— Industri otomotif Indonesia mencatat perbaikan penjualan pada paruh pertama 2026, memberi harapan bahwa target penjualan tahun ini sebesar 850.000 unit masih mungkin dicapai. Data resmi dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan peningkatan pada dua metrik utama dibandingkan periode sama tahun lalu.

Berdasarkan catatan Gaikindo, penjualan wholesales Januari–Juni 2026 mencapai 436.564 unit, naik 15,9% dari 376.707 unit pada semester I-2025. Sementara penjualan retail tercatat 433.848 unit, meningkat 10,5% dari 392.778 unit tahun sebelumnya.

Pergerakan Bulanan dan Proyeksi

Secara bulanan, penjualan wholesales pada Juni 2026 sebesar 77.550 unit, meningkat 12% dibanding Mei yang tercatat 69.219 unit. Penjualan retail juga tumbuh 3,6% menjadi 74.507 unit dari 71.890 unit pada bulan sebelumnya.

Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, menyambut hasil itu sebagai kabar baik setelah periode kehati-hatian pasar. Dia mengatakan pihaknya sempat mengantisipasi penurunan karena faktor musiman seperti liburan dan aktivitas sekolah, namun realisasi penjualan menunjukkan arah yang lebih positif.

“Kita belum punya detailnya, tapi sementara ini kita syukuri saja karena kita mengantisipasi adanya penurunan. Ini kan orang sedang fokus ke liburan, anak sekolah, dan kuliah. Ternyata hasilnya menggembirakan,” ujar Kukuh.

Kukuh memperkirakan jika tren penjualan bertahan di kisaran 70 ribu unit per bulan hingga akhir tahun, target 850.000 unit berpotensi dilampaui. “Kalau kita bisa konsisten penjualan di angka 70 ribuan terus per bulan sampai akhir tahun, mungkin kita bisa melewati targetnya,” katanya.

Pendorong Permintaan dan Respons APM

Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia, Fransiscus Soerjopranoto, menilai kenaikan pada Juni sebagai tanda perkembangan positif. Menurutnya, permintaan pasar masih cukup baik meski faktor ekonomi dan daya beli masyarakat tetap menjadi perhatian.

“Kami juga melihat permintaan pasar pada awal semester II masih cukup baik, meskipun kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat tetap menjadi faktor yang perlu dicermati,” kata Fransiscus, yang akrab disapa Suryo.

Suryo mengatakan peningkatan penjualan Hyundai didukung minat konsumen pada model-model di segmen SUV, MPV, dan kendaraan elektrifikasi. Dia menyebut beberapa model yang menunjukkan performa positif, antara lain Hyundai Stargazer, Hyundai Kona Electric, dan Hyundai Palisade.

Kebijakan dan Tantangan Industri

Kukuh menekankan perlunya kebijakan otomotif yang konsisten dan berjangka panjang agar investasi di sektor ini dapat berjalan baik. Dia mengingatkan perubahan kebijakan yang cepat dapat mengganggu perencanaan investasi dan strategi para agen pemegang merek (APM).

“Kita perlu kebijakan yang konsisten dan sifatnya jangka panjang, misalnya 10 tahun sampai 50 tahun ke depan seperti apa kebijakannya. Jangan kemudian berubah sekarang apa dan tahun depan apa lagi,” ujar Kukuh.

Salah satu isu yang disebut adalah implementasi standar emisi Euro 4, di mana kesiapan bahan bakar sesuai standar tersebut dinilai belum merata. Kukuh menyatakan perusahaan yang telah berinvestasi pada Euro 4 menghadapi kendala karena ketersediaan bahan bakar belum optimal.

“Kita sudah investasi Euro 4, tetapi bahan bakarnya belum sepenuhnya tersedia. Kasihan perusahaan yang sudah investasi, tapi kendaraan tersebut tidak optimal digunakan karena bahan bakarnya sulit,” kata Kukuh.

Kukuh juga mengingatkan agar industri mengembangkan beragam pilihan teknologi, dari kendaraan konvensional, hybrid, plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), hingga kendaraan listrik murni. Ia menyoroti tingkat kandungan lokal (TKDN) pada hybrid dan plug-in hybrid yang relatif lebih tinggi dibanding kendaraan listrik berbasis baterai, sehingga berkontribusi lebih besar pada penyerapan tenaga kerja dan rantai pasok lokal.

Performa Ekspor

Gaikindo melaporkan ekspor kendaraan utuh Indonesia mencapai 207.222 unit selama Januari–Mei 2026, naik 7,64% secara year-on-year. Dari total tersebut, Toyota menyumbang 121.832 unit, meningkat 12,29% dari 108.501 unit pada periode yang sama tahun lalu, sehingga pangsa ekspor Toyota mencapai sekitar 58,8%.

Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, I Nyoman Winaya Adnyana, mengatakan capaian itu menunjukkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional. Toyota mencatat peningkatan permintaan dari wilayah Asia sebesar 17,8% dan Amerika 20,9%, meski permintaan dari kawasan Timur Tengah turun sekitar 20,81%.

Kontributor ekspor terbesar Toyota berasal dari model Avanza/Veloz (27.647 unit), Raize (22.262 unit), dan Yaris Cross (16.855 unit). Selain itu, kendaraan elektrifikasi mulai menjadi sumber pertumbuhan, dengan ekspor Kijang Innova Zenix Hybrid dan Yaris Cross Hybrid mencapai 10.632 unit, naik 42,8% dibanding periode sama tahun lalu.

Nyoman menegaskan komitmen Toyota untuk terus memperkuat kontribusi manufaktur Indonesia pada jaringan produksi global, termasuk mengekspor kendaraan buatan dalam negeri ke lebih dari 100 negara.