— Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bergerak sideways dalam jangka pendek dengan kecenderungan volatilitas, seiring pasar menanti sentimen eksternal dan domestik yang belum sepenuhnya kondusif.

Ekskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta data inflasi AS menjadi dua sentimen utama yang akan memengaruhi arah IHSG dalam beberapa pekan mendatang.

“Namun, sejauh ini respons pasar global relatif terukur karena pelaku pasar masih menilai konflik tersebut belum mengganggu aktivitas ekonomi secara luas,” kata Founder Republik Investor, Hendra Wardana, dalam keterangannya, Minggu (12/7/2026).

Selain itu, investor juga menunggu data inflasi AS sebagai acuan arah kebijakan suku bunga The Fed. Di dalam negeri, likuiditas perdagangan yang masih tipis menunjukkan belum adanya keyakinan kuat dari pelaku pasar untuk menambah eksposur risiko, sehingga penguatan IHSG cenderung terbatas dan lebih banyak didukung oleh saham dengan katalis fundamental.

Risiko Global dan Aliran Dana Asing

Hendra menyebut eskalasi geopolitik dan kebijakan The Fed sebagai dua faktor utama yang menentukan aliran dana asing ke pasar negara berkembang termasuk Indonesia.

Ketika ketidakpastian global meningkat, investor asing cenderung mengalihakan dana ke aset aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS, yang dapat memberikan tekanan pada rupiah dan mendorong arus keluar dari pasar saham domestik. Sebaliknya, jika data inflasi AS menunjukkan tren penurunan yang membuka peluang pelonggaran suku bunga, minat terhadap aset risiko berpotensi kembali meningkat dan menarik masuknya dana asing.

Fundamental Domestik Menjadi Penopang

Di tengah likuiditas yang terbatas, penopang utama IHSG tetap berasal dari kondisi fundamental domestik. Proyeksi pertumbuhan ekonomi yang masih berada di kisaran 5%, inflasi yang terjaga, stabilitas sektor perbankan, serta prospek belanja pemerintah disebut menjaga optimisme investor jangka menengah.

Namun, tekanan seperti pelemahan rupiah, aksi jual investor asing yang berlanjut, rendahnya aktivitas transaksi harian, dan tingginya ketidakpastian global membuat pergerakan indeks lebih selektif. Aliran dana cenderung terkonsentrasi pada saham berkapitalisasi besar dan fundamental kuat.

Pergerakan Saham Energi: ADRO Hingga TINS

Sektor energi disebut berpeluang menjadi penguat kinerja bursa apabila ketegangan geopolitik menjaga harga minyak dan energi tetap tinggi. Saham seperti ADRO, PGEO, dan PGAS berpotensi mendapat sentimen positif seiring prospek sektor yang masih menarik, sementara TINS dapat terangkat jika harga logam kembali menguat.

Hendra merekomendasikan strategi akumulasi bertahap pada saham-saham berfundamental baik sambil disiplin menerapkan manajemen risiko. Untuk investor jangka pendek, momentum perdagangan dapat dimanfaatkan melalui strategi trading buy pada ADRO, PGEO, PGAS, dan TINS dengan target harga masing-masing.

“Karena itu, volatilitas IHSG dalam beberapa pekan ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter global serta perkembangan situasi geopolitik,” ujar Hendra.

Meski demikian, ia mengingatkan investor untuk menerapkan batas kerugian (stop loss) dan tidak agresif meningkatkan porsi investasi sampai arah kebijakan The Fed dan situasi geopolitik menjadi lebih jelas.