— Berlokasi di Desa Melo, Liang Ndara, Manggarai Barat, sekitar 30–40 menit berkendara dari Labuan Bajo, Dapur Tara berdiri di tengah lanskap perbukitan Flores yang sejuk. Namun, tempat ini bukan restoran biasa; Dapur Tara lebih menyerupai destination dining yang memanfaatkan kuliner autentik Flores untuk memperkenalkan budaya, alam, dan keramahan masyarakat Manggarai.

Dapur Tara menerapkan konsep prepared dining experience. Kunjungan dilakukan berdasarkan reservasi. Tim dapur baru menyiapkan bahan, menyalakan tungku, dan menata meja setelah kedatangan tamu dipastikan. Pendekatan tersebut membuat pengalaman bersantap lebih personal sekaligus mengurangi limbah pangan (food waste).

Tamu pun tidak sekadar datang, memesan, lalu menunggu makanan tersaji. Mereka dapat ikut meracik bumbu dan memasak. Pengalaman itulah yang dirasakan sejumlah jurnalis dari Jakarta bersama rombongan Media Trip BCA, Rabu (8/7/2026).

Proses Memasak dan Hidangan Khas

Sore itu, rombongan diajak menyiapkan nasi hang kolo, nasi berbumbu khas Flores yang dimasak di dalam bambu menggunakan bara api selama sekitar 2,5–3,5 jam. Proses panjang itu menghasilkan aroma khas. Nasi disajikan bersama ayam asap berbumbu, sup ayam gosa gora, sayur lomak berbahan daun ubi dan kelapa parut, serta sambal nanas.

“Kami menyediakan kuliner khas lokal yang dimasak dari bahan-bahan yang ada di kebun sekitar sini. Semua dikerjakan sesuai kebiasaan kami di Flores, seperti yang dilakukan orang-orang terdahulu,” ujar pendiri sekaligus pengelola Dapur Tara, Elisabet Yani Tararubi.

Untuk menjaga keautentikan resep, Elisabet—akrab disapa Kak Lis—berkeliling Manggarai menemui para sesepuh yang rata-rata telah berusia lebih dari 80 tahun. “Saya menemui orang-orang tua yang masih menjaga resep asli Flores. Kami berbincang untuk mengetahui resep asli masakan Flores,” tutur dia.

Program Pembelajaran dan Fasilitas

Dapur Tara juga menawarkan kelas memasak (cooking class), food counseling, meditasi, dan belajar menenun. Tersedia pula fasilitas menginap bagi wisatawan yang ingin membaur lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

Di tempat ini, kehidupan berjalan lambat. Tidak ada sinyal telepon seluler dan listrik terkadang padam. Namun, keterbatasan itu justru menjadi bagian dari pengalaman. “Ini menjadi waktu untuk digital detox dan beristirahat. Kalau mereka punya pekerjaan yang harus terhubung dengan internet, saya minta diselesaikan sebelum menginap di sini,” kata Kak Lis.

Sekitar 2.000 tamu mengunjungi Dapur Tara setiap tahun. Untuk membangun ikatan dengan tempat tersebut, mereka diajak menanam pohon atau buah-buahan. Perkembangan tanaman itu kemudian dikabarkan kepada mereka. “Kalau tidak datang sendiri, kadang mereka mengirim teman untuk melihat pohon yang ditanam,” ujar dia.

Awal Mula dan Tantangan

Dapur Tara, yang dirintis pada 2019 sebelum pandemi Covid-19, lahir dari kegelisahan Kak Lis terhadap kehidupan modern yang serba instan dan tergesa-gesa. Generasi muda, menurut dia, perlahan kehilangan keterampilan bertahan hidup dengan memanfaatkan sumber daya di sekitarnya.

Kemampuan sederhana seperti memanjat pohon mulai hilang. Tradisi menyelesaikan persoalan melalui musyawarah juga makin jarang ditemukan. “Kami mau mengimbangi modernisasi. Waktu kecil, kami makan dari bahan yang ada di kebun dan dimasak dengan api. Kami tidak punya kursi, duduk di lantai untuk menyelesaikan masalah bersama,” tutur Kak Lis.

Kegelisahan itu menguat ketika perempuan yang juga seorang bidan tersebut berlibur ke Labuan Bajo saat bekerja di sebuah sekolah internasional di Bali. Ia mendapati budaya, tradisi, dan tata hidup masyarakat Flores mulai luntur.

Yang lebih mengusik Kak Lis adalah kondisi pendidikan anak-anak. “Anak SMA membaca masih mengeja. Saya melihat ada yang salah di sini. Apa yang saya alami dulu masih terjadi. Anak kelas III atau IV SD belum bisa membaca,” ungkap dia.

