— Berikut rangkuman lima berita paling populer hingga Selasa, 14 Juli 2026, seputar pasar modal, harga emas perhiasan, dan aksi korporasi yang menarik perhatian investor.

Daftar ini memuat transaksi saham di pasar negosiasi, pergerakan harga emas perhiasan, aktivitas net sell investor asing, prospek saham sektor kilang, serta gelombang rights issue yang berlangsung pada Juli 2026.

Grup Djarum Kian Mencengkram

Terjadi transaksi saham PT Bach Multi Global Tbk (BACH) di pasar negosiasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (14/7/2026).

Mengacu data RTI per pukul 10.20 WIB, tercatat 10.422.273 lot saham BACH ditransaksikan di pasar nego BEI di harga Rp 442 per saham dengan frekuensi 1 kali. Nilai keseluruhannya Rp 460,7 miliar.

Saat berita ini disusun, belum ada keterangan resmi terkait transaksi saham Bach Multi Global di pasar negosiasi BEI tersebut.

Harga Emas Perhiasan Kokoh

Harga emas perhiasan terpantau bergerak solid di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi dan Laku Emas pada Selasa pagi, 14 Juli 2026.

Dengan tren yang terus bergerak dinamis, calon pembeli maupun investor emas perhiasan disarankan untuk terus memantau harga agar bisa mengambil keputusan terbaik, baik untuk membeli maupun menjual emas.

Cek daftar harga emas perhiasan berdasarkan data dari Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai kadar karat pada Selasa (14/7/2026) di sini.

Asing Depak Dua Saham Bank

Investor asing mencatatkan transaksi jual bersih (“net sell”) sebesar Rp 501,4 miliar pada perdagangan saham sesi I di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (14/7/2026).

Asing bermanuver dengan melakukan aksi jual di saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).

Aksi di pasar reguler itu terjadi saat harga saham BBRI dan BMRI melemah.

Saham Prajogo Diprediksi Beri Cuan Besar

PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) kini membukukan mayoritas pendapatan dalam dolar AS, setelah mengakuisisi Aster, perusahaan kilang minyak dan kimia di Singapura. Ini akan pendorong saham TPIA yang memiliki target harga tinggi.

Berdasarkan catatan Sucor Sekuritas, margin kilang Aster menyentuh titik tertinggi pada Maret 2026, sebesar US$30 per barel, saat eskalasi perang Timur Tengah memuncak. Namun, pada Mei lalu, margin menurun menjadi US$17,3 barel (light sweet) dan US$16,6 per barel (medium sour), karena eskalasi perang menurun.

Sucor Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy saham TPIA dengan target harga tidak berubah. Artinya, potensi cuan saham yang dikendalikan Grup Barito, kelompok usaha taipan Prajojo Pangestu, sangat besar, mencapai 221%.

Ramai Rights Issue, Ada Keterlibatan Konglomerat

BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) merangkum sejumlah emiten yang menggelar aksi penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD atau “rights issue”) di Juli 2026 hingga Senin (13/7/2026) kemarin.

Dalam rangkuman BRIDS, setidaknya tujuh emiten melancarkan rights issue pada bulan ini. Di antara PT Singaraja Putra Tbk (SINI) dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR).

Bertindak sebagai standby buyer rights issue SINI adalah PT Petrosea Tbk (PTRO), emiten konglomerat Prajogo Pangestu. Sedangkan BNBR sendiri merupakan emiten Grup Bakrie.