Detak.Media — Saham PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) melesat tajam hingga menyentuh batas atas auto rejection (ARA) pada perdagangan Rabu (22/4/2026). Lonjakan ini terjadi di tengah beredarnya rumor pasar terkait potensi aksi korporasi besar, mulai dari pembelian sisa saham oleh pemegang saham pengendali hingga isu delisting atau go private.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 11.16 WIB, saham BDMN melonjak 25,00 persen ke level Rp3.850 per saham. Nilai transaksi tercatat Rp147,0 miliar dengan volume 40,55 juta saham—jauh di atas rata-rata transaksi 20 hari terakhir yang hanya sekitar 4,65 juta saham.
Rumor Pembelian Sisa Saham oleh MUFG
Menurut sumber pasar yang dikutip IDXChannel, beredar kabar bahwa pemegang saham pengendali, MUFG Bank, dikabarkan tengah mempertimbangkan pembelian sisa saham publik BDMN dengan harga premium, yakni di atas harga pasar saat ini.
Saat ini, MUFG tercatat menguasai 92,47 persen saham BDMN. Sementara itu, porsi kepemilikan publik (free float/scripless) hanya sekitar 7,47 persen.
Kondisi ini memicu spekulasi bahwa struktur kepemilikan BDMN berpotensi tidak memenuhi ketentuan minimal free float sebesar 15 persen yang diwajibkan oleh BEI bagi emiten tercatat.
Isu Delisting dan Go Private
Sumber lain di pasar menyebut rumor yang beredar juga mengarah pada kemungkinan delisting atau go private. Isu ini muncul seiring kepemilikan publik yang dinilai terlalu kecil dan sulit untuk ditingkatkan tanpa aksi korporasi signifikan.
Dalam praktik pasar modal, kondisi kepemilikan publik yang sangat terbatas kerap menjadi salah satu alasan perusahaan memilih jalur go private, terutama jika pemegang saham mayoritas berniat mengonsolidasikan kepemilikan.
Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari manajemen BDMN maupun MUFG terkait kabar tersebut.
Dividen Tunai dan Kinerja Laba
Di tengah rumor yang beredar, BDMN sebelumnya telah mengumumkan pembagian dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp142,19 per saham dengan total nilai Rp1,39 triliun.
Keputusan tersebut telah disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2026, dengan rasio pembagian dividen sebesar 35 persen dari laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk senilai Rp3,97 triliun.
Pembayaran dividen kepada pemegang saham dijadwalkan pada 30 April 2026.
Revisi Target Harga oleh Nomura
Sebelumnya pada Maret 2026, sekuritas global Nomura memangkas target harga saham BDMN menjadi Rp2.590 dari sebelumnya Rp2.750. Revisi ini mencerminkan pandangan kehati-hatian terhadap prospek kinerja saham di tengah dinamika industri perbankan.
Kenaikan ekstrem yang terjadi pada Rabu ini pun dinilai lebih dipengaruhi sentimen rumor pasar dibanding faktor fundamental jangka pendek.
Hingga kini, pelaku pasar masih menunggu klarifikasi resmi dari perseroan terkait isu aksi korporasi yang memicu lonjakan harga saham tersebut.
Ikuti Detak.Media
