Rekor Baru Scream 7: Preview Tembus Rp122 Miliar, Box Office Langsung Panas
Film horor terbaru, Scream 7, langsung mencetak sejarah baru bagi franchise slasher ikonik ini. Sejak penayangan perdananya, film ini berhasil meraup pendapatan sebesar US$7,8 juta (sekitar Rp122 miliar, dengan kurs Rp15.700 per dolar AS) dari sesi preview. Angka tersebut menjadi capaian preview tertinggi sepanjang seri Scream.
Perolehan impresif ini memperkuat posisi Scream 7 sebagai kandidat kuat penguasa box office akhir pekan. Namun, industri perfilman kini menyoroti apakah pendapatan film ini akan cenderung terpusat di awal penayangan atau mampu mempertahankan stabilitasnya dalam beberapa hari ke depan.
Melampaui Rekor Film Sebelumnya
Capaian preview Scream 7 ini melampaui rekor yang sebelumnya dipegang oleh Scream VI. Film keenam tersebut mencatatkan pendapatan gabungan preview dan hari pertama penayangan sebesar US$19,2 juta (sekitar Rp301 miliar). Angka tersebut merupakan 43% dari total debut domestik Scream VI yang mencapai US$44,4 juta (sekitar Rp697 miliar).
Sebagai perbandingan, film reboot Scream pada tahun 2022 berhasil meraup US$13,3 juta (sekitar Rp209 miliar) dari preview dan hari pertama penayangan. Pendapatan tersebut setara dengan 44% dari total pembukaan tiga hari sebesar US$30 juta (sekitar Rp471 miliar). Sementara itu, Scream 7 sendiri melampaui rekor preview Scream VI yang sebelumnya berada di angka US$5,7 juta (sekitar Rp89 miliar).
Antusiasme Media Sosial dan Kembalinya Bintang Ikonik
Menurut data dari firma analitik RelishMix, percakapan media sosial terkait Scream 7 sebelum perilisan mencapai 264,5 juta interaksi. Angka ini menunjukkan peningkatan sekitar 11% di atas rata-rata franchise horor. Meskipun demikian, angka tersebut masih sedikit di bawah capaian Scream VI yang berhasil mengumpulkan 360,5 juta interaksi.
Antusiasme penonton banyak dipicu oleh kembalinya Neve Campbell yang memerankan Sidney Prescott, karakter utama yang menjadi ikon franchise sejak film pertama pada tahun 1996. Campbell sendiri memiliki basis penggemar yang cukup besar dengan sekitar 672 ribu pengikut aktif di media sosial.
Selain Campbell, Courteney Cox juga kembali menghidupkan karakternya sebagai Gale Weathers. Cox memiliki basis penggemar yang lebih luas, mencapai sekitar 20,7 juta pengikut di media sosial.
RelishMix melaporkan bahwa respons publik terhadap film ini cenderung “mixed-positive.” Banyak penggemar menyambut unsur nostalgia dan kembalinya karakter-karakter klasik. Diskusi daring juga menyoroti kemiripan dinamika antara Sidney Prescott dan Ghostface dengan hubungan karakter Laurie Strode dan Michael Myers dalam franchise Halloween.
Format Premium dan Strategi Penayangan Global
Seluruh pendapatan preview film ini berasal dari penayangan khusus yang ditujukan bagi penggemar. Sesi ini dimulai pada pukul 18.00 waktu setempat dan diadakan di layar premium. Penonton mendapatkan konten tambahan dan merchandise eksklusif sebelum dilanjutkan dengan sesi preview reguler.
Berbeda dari film-film sebelumnya, Scream 7 tidak dirilis dalam format 3D. Namun, untuk pertama kalinya, film ini hadir di format IMAX, ScreenX, D-Box, serta format layar lebar premium lainnya.
Film ini juga dijadwalkan tayang serentak di 52 wilayah internasional. Beberapa negara yang akan menayangkan film ini antara lain Australia, Brasil, Prancis, Jerman, Italia, Meksiko, Spanyol, dan Inggris.
Perbandingan Ulasan Kritikus dan Penonton
Dari segi ulasan, Scream 7 menerima respons yang sedikit lebih rendah dari kritikus jika dibandingkan dengan dua film sebelumnya. Skor film ini di Rotten Tomatoes tercatat sekitar 38%. Namun, skor yang diberikan oleh penonton tetap cukup kuat, berada di kisaran 79%.
Sebagai perbandingan, Scream VI meraih skor 77% dari kritikus dan 90% dari penonton. Sementara itu, Scream (2022) memperoleh 76% dari kritikus dan 82% dari penonton.
Debut Sutradara Kevin Williamson
Salah satu daya tarik utama film ini adalah debut penyutradaraan Kevin Williamson dalam franchise Scream. Williamson, yang merupakan penulis naskah asli film Scream, kini mengarahkan langsung cerita baru dalam franchise yang telah berusia hampir 30 tahun tersebut.
Film ini mengisahkan Sidney Prescott yang kembali ke Pine Grove, Indiana, bersama putrinya yang diperankan oleh Isabel May. Keduanya kembali diteror oleh pembunuh bertopeng, Ghostface. Duo sutradara Radio Silence, Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett, yang sebelumnya menyutradarai dua film Scream terbaru, bertindak sebagai produser dalam proyek ini.
Biaya Produksi dan Posisi di Pasar
Scream 7 menjadi satu-satunya film studio besar yang dirilis secara luas pada pekan ini. Film ini diproduksi dengan biaya bersih sekitar US$45 juta (sekitar Rp706 miliar), belum termasuk biaya pemasaran. Pendanaan produksi film ini merupakan hasil kerja sama antara Spyglass dan Paramount.
Secara keseluruhan, keenam film Scream sebelumnya telah berhasil mengumpulkan total pendapatan global sekitar US$908,5 juta (sekitar Rp14,26 triliun). Angka ini menjadikan franchise Scream sebagai salah satu seri horor paling sukses dalam sejarah perfilman modern.
Dengan momentum preview yang kuat dan basis penggemar yang loyal, industri film menantikan apakah Scream 7 mampu mencetak rekor pembukaan baru sekaligus melanjutkan kesuksesan komersial dari franchise legendaris tersebut.