Detak.media — Fase terburuk yang menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai telah berlalu karena sejumlah faktor risiko besar sudah tercermin dalam valuasi pasar saat ini. Tekanan yang sempat menggerus pasar, seperti ancaman penurunan kasta saham oleh MSCI, depresiasi berkepanjangan rupiah, dan potensi penurunan peringkat utang, disebut-sebut telah masuk ke dalam harga saham.
Dengan menanjaknya sejumlah katalis positif, terutama keputusan lembaga pemeringkat dan meredanya guncangan harga minyak, analis memandang peluang kebangkitan IHSG memasuki semester II-2026 terbuka lebar.
Penegasan S&P Jadi Katalis
Salah satu pemicu sentimen positif datang dari S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB (investment grade) untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stabil. Keputusan S&P berbeda dengan revisi outlook negatif yang dilakukan Fitch dan Moody’s, yang memberi tekanan pada prospek utang Indonesia.
Selain itu, guncangan harga minyak mulai mereda setelah harga Brent turun dari puncaknya sehingga tekanan terhadap neraca perdagangan, rupiah, dan inflasi diperkirakan akan berkurang mulai kuartal III-2026.
Arus Modal dan Kebijakan Fiskal
Tekanan arus keluar modal dari pasar domestik juga mulai melunak. Pada Juni 2026, pasar surat berharga negara (SBN) mencatat net inflow Rp22,4 triliun, angka terbesar sejak Mei 2025, sementara arus hingga pertengahan Juli juga masih positif. Di pasar saham, net outflow masih terjadi namun laju penarikan dana asing melambat dibandingkan puncak tekanan pada Januari dan Maret.
Pemerintah disebut mulai meredakan belanja populis. Anggaran program makan bergizi gratis (MBG) dipangkas menjadi Rp268 triliun pada 2026 dan direncanakan turun lagi menjadi sekitar Rp170 triliun pada 2027. Selain itu, ada penegasan bahwa PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) tidak akan menjadi off taker tunggal ataupun trading hub komoditas negara, melainkan berperan mengembangkan platform pengawasan, dengan harga ekspor tetap mengacu pada price discovery internasional.
Pemerintah juga berencana merevisi harga domestic market obligation (DMO) batu bara, melonggarkan kuota dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB), serta membatalkan rencana kenaikan royalti dan gross split mineral.
Faktor Global dan Valuasi Terlalu Murah
Meski ada perbaikan di dalam negeri, risiko eksternal tetap menjadi sandungan, terutama ketegangan geopolitik setelah keterlibatan kembali antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, kenaikan harga minyak tidak separah lonjakan awal konflik yang sempat menembus US$100 per barel.
Para analis menilai tekanan geopolitik bisa diredam bila kondisi domestik kondusif, terutama dengan tidak adanya kebijakan pemerintah yang mendistorsi pasar keuangan—baik saham, rupiah, maupun obligasi. Di samping itu, valuasi IHSG dinilai sudah sangat murah. Beberapa sekuritas menghitung koreksi sejak awal 2026 membuat valuasi indeks berada pada kisaran -2 hingga 2,6 standar deviasi (SD), bahkan lebih rendah dibanding era pandemi Covid-19.
Valuasi tersebut tercatat mencerminkan asumsi skenario terburuk seperti hilangnya status investment grade, penurunan kasta saham Indonesia dari emerging market ke frontier market oleh MSCI, serta rupiah pada level Rp18.000 per dolar AS. Namun kondisi riil ekonomi masih relatif kuat dengan pertumbuhan 5,6% pada kuartal I-2026, dan beberapa sekuritas besar memproyeksikan laba emiten tetap tumbuh tahun ini.
DBS, bank besar Singapura, memproyeksikan pertumbuhan laba emiten 7,5% tahun ini dan berpendapat valuasi saat ini sudah mencerminkan skenario terburuk. Bank tersebut mencatat mekanisme manuver MSCI dan ketidakpastian regulasi ekspor baru menjadi faktor pencetus keluarnya dana panas US$3,7 miliar dari pasar saham per Mei. Kepemilikan asing di saham turun menjadi 24% dari level tertinggi 30% pada 2022.
Pergerakan IHSG dan Aliran Modal
Berdasarkan data bursa, IHSG kemarin ditutup naik tipis 0,03% ke level 6.039 setelah sehari sebelumnya melonjak 1,9% seiring kabar positif dari S&P. Meski demikian, investor asing masih tercatat net sell sebesar Rp830 miliar, sehingga akumulasi net sell sepanjang tahun mencapai Rp77,4 triliun.
Sepanjang 2026, IHSG turun 30,15%, termasuk salah satu penurunan terparah di dunia. Di kawasan ASEAN, hanya indeks Indonesia yang melorot sementara bursa lain justru menguat; SET Index Thailand mencatat kenaikan tertinggi 29%.
Analisis Pelaku Pasar
Analis Sucor Sekuritas Bernardus Wijaya menilai keputusan S&P menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat meski lembaga lain merevisi prospek utang menjadi negatif.
“Berbeda dengan Fitch dan Moody’s, S&P menilai tekanan akibat kenaikan harga minyak dan kondisi fiskal saat ini bersifat sementara,” ujar Bernardus, Selasa (14/7/2026).
