— Indonesia dan Arab Saudi memperkuat kerja sama di sektor transportasi, khususnya transportasi udara dan layanan haji. Kesepakatan itu mencakup penambahan titik operasional rute udara, penguatan kerja sama teknis di penerbangan sipil, serta kolaborasi di bidang sumber daya manusia.

Penegasan itu disampaikan Menteri Perhubungan Dudy usai pertemuan dengan Menteri Transportasi dan Logistik Arab Saudi Saleh bin Nasser Al-Jasser, yang turut dihadiri Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf, di Kantor Kemenhub, Jakarta, Senin (13/7).

Perluasan Nota Kesepahaman Transportasi

Menhub Dudy mengatakan kerja sama transportasi antara kedua pemerintah telah berlangsung lama dan pihaknya berkomitmen memperkuat kemitraan tersebut. “Kami menyambut dan mendukung penuh perluasan kerja sama di sektor transportasi antarkedua negara, termasuk inisiatif Kementerian Transportasi dan Logistik Arab Saudi untuk mengembangkan beberapa Nota Kesepahaman yang meliputi investigasi keselamatan transportasi, maritim, perkeretaapian, hingga kerja sama teknis di bidang penerbangan sipil,” ujar Menhub dalam keterangan rilisnya dikutip di Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Dalam konteks transportasi udara, Dudy mengingatkan bahwa hubungan bilateral di bidang ini dimulai sejak penandatanganan Perjanjian Transportasi Udara tahun 1988. Sejak itu, upaya peningkatan konektivitas udara antarwilayah kedua negara terus dilakukan.

“Perlu saya sampaikan, diskusi terkait layanan udara antara Kementerian Perhubungan dengan Kementerian Transportasi dan Logistik Arab Saudi yang berlangsung pada Juni 2025 lalu menghasikan kesepakatan yang saling menguntungkan,” tambahnya.

Penambahan Titik Operasional dan Kewajaran Akses

Salah satu hasil kesepakatan adalah perluasan titik operasional, termasuk rencana membuka layanan dari Yogyakarta dan Banda Aceh. Menhub menyatakan perluasan ini perlu dilanjutkan menyusul peningkatan permintaan perjalanan antara Indonesia dan Arab Saudi.

Dudy juga memberi apresiasi pada maskapai Arab Saudi yang melayani pasar Indonesia, terutama karena sebagian besar penumpang adalah jamaah umrah. Ia mencatat salah satu maskapai swasta Indonesia menunjukkan kinerja positif dengan penambahan frekuensi layanan terjadwal menuju Jeddah dan Madinah sejak Desember 2025.

“Ke depan, saya yakin masih banyak ruang bagi kita untuk terus bekerja sama di sektor transportasi udara. Satu hal yang penting, kita perlu memastikan peluang yang adil dan menguntungkan bagi maskapai penerbangan kedua negara, meningkatkan kualitas layanan, serta menjaga kepatuhan terhadap peraturan masing-masing negara,” jelas Menhub.

Dukungan untuk Pencalonan Indonesia di ICAO

Pemerintah Indonesia saat ini mencalonkan diri sebagai Anggota Dewan International Civil Aviation Organization (ICAO) pada Sidang Luar Biasa di Montreal pada November 2026. Menhub menyatakan harapan agar Arab Saudi memberikan dukungan pada pencalonan tersebut.

“Kami sangat senang apabila berhasil menjadi Anggota Dewan ICAO dan dapat berkontribusi dalam menghadirkan penerbangan sipil global yang aman, terjamin, inklusif, dan berkelanjutan. Karena itu, kami sangat berharap mendapat dukungan dari Pemerintah Arab Saudi dalam pencalonan ini,” pungkasnya.

Upaya Efisiensi Pelaksanaan Haji

Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf mengatakan pertemuan dengan Saleh bin Nasser Al-Jasser membahas efisiensi pelaksanaan ibadah haji, termasuk pengurangan masa tinggal jamaah Indonesia di Arab Saudi melalui penambahan slot penerbangan dari kedua negara.