Melalui Dapur Tara, Kak Lis ingin membawa kembali ingatan tentang kehidupan masyarakat Flores dahulu, ketika banyak kebutuhan dapat dipenuhi dari alam dan komunitas sekitar. “Tanaman yang tumbuh di sekitar kita sebenarnya adalah yang kita butuhkan. Kalau kebun sendiri habis, kita ambil dari komunitas. Gula, misalnya, bisa kita buat sendiri. Kalau kurang, kita penuhi dari komunitas,” ujarnya.

Perjalanan membangun Dapur Tara tidak selalu mulus. Bangunan yang berdiri saat ini merupakan dapur kedua. Sebelumnya, Kak Lis pernah membangun tempat serupa di desa yang tidak jauh dari lokasi sekarang. Namun, bangunan itu dibakar. “Dapur kami yang dulu dibakar oleh…. Sudah sampai situ saja,” kata dia. Kak Lis enggan meneruskan cerita atau menyebut pihak yang terlibat.

Pengalaman itu tidak menghentikan langkahnya. Ia memilih terus merawat hubungan dengan masyarakat sekitar. “Kami terus berkoneksi dengan warga. Saya berkunjung, minum kopi, dan saling membantu. Setiap permasalahan bisa diselesaikan dengan duduk bersama, minum kopi,” ucap dia.

Mimpi Sekolah Berkurikulum Kampung

Dari kegelisahan yang sama, Kak Lis menyimpan satu cita-cita: mendirikan sekolah berbasis alam dengan “kurikulum kampung”. Gagasan itu lahir dari keprihatinannya terhadap anak-anak yang putus sekolah atau tidak betah belajar di ruang kelas. Pada saat bersamaan, berbagai pengetahuan lokal yang dahulu menjadi bekal hidup masyarakat Flores perlahan menghilang.

“Saya ingin membuat sekolah dengan kurikulum kampung sebagai protes kepada pemerintah. Banyak yang putus sekolah di sini dan tidak betah di kelas,” kata Kak Lis.

Di sekolah impiannya nanti, anak-anak akan mempelajari kembali keterampilan yang tumbuh dari kehidupan masyarakat Flores. Mereka belajar memanjat pohon, menenun, membuat tuak dari nira, mengolah hasil kebun, dan memahami alam sekitar.

Namun, Kak Lis tidak ingin membawa anak-anak kembali ke masa lalu dan memutus mereka dari perkembangan zaman. Pengetahuan kampung akan dipadukan dengan keterampilan modern. “Mereka nanti juga kami ajari hospitality, komputer, dan bahasa Inggris. Ketika kita tidak punya uang dan power, ini menjadi cara kita bertahan,” tutur dia.

Pada tahap awal, Kak Lis berencana menghimpun 4–10 anak untuk dididik selama sekitar satu tahun. Biaya pendidikan tidak harus dibayar dengan uang. Orang tua dapat menggunakan sistem barter dengan hasil kebun, seperti jahe, rempah, atau buah-buahan. “Kalau ada sekolahnya, kami berharap ada regenerasi. Jadi, Lis-Lis berikutnya bisa terus ada,” kata dia.

Kak Lis menyadari apa yang dilakukannya mungkin tidak akan mengubah Flores dalam sekejap. Namun, baginya, perubahan tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. “Menurut saya, tidak perlu besar. Asal bisa menjadi contoh dan memberi manfaat,” ujar dia.

Dukungan Program Perusahaan

Konsep Dapur Tara menarik perhatian PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Perseroan menggelar workshop peningkatan keterampilan gastronomi bagi sembilan pengelola Desa Bakti BCA di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Rabu (8/7/2026). Melalui program corporate shared value (CSV) Bakti BCA, peserta didorong menggali kekayaan kuliner lokal dan menghubungkannya dengan sejarah, seni, serta budaya daerah.

“Kuliner lokal adalah salah satu potensi yang paling dekat dengan keseharian masyarakat desa. Kami ingin mendorong pengelola Desa Bakti BCA makin percaya diri menyajikan cita rasa dan budaya khas daerahnya dengan standar penyajian yang lebih baik, sehingga menjadi penggerak ekonomi berkelanjutan,” kata EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F Haryn dalam keterangannya.

Workshop mencakup pemilihan dan pengolahan bahan baku lokal, teknik memasak, hingga penataan dan penyajian hidangan. Dapur Tara menjadi fasilitator, sementara peserta mempraktikkan langsung setiap tahapan tersebut.

Di Dapur Tara, makanan pada akhirnya bukan sekadar apa yang tersaji di atas meja. Di balik nasi yang dimasak perlahan di dalam bambu, tungku yang dinyalakan menjelang kedatangan tamu, dan pohon yang ditanam wisatawan, terdapat ikhtiar menjaga pengetahuan kampung agar tidak ikut hilang ditelan modernisasi.

Dari dapur di perbukitan Manggarai itu, Kak Lis menyimpan mimpi yang lebih besar: membangun sekolah yang mengajarkan anak-anak Flores mengenali kembali kampungnya, sekaligus menyiapkan mereka menghadapi dunia.