Detak.media — S&P Global Ratings yang mempertahankan prospek stabil untuk peringkat utang Indonesia dinilai meredakan tekanan premi risiko yang selama ini membebani Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sentimen itu mendorong BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan target IHSG hingga akhir 2026 pada level 7.200.
Penetapan target ini didasarkan pada penilaian valuasi dan prospek laba emiten, yang dinilai masih memberikan profil risk-reward menarik bagi investor meski aliran modal asing belum pulih sepenuhnya.
Kami menilai valuasi IHSG saat ini, yakni P/E sebesar 9,1 kali, terlalu pesimistis. Valuasi tersebut seolah-olah mencerminkan risiko penurunan peringkat yang lebih buruk sekaligus prospek pertumbuhan laba yang negatif pada 2027,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan dan Wilastita Muthia Sofi dalam risetnya, Selasa (14/7/2026).
BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan target IHSG hingga akhir 2026 di level 7.200. Target tersebut mencerminkan proyeksi P/E sebesar 10 kali, dengan asumsi pertumbuhan laba per saham (earnings per share/EPS) sebesar 8% pada 2027.
Perhitungan tersebut memperkuat pandangan bahwa perbandingan antara potensi keuntungan dan risiko atau profil risk-reward IHSG masih menarik.
Sementara itu, Founder Republik Investor, Hendra Wardana mengatakan bahwa berita positif dari S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan outlook stabil menjadi katalis utama yang mendorong IHSG kembali menembus level psikologis 6.000.
“Keputusan tersebut memberikan sinyal bahwa lembaga pemeringkat internasional masih menilai fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat, mulai dari kemampuan menjaga stabilitas fiskal, ketahanan sektor keuangan, hingga prospek pertumbuhan ekonomi jangka menengah,” kata dia.
Bagi pelaku pasar, menurut Hendra, kepastian bahwa tidak terjadi penurunan peringkat maupun perubahan outlook menjadi kabar yang melegakan karena sebelumnya sempat muncul kekhawatiran adanya revisi negatif di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Namun, penguatan IHSG belum sepenuhnya mencerminkan masuknya dana investor asing secara agresif. Sebagian investor asing masih memilih bersikap hati-hati.
Karena itu, meskipun prospek IHSG dalam jangka pendek masih relatif positif setelah memperoleh dukungan dari keputusan S&P, pendekatan investasi yang selektif tetap menjadi strategi yang paling bijaksana, dengan fokus pada saham-saham berfundamental kuat yang memiliki kinerja dan prospek pertumbuhan laba yang solid.
Ikuti Detak.media
