Harga BBM Non-Subsidi Dikabarkan Naik Mulai 1 April, Pertamax Diprediksi Rp14.500
Pemerintah Indonesia diperkirakan akan melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi pada awal April 2026, menyusul tren kenaikan harga minyak dunia akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Kenaikan ini diprediksi akan menyasar produk seperti Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, dengan estimasi berkisar antara 5 hingga 10 persen.
Penyesuaian harga BBM non-subsidi ini umumnya mengikuti pola yang telah ditetapkan, yaitu setiap awal bulan pada tanggal 1, tepatnya pukul 00.00 WIB. Meskipun belum ada pengumuman resmi dari pemerintah mengenai besaran kenaikan spesifik, para ekonom dan analis telah memberikan proyeksi berdasarkan dinamika pasar global.
Dampak Konflik Timur Tengah Terasa April
Direktur Jenderal (Dirjen) Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Laode Sulaeman, sebelumnya telah mengindikasikan bahwa dampak konflik di Timur Tengah baru akan mulai dirasakan oleh Indonesia pada bulan April 2026.
“Memang dampaknya itu akan nanti bisa kita rasakan pada mulai April,” ujar Laode saat mengunjungi Kilang Pertamina RU VI Balongan pada Kamis, 12 Maret 2026 lalu.
Mekanisme penentuan harga BBM non-subsidi sendiri mengacu pada formula yang tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022. Formula ini mempertimbangkan harga acuan minyak dunia, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat, serta komponen pajak yang berlaku.
Proyeksi Kenaikan Harga Pertamax
Ekonom Universitas Airlangga, Wisnu Wibowo, memprediksi bahwa kenaikan harga BBM non-subsidi akan berada dalam batas moderat, yaitu sekitar 5 hingga 10 persen.
“Kenaikan BBM nonsubsidi saya prediksi masih di bawah 10 persen, sekitar 5 sampai 10 persen,” kata Wisnu kepada awak media pada Senin, 30 Maret 2026, seperti dilansir dari WartaKota.
Wisnu menjelaskan bahwa penentuan harga BBM non-subsidi secara berkala memang disesuaikan dengan tren harga minyak dunia, khususnya acuan Mean of Platts Singapore (MOPS) dan Argus. Lembaga-lembaga independen ini memainkan peran penting dalam menentukan harga komoditas global.
Prediksi serupa juga datang dari Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong. Ia memproyeksikan harga Pertamax (RON 92) dapat melonjak ke kisaran Rp13.500 hingga Rp14.500 per liter. Angka ini menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan dibandingkan harga Maret 2026 yang berada di sekitar Rp12.400 per liter.
Potensi Dampak Transmisi ke Sektor Lain
Kenaikan harga minyak mentah dunia yang dipicu oleh perang di Timur Tengah telah mendorong harga minyak mentah acuan Brent menyentuh level US$115,25 per barel. Angka ini jauh melampaui asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang ditetapkan sebesar US$70 per barel.
Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, menambahkan bahwa kenaikan harga BBM non-subsidi berpotensi memicu transmisi kenaikan harga di berbagai sektor, terutama pangan.
“Transmisi efek sampingnya dari BBM bisa ke mana-mana, termasuk ke inflasi pangan yang bisa tembus 6%–7% pada April,” jelasnya, sebagaimana dikutip dari Fajar.co.id.
Meskipun demikian, Wisnu Wibowo menekankan bahwa kenaikan harga BBM non-subsidi merupakan konsekuensi logis dari mekanisme pasar yang mengacu pada harga internasional.
“Kenaikan harga BBM non-subsidi dinilai sebagai konsekuensi logis karena skema penetapannya mengikuti harga pasar internasional,” tegasnya.
Pemerintah melalui Kementerian ESDM dan Pertamina diharapkan segera memberikan informasi resmi terkait penyesuaian harga BBM ini. Masyarakat dihimbau untuk memantau informasi terkini melalui laman resmi Pertamina untuk mengetahui detail harga BBM di masing-masing wilayah.