Profil Clara Shinta: Dari Pengacara Hingga Influencer Sukses yang Hadapi Ujian Rumah Tangga

Clara Shinta, nama yang mungkin tak asing lagi di dunia digital Indonesia, dikenal sebagai seorang selebgram, pebisnis sukses, dan influencer yang berasal dari Medan, Sumatera Utara.

Perjalanannya dari latar belakang pendidikan hukum hingga membangun kerajaan bisnis dan meraih jutaan pengikut di media sosial, mencerminkan dedikasi dan ketekunan yang luar biasa. Namun, di balik kesuksesan tersebut, Clara juga menghadapi ujian berat dalam kehidupan pribadinya, terutama terkait dinamika rumah tangganya.

Perjalanan Clara Shinta di dunia digital dan bisnis dimulai jauh sebelum namanya dikenal luas. Lahir dengan nama Elisabeth Clara Shinta Aritonang pada 25 Juni 1996, ia memiliki latar belakang pendidikan S1 Hukum dari Universitas Sumatera Utara.

Meskipun demikian, Clara memilih jalur yang berbeda, merintis karier di dunia bisnis sejak tahun 2017. Fokus utamanya adalah ekspor ikan dan produk kesehatan, bidang yang ia tekuni dengan sungguh-sungguh hingga berhasil mencetak omzet yang fantastis.

Profil Lengkap Alexander Assad, Suami Clara Shinta yang Dituding Selingkuh

Merambah Dunia Digital dan Bisnis

Pada tahun 2019, Clara Shinta mulai merambah dunia digital. Memanfaatkan platform media sosial seperti Instagram dan TikTok, ia mulai berbagi wawasan bisnis, tips gaya hidup, serta keseharian aktivitasnya.

Konten-kontennya yang menarik, informatif, dan otentik dengan cepat menarik perhatian publik. Hal ini menjadikannya salah satu influencer yang memiliki jutaan pengikut, membangun komunitas yang solid, dan membuka berbagai peluang kolaborasi.

Ketekunan Clara dalam berbisnis tidak hanya terbatas pada ekspor produk. Ia juga aktif dalam kegiatan sosial dengan mendirikan organisasi nirlaba seperti AdaOrangbaik dan Yayasan Hijrapedia. Langkah ini menunjukkan sisi kemanusiaan Clara Shinta yang peduli terhadap sesama, melengkapi citranya sebagai seorang profesional yang sukses dan berpengaruh.

Kehidupan Pribadi dan Pernikahan

Dalam kehidupan pribadi, Clara Shinta memutuskan untuk menjadi mualaf pada tahun 2017 dan mengganti namanya menjadi Clara Shinta Almara. Perubahan ini menandai babak baru dalam perjalanan spiritualnya. Ia juga pernah menikah pada tahun 2017 dan dikaruniai seorang putra bernama Askara Keano Goestaf. Namun, pernikahan tersebut akhirnya berakhir.

Pada 30 Agustus 2025, Clara Shinta kembali menikah dengan Muhammad Alexander Assad, seorang pengusaha yang bergerak di bidang pertambangan dan rental mobil premium. Pernikahan mereka sempat menjadi sorotan, diselenggarakan dengan mewah di Hotel Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta. Sayangnya, kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama. Kabar keretakan rumah tangga mereka mulai berembus pada Oktober 2025, hanya berselang dua bulan setelah pernikahan.

Isu Rumah Tangga dan Dugaan Perselingkuhan

Permasalahan rumah tangga Clara Shinta dan Alexander Assad mencuat ke publik setelah Clara sendiri yang mengungkapkannya. Salah satu isu awal yang beredar adalah terkait foto mantan kekasih yang masih disimpan oleh sang suami, yang kemudian memicu ketegangan dalam rumah tangga mereka.

Baru-baru ini, Clara Shinta kembali menjadi perbincangan hangat setelah mengunggah video di Instagram Story yang diduga menunjukkan perselingkuhan suaminya, Alexander Assad. Dalam unggahan tersebut, Clara memperlihatkan beberapa tangkapan layar ponsel suaminya yang menampilkan momen video call seks (VCS) dengan seorang wanita lain. Ia mengaku menemukan bukti tersebut saat memeriksa perangkat komunikasi sang suami. Clara mengungkapkan rasa terkejut dan emosional atas kejadian ini, terutama karena ia sedang berada di luar negeri saat menemukannya.

“Pah, hebat banget kamu ya kayak gini. Video call-an sama cewek ya,” kata Clara Shinta dalam rekaman video yang beredar, dengan suara bergetar.

Clara Shinta Unggah Video Dugaan Perselingkuhan Alexander Assad di Media Sosial

Ia pun menyampaikan permohonan maaf kepada pengikutnya atas unggahan tersebut, menegaskan bahwa tindakannya bukan untuk mengumbar aib secara berlebihan, melainkan karena rasa emosional dan kebingungan dalam menghadapi situasi tersebut.