Detak.media — Situasi di Timur Tengah kembali memanas setelah militer AS dan Iran saling melancarkan serangan rudal dan drone dalam skala besar. Pada Minggu (12/7/2026), Iran memperluas jangkauan serangannya ke sejumlah negara Teluk yang menampung fasilitas militer AS dan menyatakan telah menutup kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia.
Eskalasi ini mengancam kesepakatan interim AS–Iran yang ditandatangani bulan lalu, yang semula diharapkan bisa membuka kembali selat dan mendorong negosiasi lanjutan. Serangkaian serangan terbaru disebut-sebut menandai babak baru agresi Iran untuk menegaskan kendali atas jalur pelayaran itu.
Saling Balas Serangan Di Kawasan Teluk
Wilayah Qatar, yang bertindak sebagai mediator, menjadi sasaran serangan untuk pertama kalinya sejak April 2026, sementara Uni Emirat Arab melaporkan sistem pertahanan udaranya sibuk menghadapi rudal dan drone dari Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan militer AS mulai melancarkan serangan balasan tambahan pada Minggu sekitar pukul 17.00 waktu setempat untuk melemahkan kemampuan Iran mengganggu kapal-kapal komersial.
Juru bicara CENTCOM Tim Hawkins mengatakan jet tempur AS menembak jatuh satu rudal jelajah dan sebuah drone bunuh diri milik Iran. Sebaliknya, media lokal Iran melaporkan ledakan dan serangan rudal di sekitar bandar pelabuhan Sirik, Bandar Abbas, serta Pulau Qeshm, lokasi fasilitas militer di selat tersebut.
Kementerian Luar Negeri Iran mengutuk serangan AS dan menuduh tekanan Washington terhadap Oman telah menggagalkan upaya negosiasi pengelolaan jalur transit yang digelar di Muscat. Negosiator Iran Mohammad Baqer Qalibaf menulis di akun media sosialnya: “Era kesepakatan sepihak telah berakhir. Kami sudah katakan: tepati janji Anda atau bayar harganya. Realitas sedang mengetuk pintu.”
Penutupan Selat Dan Klaim Kerusakan Kapal
Iran menyatakan sedang menerapkan sistem pemungutan biaya permanen di Selat Hormuz dan memperingatkan kapal agar tidak melintas tanpa izin mereka. Badan Otoritas Selat Teluk Persia yang baru dibentuk Iran menyebut penutupan jalur disebabkan oleh pergerakan ilegal militer AS.
Otoritas Iran mengklaim melumpuhkan dua kapal komersial yang dianggap melanggar rute dalam dua hari terakhir. Akibat serangan terhadap kapal kontainer GFS Galaxy di lepas pantai Oman, satu warga India dilaporkan hilang dan 23 kru lainnya berhasil diselamatkan. AS menolak klaim pengendalian selat itu dan menegaskan lalu lintas laut tetap mengalir, sambil mengarahkan kapal-kapal menggunakan rute selatan yang diperluas di dekat Oman.
CENTCOM juga menyatakan telah menggempur 140 target militer Iran pada Sabtu (11/7/2026), dengan total lebih dari 300 target dalam tiga malam terakhir. Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengklaim menghancurkan beberapa sasaran, termasuk pusat komando AS di Yordania, situs radar di Kuwait, platform pengisian bahan bakar di Oman, serta fasilitas perawatan jet tempur di Qatar.
Dampak Di Kawasan Dan Pasar Energi
Dampak serangan ini dirasakan oleh sekutu-sekutu AS di kawasan: Qatar melaporkan tiga orang terluka akibat serpihan rudal, Kuwait menyebutkan kerusakan pada platform pengeboran yang melukai seorang pekerja, dan Bahrain serta Yordania melaporkan intersepsi proyektil di wilayah udara mereka.
Kekhawatiran pasar terlihat dari lonjakan harga minyak mentah. Pada perdagangan Senin pagi, Brent naik US$2,67 (3,51%) ke US$78,68 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik US$2,48 (3,47%) ke US$73,89 per barel.
Menanggapi operasi udara AS terhadap Iran, Presiden AS Donald Trump memberi pernyataan singkat: “Kami sedang menghajar mereka.” Iran menyatakan penutupan Selat Hormuz didorong oleh tindakan militer AS, sementara AS menegaskan tidak ada pihak yang mengendalikan selat dan mengimbau penggunaan rute alternatif di selatan.
Selat Hormuz merupakan jalur sempit yang menghubungkan produsen minyak di Timur Tengah dengan pasar Asia, Eropa, dan Amerika Utara, sehingga gangguan di selat ini berpotensi mempengaruhi pasokan energi global. Konflik yang memanas sejak 28 Februari 2026 antara AS, Israel, dan Iran telah menjadikan kawasan Teluk sebagai zona konflik yang tidak stabil.
Ikuti Detak.media
