Detak.media — Indonesia dan Vietnam resmi menandatangani Rencana Aksi Implementasi Kemitraan Strategis Komprehensif pada pertemuan Joint Commission for Bilateral Cooperation (JCBC) ke-6 di Gedung Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Selasa (14/7/2026). Dokumen itu menjadi panduan utama bagi pelaksanaan kerja sama bilateral selama lima tahun ke depan.
Penandatanganan terjadi saat delegasi kedua negara bertemu untuk menegaskan komitmen strategis mempererat hubungan bilateral di berbagai bidang, mulai dari ekonomi hingga politik keamanan.
Target Perdagangan dan Langkah Ekonomi
Dalam pertemuan itu kedua negara memasang target perdagangan bilateral mencapai US$ 18 miliar (sekitar Rp 292 triliun) pada 2028. Untuk mencapai angka tersebut, Indonesia dan Vietnam sepakat memperkuat investasi dan memangkas hambatan birokrasi serta regulasi yang selama ini dihadapi pelaku usaha.
Selain perdagangan konvensional, pembahasan juga diarahkan pada peluang kolaborasi sektor masa depan, antara lain:
- Rantai pasok global dan ekonomi digital.
- Pengembangan teknologi kendaraan listrik (electric vehicle/EV).
- Pertanian serta sains dan teknologi.
Pernyataan Menteri Luar Negeri
Menlu Sugiono menyatakan, “Hari ini, kami menandatangani rencana aksi implementasi kemitraan strategis komprehensif. Ini akan menjadi kerangka utama yang memandu kerja sama bilateral kami selama lima tahun ke depan.”
Ia menekankan posisi kedua negara sebagai kekuatan ekonomi dinamis di Asia Tenggara dan menolak pendekatan saling menjatuhkan di pasar global. “Kami sangat percaya bahwa di masa depan hubungan bilateral kami tidak terletak pada persaingan, tetapi pada kemitraan,” tandas Sugiono.
Isu Politik, Keamanan, dan Maritim
Di bidang politik dan keamanan, pertemuan mencatat kemajuan implementasi pengaturan batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang sempat menjadi isu sensitif. Kedua negara juga sepakat memperketat pengamanan maritim untuk memberantas praktik penangkapan ikan ilegal (IUU Fishing) serta memerangi kejahatan lintas negara seperti peredaran narkotika.
ASEAN dan Konteks Regional
Pertemuan JCBC ke-6 juga membicarakan situasi regional dan global. Sebagai anggota inti ASEAN, Indonesia dan Vietnam menegaskan pentingnya menjaga persatuan dan sentralitas ASEAN sebagai prasyarat stabilitas dan perdamaian yang diperlukan untuk kemakmuran ekonomi kawasan.
Harapan dan Langkah Selanjutnya
Menutup pertemuan, Menlu Sugiono menyampaikan apresiasi atas kunjungan delegasi Vietnam ke Jakarta dan berharap manfaat nota kesepahaman itu segera dirasakan masyarakat kedua negara. Ia juga menyatakan kesiapannya menghadiri JCBC ke-7 yang akan diselenggarakan di Vietnam.
Latar Belakang Hubungan Bilateral
Hubungan Indonesia dan Vietnam tercatat kuat sejak era Presiden Soekarno dan Presiden Ho Chi Minh. Namun dalam satu dekade terakhir, dinamika hubungan sempat terganggu oleh gesekan di wilayah perairan, khususnya terkait tumpang tindih klaim laut dan maraknya isu penangkapan ikan ilegal (illegal fishing) oleh kapal-kapal nelayan asing.
Ketegangan mulai mereda setelah kedua negara menyelesaikan negosiasi batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) pada akhir 2022 setelah berunding selama 12 tahun, membuka jalan bagi peningkatan political trust.
Dalam konteks geopolitik yang dipengaruhi perang dagang dan disrupsi rantai pasok global, kedua negara berupaya memperkuat ketahanan ekonomi kawasan. Vietnam berkembang sebagai pusat manufaktur di utara, sementara Indonesia menjadi ekonomi terbesar ASEAN dengan potensi hilirisasi sumber daya alam, termasuk untuk ekosistem baterai kendaraan listrik.
Rencana Aksi lima tahun yang disepakati dalam JCBC ke-6 menandai pergeseran paradigma: dari rivalitas mencari investasi asing menjadi kolaborasi membangun ekosistem industri yang tangguh dan mandiri di Asia Tenggara.
Ikuti Detak.media
