Detak.media — Di balik tampilan anggun kebaya terdapat sejarah panjang yang melampaui sekadar perkembangan mode. Menurut desainer Lenny Agustin, kebaya modern yang kini hadir di peragaan, acara kenegaraan, dan momen masyarakat adalah produk proses sejarah, negosiasi budaya, dan transformasi estetika selama puluhan tahun.
Pemaparan itu disampaikan Lenny saat sidang disertasi doktor berjudul “Kebaya Modern sebagai Busana Nasional Wanita Indonesia pada Era Orde Baru: Relasi Kuasa, Politik Kebudayaan, dan Tubuh Perempuan” di Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Rabu (8/7/2026).
“Penelitian mengenai kebaya telah lama menjadi cita-cita akademik sejak jenjang S1 dan S2 di Institut Kesenian Jakarta. Namun, pada masa itu para pembimbing menyarankan agar gagasan tersebut disimpan hingga jenjang pendidikan yang lebih tinggi, mengingat penelitian kebaya membutuhkan energi, perhatian, dan kedalaman riset yang tidak sederhana. Kesempatan tersebut akhirnya datang pada jenjang S3 di Fakultas Ilmu Budaya Program Studi Ilmu Sejarah, Universitas Indonesia,” kata Lenny Agustin.
Selama berkarya sebagai desainer, Lenny dikenal konsisten mengolah kebaya dalam bentuk modern. Pilihan itu dilatarbelakangi keprihatinan atas minimnya kajian sejarah mode Indonesia.
“Pemilihan bidang sejarah didorong oleh keprihatinan terhadap minimnya kajian sejarah mode Indonesia. Selama menempuh pendidikan mode di tiga sekolah mode pada era 1990-an, hampir seluruh materi sejarah yang dipelajari berfokus pada sejarah mode Barat. Hingga kini pun, saya melihat belum tersedia secara memadai materi sejarah mode Indonesia bagi pelajar dan mahasiswa bidang mode. Karena itu, memandang penting untuk mulai menghadirkan riset-riset ilmiah mengenai sejarah pakaian di Indonesia, mengingat kekayaan tradisi berpakaian dan dinamika perkembangan mode yang sangat kuat di negeri ini,” tutur Lenny.
Modernisasi Kebaya di Era Orde Baru
Lenny menegaskan bahwa proses modernisasi kebaya lebih kompleks daripada sekadar adaptasi estetik. Pada masa Orde Baru, kebaya mengalami penataan ulang estetika sehingga tampil lebih seragam dan diterima sebagai representasi perempuan Indonesia.
“Transformasi tersebut bukan berarti meninggalkan akar tradisi ataupun meniru busana Barat, melainkan menggabungkan nilai-nilai lokal dengan semangat modernitas yang berkembang saat itu,” jelas Lenny.
Menurut penelitiannya, kebaya telah menjadi simbol nasional jauh sebelum Orde Baru—mulai masa pergerakan nasional hingga era Presiden Soekarno—tetapi pada periode itu berbagai bentuk busana Barat dan ragam kebaya daerah tetap berdampingan sehingga belum ada satu bentuk yang benar-benar dipahami sebagai busana nasional.
Perubahan signifikan terjadi ketika negara menjadikan kebaya bagian dari proyek pembangunan identitas bangsa. Negara memperkenalkan kebaya dalam acara resmi dan membangun citra ideal penampilan perempuan melalui organisasi perempuan, media massa, pendidikan, acara kenegaraan, kontes kecantikan, serta industri mode.
Peran media dan dunia fesyen turut memperkuat arah estetika kebaya. Dokumentasi, publikasi, dan kegiatan profesional mengangkat kebaya ke visual yang elegan dan kontemporer. Lenny menyebutkan momen penting seperti penyelenggaraan Lokakarya Busana Nasional Indonesia pada 1983 yang memperkokoh standar estetika baru.
“Dalam perjalanan itu, sosok Ibu Tien Soeharto memiliki pengaruh yang sangat besar. Penampilannya yang hampir selalu mengenakan kebaya dalam berbagai acara resmi menjadikan dirinya ikon gaya sekaligus representasi perempuan Indonesia pada masanya. Pilihan busananya tidak hanya membangun citra elegan, tetapi juga memberikan legitimasi terhadap bentuk, siluet, serta cara mengenakan kebaya modern,” ungkap Lenny.
Peran Perancang dan Publik
Meski negara memiliki peran dominan, transformasi kebaya tak sepenuhnya bersifat top-down. Desainer, pelaku industri mode, media, dan perempuan Indonesia juga memberikan kontribusi melalui interpretasi baru dalam material, teknik, dan detail desain.
“Siluet dasar kebaya tetap dipertahankan, namun dipadukan dengan berbagai unsur modern seperti brokat, tulle, bustier, ritsleting tersembunyi, payet, hingga teknik tailoring yang lebih presisi. Penataan rambut, aksesori, dan pemilihan kain tradisional juga berkembang mengikuti dinamika tren. Hasilnya adalah kebaya yang mampu mempertahankan identitas budaya sekaligus memenuhi selera fashion kontemporer,” tegas Lenny.
Kini kebaya kembali menarik perhatian generasi muda melalui inovasi-desainer Indonesia. Kebaya tidak lagi terbatas pada acara formal atau seremoni kenegaraan, tetapi juga hadir dalam koleksi haute couture, peragaan busana, dan gaya personal yang lebih ekspresif.
“Pada akhirnya, kebaya modern bukan hanya sebuah karya fashion. Ia adalah artefak budaya yang merepresentasikan perjalanan panjang bangsa Indonesia dalam mendefinisikan identitasnya. Setiap detail bordir, setiap siluet, dan setiap helai kain yang dikenakan menyimpan kisah tentang bagaimana tradisi terus diperbarui tanpa kehilangan akar sejarahnya. Di situlah letak keistimewaan kebaya—bukan sekadar indah dipandang, tetapi juga kaya makna yang menjadikannya salah satu ikon fashion paling berharga bagi Indonesia,” tutup Lenny.
Ikuti Detak.media
