Snapdragon 8 Ultra Pro Berpotensi Jadi Chip Smartphone Termahal Sepanjang Sejarah
Qualcomm dilaporkan sedang mempersiapkan langkah signifikan di pasar prosesor mobile super-premium. Perusahaan teknologi ini dikabarkan akan merilis generasi terbaru chipset flagshipnya, Snapdragon 8 Ultra, dalam dua varian: standar dan Pro. Chipset ini diproyeksikan meluncur pada tahun 2026 dan berpotensi memecahkan rekor sebagai chip ponsel termahal yang pernah diproduksi Qualcomm.
Langkah menghadirkan dua varian ini diduga sebagai respons terhadap lonjakan biaya produksi semikonduktor, terutama seiring industri memasuki era fabrikasi 2 nanometer (nm). Qualcomm ditengarai harus mencari keseimbangan antara menawarkan performa ekstrem dan menjaga keberlanjutan harga bagi para produsen smartphone global.
Biaya Produksi 2nm Melonjak Tajam
Transisi menuju proses fabrikasi 2nm, yang dikembangkan oleh TSMC, merupakan lompatan teknologi penting. Teknologi ini menjanjikan peningkatan efisiensi daya dan performa komputasi, termasuk dalam pemrosesan kecerdasan buatan (AI). Namun, kemajuan teknologi ini datang dengan konsekuensi biaya yang sangat tinggi.
Estimasi industri semikonduktor menyebutkan bahwa biaya satu wafer silikon 2nm dapat mencapai sekitar USD 30.000, atau setara Rp486 juta (dengan kurs Rp16.200 per USD). Angka ini jauh melampaui biaya wafer 3nm dan 4nm yang digunakan pada chipset flagship saat ini, sehingga dipastikan akan berdampak langsung pada harga jual per unit chip.
Perbedaan Teknis Snapdragon 8 Ultra Standar dan Pro
Varian Snapdragon 8 Ultra Pro diposisikan sebagai puncak inovasi Qualcomm. Chipset ini akan didukung teknologi terbaru, termasuk memori LPDDR6 yang menawarkan bandwidth lebih tinggi. Peningkatan ini krusial untuk kebutuhan AI, komputasi berat, dan pengalaman gaming kelas atas. Chip ini secara khusus ditujukan untuk smartphone ultra-flagship yang menuntut performa maksimal tanpa kompromi.
Sementara itu, Snapdragon 8 Ultra versi standar akan menjadi opsi flagship yang lebih seimbang. Chip ini dikabarkan mengusung konfigurasi CPU “2+3+3” dan tetap mendukung memori LPDDR5X. Teknologi memori ini dikenal sudah matang dan efisien dari sisi konsumsi daya. Varian standar juga diklaim menawarkan manajemen termal dan efisiensi baterai yang lebih baik dibandingkan versi Pro.
Strategi Qualcomm dan Dampaknya ke Harga Smartphone
Dari sisi strategi pasar, Qualcomm diperkirakan akan menawarkan Snapdragon 8 Ultra standar sebagai solusi utama bagi mayoritas ponsel flagship. Tujuannya adalah agar harga jual perangkat tetap kompetitif di pasar. Sebaliknya, Snapdragon 8 Ultra Pro akan difokuskan untuk model flagship ultra-premium dengan banderol harga tertinggi.
Chip Pro ini diprediksi akan dibanderol di atas USD 300 per unit, atau sekitar Rp4,86 juta. Angka ini menjadikannya salah satu chipset mobile termahal dalam sejarah. Kenaikan harga chipset ini berpotensi mendorong peningkatan harga smartphone flagship generasi 2026, terutama pada merek yang menargetkan segmen ultra-high-end.
Dengan tren biaya produksi yang terus meningkat, kehadiran Snapdragon 8 Ultra Pro menandai era baru di mana inovasi chipset semakin mahal. Hal ini juga semakin memperjelas jurang pemisah antara segmen flagship ‘reguler’ dan flagship super-premium di pasar global.