— Pemerintah menempatkan penguatan kerja sama bilateral dengan Rusia sebagai salah satu prioritas dalam upaya memperluas kemitraan strategis yang saling menguntungkan. Pernyataan itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam perayaan Hari Nasional Rusia di Jakarta.

Airlangga menyampaikan hal tersebut pada acara resepsi yang digelar pada Senin (29/6/2026) malam dan dikonfirmasi dalam keterangan resmi keesokan harinya.

“Penguatan kerja sama bilateral menjadi salah satu prioritas pemerintah dalam memperluas kemitraan strategis yang saling menguntungkan dengan berbagai negara, termasuk dengan Rusia yang telah menjadi salah satu mitra strategis Indonesia selama 76 tahun hubungan diplomatik,” ujar Airlangga.

Menurut Airlangga, fondasi hubungan yang dibangun oleh generasi sebelumnya dipertahankan dan dikembangkan lintas sektor. Kedua negara dinilai telah membentuk kemitraan komprehensif pada dialog politik, ekonomi, perdagangan, investasi, energi, pertahanan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kebudayaan.

Indikator hubungan ekonomi yang positif tercatat pada 2025 ketika nilai perdagangan bilateral mencapai US$5 miliar atau sekitar Rp89,4 triliun. Di sisi lain, sektor pariwisata juga menunjukkan peningkatan, salah satunya setelah dibukanya rute penerbangan langsung Moskow–Denpasar (Bali).

Langkah Kelembagaan Pasca-Kunjungan

Sebagai tindak lanjut, pemerintah melakukan kunjungan kerja strategis ke Kazan, Rusia, pada Mei lalu. Airlangga menekankan pentingnya kerja sama kelembagaan yang kuat antara pemerintah dan dunia usaha sebagai landasan kemitraan ekonomi kedua negara.

“Kedua negara meyakini bahwa kerja sama kelembagaan yang kuat, didukung keterlibatan aktif antara pemerintah dan dunia usaha, akan terus menjadi landasan bagi kemitraan ekonomi Indonesia dan Rusia,” tutup Airlangga.

Suasana Resepsi dan Kehadiran Tokoh

Resepsi Hari Nasional Rusia berlangsung hangat dan dihadiri sejumlah pejabat pemerintahan, antara lain Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, serta Ketua DPD RI Sultan B. Najamudin. Sejumlah duta besar negara sahabat juga hadir memberikan penghormatan.

Dalam pidatonya, Airlangga menempatkan hubungan yang terus diperkuat dengan Rusia sebagai bagian dari kebijakan luar negeri Indonesia yang berpegang pada prinsip “Bebas Aktif”. Menurut dia, pendekatan ini ditempuh di tengah dinamika geopolitik global dan berbagai tekanan eksternal agar kebijakan luar negeri tetap pragmatis dan berpihak pada kepentingan nasional serta pemulihan ekonomi domestik.

Airlangga juga menyinggung posisi Rusia sebagai mitra historis yang berperan dalam pasokan energi, pupuk, gandum, dan teknologi pertahanan. Pengamanan nilai perdagangan dan pembukaan koridor pariwisata langsung dinilai sebagai langkah strategis untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi makro Indonesia.

Dengan memperkuat kerja sama kelembagaan dan keterlibatan dunia usaha, pemerintah mengirimkan pesan kesiapan menjalin kemitraan dengan kekuatan ekonomi lain demi kesejahteraan bersama serta peran Indonesia sebagai jembatan diplomasi yang netral dan inklusif.