— Nama Ki Hajar Dewantara tak bisa dipisahkan dari peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) setiap 2 Mei. Tokoh bernama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat ini bukan hanya pendidik, tetapi juga pejuang pergerakan nasional yang meletakkan fondasi penting bagi sistem pendidikan Indonesia modern.

Tanggal kelahirannya, 2 Mei 1889, kemudian ditetapkan sebagai Hardiknas melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959. Penetapan itu menjadi pengakuan resmi negara atas kontribusinya dalam dunia pendidikan dan perjuangan kemerdekaan.

Logo dan Tema Hardiknas 2026 Resmi Dirilis, Ini Link Downloadnya

Latar Belakang Bangsawan yang Memilih Jalan Rakyat

Lahir di lingkungan bangsawan Puro Pakualaman, Yogyakarta, Ki Hajar Dewantara mengenyam pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS). Ia sempat melanjutkan pendidikan ke STOVIA, sekolah kedokteran pribumi di Batavia, namun tidak menamatkannya karena kondisi kesehatan.

Alih-alih berhenti berkarya, ia justru aktif menulis di berbagai surat kabar seperti Sediotomo, De Expres, Oetoesan Hindia, Tjahaja Timoer, hingga Poesara. Dunia jurnalistik menjadi pintu masuknya dalam menyuarakan kritik terhadap kebijakan kolonial yang diskriminatif terhadap pribumi, terutama di bidang pendidikan.

Ki Hajar Dewantara wafat pada 26 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata, kompleks pemakaman keluarga Taman Siswa.

Aktivis Pergerakan dan Masa Pengasingan

Kiprahnya di pergerakan nasional dimulai saat bergabung dengan Budi Utomo pada 1908. Bersama Ernest Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo, ia kemudian mendirikan Indische Partij pada 1912, partai politik yang secara terang-terangan menyuarakan kemerdekaan Hindia Belanda.

Tulisannya yang terkenal, “Als Ik Eens Nederlander Was” (Seandainya Aku Seorang Belanda), mengkritik keras pemerintah kolonial yang meminta rakyat jajahan ikut merayakan kemerdekaan Belanda. Tulisan itu membuatnya ditangkap dan diasingkan ke Belanda pada 1913.

Masa pengasingan (1913–1919) justru dimanfaatkannya untuk mempelajari sistem pendidikan di Eropa. Dari sinilah gagasan pendidikan berbasis kebangsaan dan kemerdekaan berpikir mulai matang.

Pedoman Resmi Upacara Hari Pendidikan Nasional 2026 Dirilis, Ini Susunan Acaranya

Lahirnya Taman Siswa dan Perubahan Nama

Sepulang dari Belanda, Soewardi Soerjaningrat semakin fokus pada pendidikan. Pada 3 Juli 1922, ia mendirikan Perguruan Taman Siswa di Yogyakarta.

Pada tahun yang sama, ia juga mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara. Pergantian nama ini bukan sekadar simbolis, tetapi pernyataan sikap untuk meninggalkan gelar kebangsawanan dan lebih dekat dengan rakyat.

Taman Siswa hadir sebagai alternatif pendidikan bagi pribumi yang saat itu sulit mengakses sekolah-sekolah milik pemerintah kolonial. Konsep pendidikannya menekankan kemerdekaan belajar, kebudayaan nasional, serta pembentukan karakter.

Filosofi Pendidikan yang Abadi

Ki Hajar Dewantara mewariskan filosofi pendidikan yang hingga kini masih relevan:

“Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.”

Artinya: di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan.

Semboyan Tut Wuri Handayani kemudian diabadikan sebagai bagian dari lambang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Menteri Pendidikan Pertama Indonesia

Setelah Indonesia merdeka, Ki Hajar Dewantara dipercaya menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan pertama pada Kabinet Presidensial 1945. Perannya sangat penting dalam merumuskan arah pendidikan nasional di masa awal kemerdekaan.

Atas jasa-jasanya, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Peringatan Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei bukan sekadar seremoni tahunan. Tanggal tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah alat perjuangan, sebagaimana dicontohkan Ki Hajar Dewantara: membebaskan pikiran, memerdekakan manusia, dan membangun bangsa melalui ilmu pengetahuan.

10 Link Poster Hari Pendidikan Nasional 2026 yang Bisa Diedit di Canva

Pemikiran dan perjuangannya menjadikan pendidikan bukan hanya proses belajar, tetapi proses pembentukan karakter dan kesadaran kebangsaan.