Detak Media — FIFA mulai menerapkan aturan baru yang memungkinkan wasit langsung mengeluarkan kartu merah kepada pemain yang menutup mulut saat berhadapan secara verbal dengan lawan di lapangan.
Aturan ini sudah diberlakukan oleh ofisial pertandingan pada Piala Dunia, setelah sebelumnya para pemain mendapat peringatan sebelum turnamen dimulai bahwa tindakan menutup mulut saat berkonfrontasi bisa dianggap usaha menyembunyikan ucapan kasar, diskriminatif, atau ofensif.
Insiden Terbaru: Hincapié Diusir
Insiden penerapan aturan terjadi saat bek Ekuador, Piero Hincapié, menerima kartu merah pada masa injury time babak kedua dalam laga babak 32 besar melawan Meksiko.
Hincapié diusir setelah terlibat adu mulut dengan penyerang Meksiko, Santi Giménez. Dalam penilaian ofisial, Hincapié menutup mulut saat berkonfrontasi sehingga mendapat kartu merah. Kartu itu tidak mempengaruhi hasil akhir karena pertandingan segera usai; Ekuador kalah 0-2 dan tersingkir.
Asal-Usul Aturan dan Penamaan
Perubahan aturan ini dimaksudkan untuk mencegah pemain menyembunyikan ucapan berpotensi menghina, diskriminatif, atau ofensif selama pertandingan. Aturan yang mengatur hal ini dijuluki “Prestianni Law”, merujuk pada kontroversi yang melibatkan Gianluca Prestianni saat pertandingan Liga Champions antara Benfica dan Real Madrid.
Pada insiden tersebut, Prestianni diduga melontarkan hinaan kepada Vinícius Júnior sambil mengangkat jerseynya untuk menutupi mulut. Kasus itu memicu reaksi dari pemain lain dan menjadi salah satu alasan Presiden FIFA Gianni Infantino mengusulkan perubahan aturan.
Proses Regulasi dan Penerapan
Panel pembuat aturan sepak bola, International Football Association Board (IFAB), menyepakati bahwa pemain dapat dihukum kartu merah jika menutup mulut saat berkonfrontasi verbal. Keputusan ini disetujui secara bulat oleh IFAB, yang melibatkan perwakilan FIFA dan empat federasi sepak bola Inggris, dalam pertemuan khusus menjelang Kongres FIFA.
Meski demikian, aturan itu tidak menjadi kewajiban dalam Laws of the Game. IFAB memberi ruang bagi penyelenggara turnamen, termasuk FIFA, untuk mengadopsi dan menerapkannya sesuai kebijakan masing-masing.
Kasus Sebelumnya dan Dampak Sanksi
Hincapié bukan yang pertama terkena sanksi berdasarkan aturan ini. Sebelumnya, gelandang Paraguay Miguel Almirón menjadi pemain pertama yang mendapat kartu merah karena menutup mulut saat berkonfrontasi dengan bek Turki, Mert Mulder, pada fase grup.
Meskipun Paraguay tetap menang 1-0 atas Turki saat bermain dengan 10 pemain, Almirón harus absen pada pertandingan terakhir fase grup melawan Australia. FIFA menyatakan keputusan kartu merah tersebut tidak dapat diajukan banding.
Dalam aturan pertandingan, pemain yang mendapat kartu merah harus meninggalkan lapangan tanpa bisa digantikan, sehingga tim melanjutkan dengan 10 pemain. Selain itu, pemain tersebut otomatis menjalani skorsing satu laga berikutnya, sementara tim dapat memulai pertandingan selanjutnya dengan 11 pemain namun tanpa pemain yang sedang menjalani hukuman.
Ikuti Detak Media