“Pembicaraan kita berkaitan dengan, pertama, pemerintah Saudi sangat mendukung program rencana kita membangun Kampung Haji dan mereka berharap segera dimulai pembangunannya,” ungkapnya sepeti dikutip dari Antara.

Irfan menjelaskan pembahasan juga mencakup langkah mengefisienkan penyelenggaraan haji dengan mengurangi masa tinggal jamaah di Arab Saudi. Hal itu diupayakan dengan menambah slot penerbangan dari Saudi maupun dari Indonesia.

“Kita juga minta dalam rangka mengefisienkan pelaksanaan haji kita berupaya mengurangi masa tinggal di Saudi dengan cara menambah slot penerbangan dari Saudi maupun dari Indonesia sehingga itu akan bisa mengurangi masa tinggal di Saudi. Alhamdulillah Yang Mulia Menteri Transportasi Saudi juga memberikan dukungannya,” ujarnya.

Terkait pengurangan biaya haji, Irfan menyebut komponen biaya merupakan mekanisme berbeda namun diyakini kebijakan efisiensi waktu tinggal akan memberi pengaruh. “Oh itu nanti beda lagi, nanti ada itu perhitungan yang berbeda lagi. Insya Allah berpengaruh nanti,” tutupnya.

Peningkatan Layanan Jamaah oleh Arab Saudi

Menteri Transportasi dan Logistik Arab Saudi Saleh bin Nasser Al-Jasser menegaskan perhatian Kerajaan terhadap peningkatan kualitas layanan bagi seluruh jamaah haji, termasuk jamaah asal Indonesia yang merupakan kelompok jamaah terbesar.

Untuk mendukung kenyamanan ibadah haji, Saleh menyebut Arab Saudi terus mengembangkan infrastruktur pendukung seperti Kereta Cepat Haramain, Kereta Al-Mashaer, perluasan kawasan Jamarat, serta sejumlah proyek pengembangan lain.

“Insya Allah kami berharap dapat terus bekerja sama dengan Yang Mulia Menteri Haji dan Menteri Perhubungan untuk menghadirkan lebih banyak kemudahan dan peningkatan layanan bagi para jemaah Indonesia di masa mendatang,” kata Saleh.

Rekap Kinerja Penerbangan Haji Garuda Indonesia

Garuda Indonesia yang turut menyukseskan penerbangan haji tahun ini mencatat tingkat ketepatan waktu atau on time performance (OTP) 94,3% dengan melayani 102.705 jamaah. Capaian ini selaras dengan agenda transformasi perusahaan yang fokus pada konsistensi operasional, peningkatan layanan, dan kolaborasi ekosistem penerbangan.

Rangkaian operasional ditutup dengan ketibaan penerbangan GA-1443 dari Madinah di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, pada Rabu, 1 Juli 2026, pukul 17.05 WITA. Penerbangan terakhir membawa 244 jemaah yang tergabung dalam Kloter 43 Embarkasi Makassar.

Sepanjang fase kepulangan, Garuda mencatatkan OTP sebesar 90,3%. Dengan demikian, keseluruhan operasional keberangkatan dan kepulangan haji 1447 H/2026 membukukan OTP kumulatif 94,3%.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, menyatakan penyelesaian operasional haji merepresentasikan komitmen maskapai dalam menyediakan layanan transportasi udara yang aman, andal, dan berorientasi pada kebutuhan jamaah.

“Kami bersyukur seluruh rangkaian operasional dapat diselesaikan dengan baik melalui kolaborasi erat bersama Kementerian Haji dan Umrah, Kementerian Perhubungan serta stakeholder terkait lainnya,” ujar Glenny belum lama ini.

Glenny menambahkan ketepatan waktu yang terjaga mencerminkan progres transformasi perusahaan dalam kesiapan armada, efektivitas koordinasi operasional, serta konsistensi kualitas layanan.

“Capaian ini menjadi salah satu indikator positif bahwa penguatan fundamental operasional yang terus kami jalankan mulai memberikan hasil. Namun demikian, transformasi merupakan proses yang berkelanjutan akan berjalan,” pungkas Glenny.