Malo Gusto Bela Liam Rosenior, Sebut Sang Pelatih Top Meski Tuai Banyak Kritikan
Bek sayap Chelsea, Malo Gusto, menyatakan pembelaannya terhadap manajer Liam Rosenior yang belakangan ini kerap menerima kritik. Gusto menegaskan bahwa ia tidak memahami alasan di balik penilaian negatif tersebut, seraya memuji kualitas Rosenior sebagai pelatih maupun pribadi.
Menurut Gusto, Liam Rosenior adalah sosok pelatih yang luar biasa. Ia merasa beruntung bisa bekerja di bawah arahan Rosenior sejak sang pelatih mengambil alih kemudi tim di Stamford Bridge. Gusto menambahkan bahwa Rosenior memiliki semangat dan gairah yang kuat dalam sepak bola, yang menular kepada para pemainnya.
“Saya pikir dia (Rosenior) adalah pelatih top. Saya melihat banyak orang mengkritiknya. Saya telah bekerja dengannya cukup lama sejak dia bergabung dengan Chelsea,” ujar Gusto, dilansir dari bola.net.
“Saya pikir dia adalah orang yang hebat terlebih dahulu, seorang manajer yang hebat. Dia ingin berbagi semangatnya untuk sepak bola dengan kami, dan saya merasa ingin bermain untuknya.”
Pernyataan Gusto ini muncul di tengah periode di mana Chelsea masih berjuang untuk menemukan konsistensi di bawah asuhan Liam Rosenior. Meskipun demikian, bek asal Prancis ini yakin bahwa pelatihnya memiliki kualitas yang dibutuhkan untuk membawa tim meraih kesuksesan.
Performa Gusto dan Kritik Terhadap Chelsea
Malo Gusto sendiri telah menjadi salah satu pemain yang cukup sering dimainkan di bawah Liam Rosenior pada musim 2025/2026. Hingga saat ini, ia telah mencatatkan 2 gol dan 3 assist dalam 1.744 menit bermain di Premier League, dengan rata-rata rating FotMob 6.96. Penampilannya secara umum dinilai cukup baik, bahkan ia disebut memiliki skor tinggi dalam kategori gol, assist, dan jumlah penampilan dibandingkan dengan bek kanan lain di Premier League.
Namun, performa individu Gusto tidak selalu berbanding lurus dengan hasil tim. Chelsea sendiri masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk tersingkirnya mereka dari Liga Champions oleh Paris Saint-Germain dengan agregat 8-2. Situasi ini memicu berbagai komentar dan kritik, termasuk dari mantan pemain seperti Roy Keane yang menilai para pemain kunci seperti Enzo Fernandez seharusnya bertanggung jawab atas keputusan mereka menandatangani kontrak jangka panjang dengan klub.
Konteks Kritik dan Pembelaan
Kritik terhadap Chelsea tidak hanya ditujukan kepada pelatih, tetapi juga kepada manajemen dan para pemain. Enzo Fernandez, misalnya, sempat mengungkapkan kekecewaannya terhadap pemecatan Enzo Maresca, yang disebutnya “menyakiti” tim. Fernandez juga mengkritik hierarki klub atas peran mereka dalam kepergian Maresca. Hal ini menimbulkan spekulasi mengenai masa depan Fernandez di Stamford Bridge, meskipun kontraknya masih tersisa enam tahun.
Axel Disasi, bek tengah yang sempat dipinjamkan ke Aston Villa dan kemudian berlatih terpisah dari tim utama (dikenal sebagai ‘bomb squad’), juga mengungkapkan pengalamannya yang sulit di Chelsea sebelum akhirnya dipinjamkan ke West Ham United. Disasi menggambarkan periode tersebut sebagai masa yang “sangat sulit” dan “gila”, namun ia tetap bersyukur atas dukungan keluarga yang membantunya bertahan.
Harapan di Sisa Musim
Di tengah berbagai gejolak tersebut, pembelaan Malo Gusto terhadap Liam Rosenior menunjukkan adanya dukungan kuat dari para pemain terhadap pelatihnya. Gusto percaya bahwa dengan kualitas yang dimiliki Rosenior dan semangat juang tim, Chelsea dapat mengatasi kritik yang ada dan meraih hasil yang lebih baik di sisa musim.
Meskipun Chelsea menghadapi tantangan berat, termasuk upaya untuk mengamankan kualifikasi Liga Champions, para pemain seperti Gusto tetap optimistis. Mereka bertekad untuk membuktikan diri dan meraih trofi, seperti yang pernah diungkapkan Gusto setelah memenangkan Piala Super Italia, di mana ia menyatakan bahwa tim ingin membungkam para peragu yang menganggap mereka terlalu muda atau belum berpengalaman.