— Pelatih tim nasional Inggris, Thomas Tuchel, memberi tanggapan panjang lebar terhadap pernyataan Jude Bellingham yang menimbulkan perdebatan setelah laga perempat final Piala Dunia 2026 melawan Norwegia.

Bellingham mencetak dua gol saat Inggris menang 2-1 setelah perpanjangan waktu. Menjelang semifinal kontra Argentina, Tuchel mengatakan komentar pemainnya itu tidak menjadi masalah dan menyatakan bahwa sebagian analisisnya hanya menyorot sisi negatif permainan tim.

Respons Terhadap Kritik dan Pernyataan Bellingham

Tuchel sebelumnya mengkritik aspek teknis permainan skuad “The Three Lions” setelah pertandingan yang berlangsung hingga dua babak tambahan, namun tetap memuji mentalitas tim karena mampu menemukan cara untuk menang.

Bellingham ditanya terkait kritik tersebut dan menjawab: “Mungkin ini berarti dia tidak tahu bagaimana cara bermain dalam situasi seperti ini melawan Erling Haaland, Martin Ødegaard, Antonio Nusa, dan Alexander Sørloth.”

Menanggapi jawaban itu, Tuchel menyatakan bahwa ia tidak melihat ada masalah dan meyakini pemain berusia 23 tahun itu hanya dipaparkan pada sisi negatif dari analisisnya. Dia lantas berkata: “Karier saya biasa-biasa saja, paling-paling. Tapi saya tidak berpikir seseorang harus menjadi pemain untuk menjadi pelatih; ada pepatah lucu, ‘Kamu tidak harus menjadi kuda untuk menjadi penunggang kuda yang baik!’”

Tuchel melanjutkan dengan menegaskan bahwa komentar mereka berasal dari perspektif yang sama, yakni persaingan dan upaya mencapai keunggulan kompetitif. “Saya rasa komentar kami berasal dari sudut pandang yang sama, yaitu persaingan dan upaya untuk mencapai keunggulan dalam kompetisi. Saya hanya menyoroti sisi negatifnya. Saya menyebutnya sebagai pemain kelas dunia, dan mengatakan bahwa ia kembali menampilkan performa kelas dunia yang menentukan hasil pertandingan. Saya juga menegaskan bahwa mentalitasnya luar biasa.”

Ia menambahkan: “Dia ditanya, ‘Apa pendapatmu? Pelatih bilang kamu ceroboh?’ Mungkin saya akan menjawab hal yang sama jika saya bermain selama 120 menit, mencetak dua gol, dan sudah berusaha sekuat tenaga. Itu reaksi yang sangat wajar bagi pemain dengan mentalitas seperti dia.”

Pelatih Jerman itu juga mengatakan tidak ada masalah internal setelah insiden itu. “Jadi, tidak ada masalah. Saya berbicara kepada seluruh tim di ruang ganti setelah itu, dan pesannya sama. Saya menjelaskan hal itu lagi pada Senin malam, menyerukan agar kita terus maju. Kemudian dalam pembicaraan itu, kami langsung menetapkan arah baru, menuju semifinal melawan Argentina.”

Persiapan Menghadapi Argentina dan Messi

Tuchel menyadari Argentina akan datang dengan motivasi kuat, termasuk faktor sejarah ketegangan antara kedua negara. “Mereka termotivasi oleh sejarah, dan itu sangat berarti bagi mereka. Jadi, itulah yang kami antisipasi dan hadapi.”

Dia menyebut pengalamannya melatih beberapa pemain Argentina membuatnya merasakan semangat juang mereka. “Anda bisa melihat semangat juang yang mereka miliki. Anda bisa merasakannya saat mereka tertinggal satu gol, dan saat pertandingan berlangsung ketat. Mereka adalah tim yang kuat. Mereka hampir sama dengan tim yang ada empat tahun lalu.”

Tuchel melanjutkan: “Anda bisa melihat kekompakan dan pengorbanan yang mereka tunjukkan. Mereka tidak kehilangan ketenangan saat tertinggal dalam skor. Mereka percaya pada gaya permainan mereka. Dan gaya permainan mereka sangat emosional. Begitu pula di Qatar, dan begitu pula sekarang.”

Meski demikian, Tuchel menegaskan Inggris juga siap secara mental dan tak kalah bersemangat menghadapi tantangan tersebut. “Tapi kami juga penuh gairah, memiliki tekad, dan memiliki mentalitas yang diperlukan untuk menghadapi tantangan. Kami siap untuk itu. Saatnya bertindak. Saya merasakan perubahan suasana hati lain di kamp pelatihan, ‘Ya Tuhan, kami sudah semakin dekat sekarang.’”

Untuk lolos ke final, Inggris harus menghentikan Lionel Messi yang telah mengemas delapan gol. Tuchel mengakui itu tak mudah, namun optimistis, terutama setelah penampilan timnya melawan Erling Haaland akhir pekan lalu.

Dia memaparkan: “Sungguh luar biasa bagaimana Messi selalu mampu mencapai prestasi ini, dengan berbagai cara yang berbeda. Dia menemukan ruang kosong, menangkap momen-momen krusial, dan yang terpenting, seluruh tim percaya pada konsep ini dan mendukungnya. Mereka sudah benar-benar siap.”

Tuchel menambahkan tentang pendekatan menghadapi Messi: “Saat dia mulai beraksi, dia akan membuat perbedaan. Apakah kita bisa bersiap untuk itu, menemukan solusi terbaik, dan terlalu fokus padanya? Tidak, tapi kita harus berani menghadapinya, menghentikan umpan-umpan, dan mengawasi setiap gerakannya saat dia menguasai bola. Kami sangat menyadari bahwa kami tidak bisa menghentikannya sepanjang waktu. Dia adalah pemain yang sangat berbeda dari Erling Haaland, tetapi kami bermain sangat baik dengan cara yang seharusnya kami terapkan saat melawan Erling, jadi kami akan menemukan caranya sekarang.”