— Jakarta — Pemerintah melalui Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) memperkuat upaya mendorong industri gim nasional agar lebih kompetitif di kancah global. Langkah terbaru berupa penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Ekraf dan Coda, platform perdagangan digital yang beroperasi di puluhan pasar global.

Kerja sama ini ditujukan memperluas akses komersial bagi pengembang gim Indonesia, termasuk penyediaan solusi pembayaran yang adaptif dan jaringan distribusi yang mendukung penetrasi pasar internasional.

Data dari Niko Partner yang dikutip menunjukkan industri gim Indonesia mencatat pendapatan lebih dari US$1,1 miliar pada 2025, dengan proyeksi naik hingga US$1,5 miliar pada 2030. Sementara Boston Consulting Group (BCG) memperkirakan industri gim global akan tumbuh mendekati US$350 miliar pada 2030.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Irene Umar menilai kerja sama formal antara Ekraf dan Coda merupakan bukti komitmen pemerintah dan sektor swasta untuk membangun ekosistem gim yang kokoh.

“Kolaborasi antara Coda, Ekraf, dan para pengembang gim di Indonesia bukan sekadar penandatanganan nota kesepahaman di atas kertas. Tapi ini adalah langkah formal yang menunjukkan keseriusan dan komitmen Pemerintah dan sektor industri seperti Coda,” kata Irene.

Irene mengatakan kolaborasi akan dieksplorasi lebih jauh melalui berbagai program demi memastikan kreator Indonesia mendapat akses ke peluang global dan mendukung ketahanan serta daya saing industri gim.

“Bagi semua pengembang gim di sini, Indonesia bukan hanya negeri penuh berbasis pemain gim yang besar atau target pasar yang hebat. Melalui penguatan ekosistem ini, kita ingin membuktikan bahwa kita tidak hanya mampu memenangi kejuaran dunia sebagai pemain, tetapi juga menguasai pasar global sebagai kreator yang hebat,” ujar Irene.

Perubahan Perilaku Pembayaran

Menurut laporan Niko Partner, di kawasan Asia Tenggara pendapatan gim mobile yang berasal dari metode pembayaran di luar aplikasi (out of app) meningkat menjadi sekitar 38%, naik dari 21% dua tahun sebelumnya.

Selain itu, dompet digital kini dipakai oleh 55% pemain gim mobile untuk transaksi, sementara hampir seperempat menggunakan pembayaran melalui operator seluler (potong pulsa). Tren ini menyoroti kebutuhan solusi pembayaran lokal yang adaptif untuk membantu publisher menjangkau pemain dan mengoptimalkan pendapatan baru.

Empower Kreator Gim

CEO Coda Shane Happach menyatakan Indonesia memiliki komunitas pengembang gim yang dinamis dengan potensi pertumbuhan besar, namun memerlukan akses infrastruktur, jejaring, dan peluang komersial.

“Melalui kemitraan dengan Ekraf, kami ingin mendampingi lebih banyak pengembang dalam perjalanan tersebut. Dengan memperluas akses ke perangkat, keahlian, dan jaringan global, kami berharap dapat membantu lebih banyak studio gim di Indonesia membangun bisnis yang berkelanjutan dan menjangkau pemain di seluruh dunia,” kata Shane.

Nota kesepahaman ini melanjutkan inisiatif sebelumnya yang didukung Ekraf, termasuk peningkatan kapasitas lebih dari 70 pengembang lokal lewat program Global Game Jam Pre-Workshop di Jakarta, serta upaya memperluas pasar internasional melalui platform Codashop.

Empat Tren Strategis Menurut BCG

Boston Consulting Group mengidentifikasi empat tren yang dinilai akan membentuk industri gim dalam 5–10 tahun ke depan. Pertama, penggunaan AI generatif (GenAI) yang berpotensi mempercepat pembuatan game baru; pada pertengahan 2025 sekitar 20% game baru mengungkapkan penggunaan AI, dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya menurut analisis BCG.

Kedua, ekspansi konten buatan pengguna (user generated content/UGC) yang meningkatkan keterlibatan. Ketiga, munculnya cloud gaming yang mengubah distribusi dan memperluas akses tanpa tergantung perangkat keras. Keempat, pembukaan toko aplikasi baru yang memberi pengembang peluang menurunkan biaya dan mengendalikan distribusi mereka sendiri.