah aktivitas pasar tersebut, Kiwoom Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA. Analisis sekuritas tersebut menggunakan pendekatan valuasi gabungan, mengombinasikan metode price to book value (P/BV) dan dividend discount model (DDM). Kiwoom Sekuritas menetapkan target harga saham BBCA untuk 12 bulan ke depan di angka Rp 8.075.
Target harga ini mencerminkan proyeksi P/BV 2026 sebesar 3,3 kali, yang sedikit lebih rendah dibandingkan rata-rata P/BV tiga tahun terakhir yang mencapai 3,4 kali. Potensi risiko utama yang perlu diwaspadai adalah tekanan pada net interest margin (NIM) yang berlangsung lebih lama, pertumbuhan kredit yang lebih lambat dari perkiraan, serta kondisi ekonomi makro yang kurang mendukung.
Performa BBCA pada kuartal I-2026 menunjukkan ketahanan laba yang solid. Laba bersih perseroan mencapai Rp 14,7 triliun, menandai pertumbuhan 3,8% secara tahunan (yoy) dan 3,8% secara kuartalan (qoq). Pertumbuhan laba ini ditopang oleh peningkatan pendapatan non-bunga dan pengendalian biaya yang disiplin, meskipun NIM tercatat turun menjadi 5,4%.
Pertumbuhan kredit BBCA memang melambat, namun dari sisi pendanaan, bank ini tetap menunjukkan kekuatan. Total kredit yang disalurkan mencapai Rp 993,8 triliun, meningkat 5,6% yoy dan 0,1% qoq. Kenaikan ini terutama didorong oleh segmen kredit korporasi, komersial, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ikuti Detak.media