Bernardus mengatakan S&P mengapresiasi langkah efisiensi anggaran dan penyesuaian proyek strategis nasional yang menjadi katalis positif bagi IHSG. Meski demikian, ia menekankan pemerintah perlu menjaga konsistensi kebijakan agar kepercayaan investor pulih dan memberikan kepastian bagi pelaku usaha serta investor.
Bernardus optimistis MSCI akan mempertahankan saham Indonesia dalam kategori emerging market karena ukuran pasar modal Indonesia jauh lebih besar dibanding negara-negara di kategori frontier market. “Market Indonesia terlalu besar untuk diturunkan ke frontier market atau too big to fail. Apalagi, valuasi pasar saat ini sudah sangat menarik,” ujar dia.
Menurut Bernardus, valuasi IHSG pada kisaran price to earning ratio (PER) 10–11 kali membuka peluang investasi menarik bagi investor jangka panjang. Secara teknikal, ia memproyeksikan IHSG masih berkonsolidasi sebelum memasuki fase penguatan. Level 6.067 menjadi resistensi awal; jika ditembus, indeks berpeluang menuju 6.377. “Jika IHSG berhasil menembus level 6.377, pola bullish reversal akan semakin terkonfirmasi sehingga membuka peluang menuju area 6.700 hingga 7.000,” kata dia.
Bernardus bahkan melihat potensi IHSG mencapai 8.000 hingga akhir 2026 apabila sejumlah faktor pendukung terpenuhi, dengan catatan kebijakan fiskal pemerintah tetap menjadi perhatian investor dan lembaga pemeringkat internasional. Ia menyebut saham sektor batu bara, nikel, CPO, serta perbankan sebagai sektor yang menarik dicermati.
Pengamat pasar modal dan pendiri Republik Investor Hendra Wardhana menegaskan peluang penguatan IHSG masih ada, namun belum bisa dikatakan sebagai tren naik kuat. Secara teknikal, IHSG masih bergerak pada kisaran support 5.887 dan resistance 6.200.
Penilaian Sekuritas dan Target Indeks
BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menilai valuasi IHSG pada PER 9,1 kali menunjukkan pasar terlalu pesimistis karena mencerminkan skenario penurunan peringkat kredit dan prospek laba negatif 2027. BRIDS menyatakan level IHSG di 6.000 mencerminkan earnings yield spread sebesar 378 basis poin terhadap SUN 10 tahun, menggambarkan skenario peringkat utang yang sangat negatif (bear case).
BRIDS menilai valuasi IHSG saat ini -2,6 SD dan di bawah rata-rata 10 tahun sebesar 14,8 kali. Mereka memperkirakan pasar mengasumsikan laba emiten 2027 turun 7%, dengan premi risiko ekuitas kembali normal sebesar 300 bps di atas yield SUN 10 tahun yang mencapai 7,24%. Atas dasar itu, BRIDS mempertahankan target IHSG akhir 2026 di level 7.200, yang merefleksikan forward PER 10 kali dan asumsi pertumbuhan EPS 2027 sebesar 8%.
Citi mengambil sikap hati-hati, meski menilai ada peluang rebound jangka menengah didukung perbaikan kebijakan fiskal, subsidi BBM, dan suku bunga. Citi menilai risiko penurunan status Indonesia ke frontier market oleh MSCI relatif kecil, dengan skenario dasar MSCI mempertahankan status emerging market dan kemungkinan pembukaan kembali serta reinklusi beberapa saham pada awal tahun depan.
“Secara terpisah, S&P telah menegaskan kembali peringkat kredit Indonesia pada level BBB (dua tingkat di atas investment grade) dengan prospek stabil, yang lebih baik dibandingkan Fitch,” tulis Citi.
BNI Sekuritas (BNIS) mencatat investor asing menjadi net seller di SBN dan saham sepanjang tahun: kepemilikan asing di SBN turun menjadi 13% dan net sell saham mencapai US$5,2 miliar, yang berkontribusi pada penurunan indeks sebesar 30%.
BNIS menilai keputusan S&P menguntungkan pasar fixed income, sementara untuk saham diperlukan katalis tambahan berupa pertumbuhan laba bersih. Sejalan dengan DBS dan BRIDS, BNIS juga menilai valuasi indeks sangat murah—PER 8,1 kali, -2,6 SD, dan di bawah rata-rata lima tahun—dan peningkatan valuasi (rerating) akan bergantung pada kepastian fiskal dan penurunan risiko kebijakan lebih dari peringkat utang.
DBS berargumen skenario terburuk sudah tercermin dalam harga saat ini dan menempatkan target IHSG di level 8.000 pada akhir 2026 berdasarkan skenario dasar; skenario bullish memproyeksikan 9.500 sementara bearish di 5.200.
DBS merekomendasikan saham-saham sektor komoditas, pemain domestik kuat, perbankan besar, barang konsumsi, dan telekomunikasi. Rekomendasi buy dari DBS antara lain AKRA, ASII, ADRO, BBCA, ISAT, LSIP, MYOR, dan MEDC dengan target harga masing-masing Rp1.600, Rp7.500, Rp3.200, Rp9.000, Rp3.250, Rp1.800, Rp2.650, dan Rp2.200.
(ac)
Ikuti Detak.media
