— MacBook Neo menjadi salah satu produk Apple yang paling banyak menarik perhatian sepanjang 2026. Laptop yang diposisikan sebagai pilihan lebih terjangkau dibanding lini MacBook Air dan MacBook Pro itu mendapat sambutan positif sejak diperkenalkan. Tingginya minat konsumen bahkan membuat stok di sejumlah wilayah cepat habis dalam waktu singkat.

Namun, tingginya permintaan ternyata membawa tantangan baru bagi Apple. Perusahaan disebut mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan produksi akibat pasokan chip A18 Pro yang terbatas. Kondisi tersebut diperkirakan berdampak langsung pada jumlah unit MacBook Neo yang dapat dikirim hingga akhir tahun.

Laporan terbaru menyebutkan bahwa target distribusi laptop tersebut kini harus direvisi karena Apple harus membagi pasokan chipset untuk beberapa produk sekaligus. Akibatnya, konsumen kemungkinan akan menghadapi waktu tunggu yang lebih lama dibanding perkiraan sebelumnya.

Produksi MacBook Neo Diperkirakan Berkurang Signifikan

Menurut laporan yang beredar, Apple diperkirakan hanya mampu mengirimkan sekitar 6 hingga 7 juta unit MacBook Neo sepanjang 2026.

Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibanding proyeksi awal yang disebut mencapai sekitar 10 juta unit. Artinya, terdapat penurunan sekitar 40 persen dari target distribusi yang sebelumnya telah disusun perusahaan.

Pengurangan target tersebut bukan disebabkan oleh rendahnya minat pasar. Sebaliknya, permintaan terhadap MacBook Neo justru tetap berada pada level tinggi sejak peluncuran perdananya.

Faktor utama yang memengaruhi produksi adalah keterbatasan pasokan komponen utama, khususnya chipset A18 Pro yang menjadi otak pemrosesan perangkat tersebut.

Chip A18 Pro Menjadi Komponen yang Paling Sulit Dipenuhi

Apple memilih menggunakan chip A18 Pro pada MacBook Neo untuk menghadirkan performa tinggi dengan konsumsi daya yang tetap efisien.

Chip yang sama juga digunakan pada lini iPhone premium sehingga kebutuhan produksinya meningkat secara signifikan.

Karena dipakai oleh dua kategori perangkat sekaligus, kapasitas produksi yang tersedia menjadi terbatas.

TSMC sebagai mitra manufaktur chip Apple dikabarkan belum mampu memenuhi seluruh permintaan yang dibutuhkan perusahaan dalam waktu bersamaan.

Situasi tersebut memaksa Apple menentukan prioritas distribusi komponen agar peluncuran berbagai produk tetap berjalan sesuai rencana.

Persaingan Kapasitas Produksi Semakin Ketat

Selain meningkatnya permintaan perangkat, proses produksi chip berteknologi 3 nanometer juga menjadi tantangan tersendiri.

Teknologi fabrikasi tersebut membutuhkan kapasitas manufaktur yang sangat besar dengan tingkat produksi yang kompleks.

Akibatnya, slot produksi di fasilitas TSMC menjadi semakin padat karena juga digunakan berbagai perusahaan teknologi lain yang mengembangkan chipset generasi terbaru.

Kondisi tersebut membuat Apple tidak bisa begitu saja meningkatkan jumlah pesanan chip dalam waktu singkat.

Walaupun memiliki hubungan kerja sama yang sangat erat dengan TSMC, kapasitas produksi tetap memiliki batas sehingga distribusi komponen harus dilakukan secara bertahap.

Harga Komponen Ikut Memberikan Tekanan

Tidak hanya menghadapi keterbatasan chip, Apple juga dikabarkan mengalami kenaikan biaya produksi dari komponen lain.

Salah satunya berasal dari harga DRAM yang terus mengalami peningkatan dalam beberapa bulan terakhir.

Naiknya biaya komponen tersebut membuat biaya produksi MacBook Neo ikut bertambah.

Laporan yang beredar menyebutkan Apple bahkan telah menyesuaikan harga jual MacBook Neo sekitar 100 dolar AS pada beberapa varian sebagai respons terhadap meningkatnya biaya produksi.

Langkah tersebut dilakukan agar margin keuntungan tetap terjaga tanpa harus mengurangi spesifikasi utama yang ditawarkan kepada konsumen.

Generasi Berikutnya Berpotensi Menghadapi Tantangan Serupa

Permasalahan pasokan chip diperkirakan tidak hanya terjadi pada MacBook Neo generasi pertama.

Apabila Apple kembali menggunakan chipset yang sama dengan lini iPhone generasi berikutnya, tantangan serupa berpotensi kembali muncul.

Beberapa analis memperkirakan MacBook Neo penerusnya dapat menggunakan chip A19 Pro atau bahkan A20 Pro, mengikuti perkembangan prosesor yang dipakai pada iPhone terbaru.

Namun, penggunaan teknologi fabrikasi yang semakin kecil diperkirakan membuat biaya produksi wafer semakin tinggi.

Apalagi proses produksi chip 2 nanometer yang sedang dipersiapkan TSMC diprediksi memiliki biaya manufaktur lebih mahal dibanding teknologi 3 nanometer saat ini.

Apple Perlu Menjaga Keseimbangan Harga dan Produksi

MacBook Neo sejak awal diposisikan sebagai laptop Apple dengan harga yang lebih mudah dijangkau dibanding lini premium.

Strategi tersebut terbukti berhasil menarik minat konsumen yang sebelumnya belum pernah menggunakan komputer Mac.

Namun, meningkatnya harga komponen dan keterbatasan kapasitas produksi menjadi tantangan baru yang harus dihadapi perusahaan.

Apple perlu menjaga keseimbangan antara harga jual, spesifikasi, serta kemampuan memenuhi permintaan pasar agar MacBook Neo tetap kompetitif di kelasnya.

Jika pasokan chip kembali mengalami tekanan pada generasi berikutnya, perusahaan kemungkinan harus menentukan strategi baru, baik dengan meningkatkan harga, mengurangi volume produksi, maupun mengoptimalkan penggunaan chipset yang tersedia.

Untuk saat ini, tingginya permintaan menunjukkan bahwa MacBook Neo berhasil menjadi salah satu produk Apple yang mendapat sambutan sangat positif. Meski demikian, kemampuan Apple memenuhi kebutuhan pasar dalam beberapa bulan ke depan akan sangat bergantung pada stabilitas pasokan chip dan kapasitas produksi dari mitra manufakturnya.