Hari Terakhir Perdagangan 2025, Asing Terpantau Banyak Jual Saham Big Caps hingga Batu Bara

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi berakhir pada Selasa, 30 Desember 2025. Hari terakhir bursa sepanjang tahun ini ditutup dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang bergerak relatif stabil, bahkan cenderung menguat tipis. Situasi ini terjadi di tengah adanya tekanan jual yang cukup signifikan dari investor asing.

IHSG ditutup menguat tipis 2,68 poin atau 0,03 persen ke level 8.646,94. Kinerja ini mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar menjelang pergantian tahun. Selain itu, fase ini juga menjadi momen rebalancing portofolio global sebelum memasuki tahun 2026.

BEI Umumkan Kalender Libur Bursa Desember 2025, IHSG Akhiri Perdagangan di Zona Hijau

Meskipun berada di hari terakhir perdagangan, nilai transaksi tercatat cukup solid. Total transaksi mencapai Rp20,61 triliun dengan volume 39,54 miliar saham yang diperdagangkan melalui 2,6 juta kali transaksi. Secara keseluruhan, pasar menunjukkan keseimbangan dengan 346 saham menguat, 317 melemah, dan 146 stagnan.

Asing Catatkan Net Sell Hampir Rp1 Triliun

Tekanan jual utama datang dari investor asing yang kembali membukukan aksi jual bersih atau net foreign sell dalam jumlah besar. Sepanjang perdagangan Selasa, asing mencatatkan net sell sebesar Rp937,79 miliar di seluruh pasar. Rinciannya, penjualan bersih di pasar reguler mencapai Rp888,53 miliar, sementara di pasar negosiasi dan tunai tercatat Rp49,26 miliar.

Aksi jual ini sejalan dengan pola historis akhir tahun, di mana investor global cenderung mengamankan keuntungan atau melakukan profit taking serta menyesuaikan alokasi aset mereka.

Sektor perbankan dengan kapitalisasi pasar besar kembali menjadi sasaran utama aksi jual asing. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mencatatkan net sell asing terbesar dengan nilai mencapai Rp415,65 miliar.

Tekanan jual pada BBRI terjadi meskipun saham bank pelat merah ini masih didukung fundamental yang kuat, rasio permodalan solid, serta ekspektasi pertumbuhan kredit UMKM yang berkelanjutan. Namun, saham big caps perbankan kerap menjadi instrumen likuid yang digunakan asing untuk rebalancing portofolio.

Di posisi kedua, PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) mencatat net sell asing sebesar Rp267,99 miliar. Disusul oleh PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dengan penjualan bersih Rp109,12 miliar. Aksi jual di saham batu bara ini dinilai terkait dengan fluktuasi harga komoditas energi global serta penyesuaian eksposur sektor tambang menjelang tahun baru.

Saham bank swasta terbesar, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), juga masuk dalam daftar dengan net sell asing sebesar Rp95,35 miliar. Padahal, BBCA dikenal sebagai saham defensif dengan kinerja laba yang stabil dan konsisten.

Saham Bank Kecil Menguat Tajam di Sepanjang 2025, Big Banks Didera Koreksi

Daftar 10 Saham dengan Net Foreign Sell Terbesar

Mengutip data Stockbit, berikut adalah sepuluh saham dengan penjualan bersih asing terbesar pada perdagangan Selasa (30/12/2025):

  1. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) – Rp415,65 miliar
  2. PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) – Rp267,99 miliar
  3. PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) – Rp109,12 miliar
  4. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) – Rp95,35 miliar
  5. PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) – Rp73,45 miliar
  6. PT Buana Lintas Laut Tbk. (BULL) – Rp58,33 miliar
  7. PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO) – Rp55,31 miliar
  8. PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) – Rp48,84 miliar
  9. PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) – Rp45,96 miliar
  10. PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) – Rp38,87 miliar

Pelaku pasar menilai pergerakan IHSG di awal tahun 2026 akan sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan suku bunga global, terutama sikap bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Selain itu, stabilitas nilai tukar rupiah dan rilis kinerja keuangan emiten sepanjang tahun buku 2025 juga akan menjadi faktor penting.

Meskipun asing mencatatkan aksi jual di penghujung tahun, analis menilai peluang masuknya kembali dana asing masih terbuka lebar. Hal ini terutama pada saham-saham berfundamental kuat dengan valuasi yang semakin menarik pasca koreksi akhir tahun.

Dengan berakhirnya perdagangan 2025, perhatian investor kini tertuju pada strategi investasi awal tahun atau fenomena January effect yang kerap menjadi katalis positif bagi pasar saham domestik.