— PT Astra International Tbk mencatat momentum positif pada paruh pertama 2026 setelah penjualan mobil di pasar domestik meningkat dibanding periode sama tahun lalu. Kenaikan ini menegaskan kemampuan Astra mempertahankan pangsa pasar di atas 50% sesuai target perseroan.

Hingga semester I-2026, Astra melaporkan penjualan domestik mencapai 222.371 unit, tumbuh 10% dari 201.633 unit pada semester I-2025. Secara tahunan dan bulanan tercatat kenaikan masing-masing 37% dan 4%.

Perbaikan Penjualan Didukung Beberapa Momentum

Sektor otomotif Astra membaik tidak hanya karena efek low-based dari tahun sebelumnya, tetapi juga oleh sejumlah katalis pasar. Salah satu faktor yang meringankan tekanan terhadap penjualan kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) adalah penundaan insentif untuk kendaraan listrik berbasis baterai (BEV), yang ditunda dari Juli ke Agustus 2026.

Selain itu, rangkaian pameran otomotif besar seperti Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) yang akan digelar di sejumlah kota diperkirakan menjadi pemicu permintaan. Pada GIIAS Jakarta tahun lalu tercatat penjualan signifikan dalam 10 hari pelaksanaan, sehingga penyelenggaraan tahun ini dinilai bisa menjadi booster penjualan kendaraan roda empat Astra.

Performa Segmen dan Risiko Suku Bunga

Penjualan kendaraan segmen low cost green car (LCGC) juga menunjukkan pemulihan, meningkat dari 6.099 unit pada Juni 2025 menjadi 8.068 unit pada Juni 2026. Catatan ini penting mengingat segmen LCGC disebut sensitif terhadap suku bunga tinggi.

Meski demikian, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia pada semester kedua 2026 menjadi tantangan. Kenaikan BI rate berpotensi menekan permintaan konsumen terhadap mobil baru dan berdampak pada penjualan mulai paruh kedua tahun ini.

Perspektif Analis dan Rekomendasi

Co-Founder AP Trading Insight Singapore Kiswoyo Adi Joe menilai membaiknya penjualan Astra pada semester pertama 2026 sebagai sinyal positif bagi pergerakan ekonomi. “Harapannya tentu di semester II-2026, penjualan sektor otomotif Astra tetap bisa bertumbuh. Apalagi, pangsa pasar mereka sudah cukup bagus bertahan di atas 50%,” ujar Kiswoyo.

Kiswoyo merekomendasikan aksi beli dengan harga wajar di level Rp6.500-7.000 sampai Desember 2026, menyoroti diversifikasi bisnis Astra yang tidak hanya bergantung pada otomotif tetapi juga sektor lain melalui anak usaha seperti PT United Tractors Tbk.

Proyeksi Laba dan Dampak Kebijakan Pemerintah

UOB Kay Hian mencatat kebijakan pemerintah yang menahan kenaikan harga BBM bersubsidi memberi keuntungan bagi Astra. Sekitar 44% penjualan mobil Astra pada Januari-Mei 2026 berasal dari model yang masih berhak menggunakan BBM bersubsidi, sedangkan sekitar 11% berasal dari kontribusi mobil hybrid.

Berdasarkan proyeksi broker tersebut, Astra diperkirakan membukukan laba bersih Rp28,34 triliun pada 2026, meningkat menjadi Rp33,49 triliun pada 2027 dan Rp36,97 triliun pada 2028. Proyeksi earning per share (EPS) diperkirakan naik dari Rp700 pada 2026 menjadi Rp913 pada 2028.

Program Saham dan Potensi Re-Rating

UOB Kay Hian menilai program manajemen saham (MSOP), akumulasi saham treasuri hingga 110 juta saham, serta rencana buyback senilai Rp8 triliun berpotensi mendorong re-rating saham ASII. Sejak kuartal akhir 2025, Astra telah melakukan buyback tiga putaran dengan alokasi masing-masing Rp2 triliun.

Periode buyback yang sudah berlangsung antara lain 3 November 2025 hingga 30 Januari 2026, 18 Januari hingga 25 Februari 2026, dan 16 Maret hingga 15 Juni 2026. Rencana buyback lanjutan dijadwalkan pada 20 Juli 2026 hingga 16 Juli 2027 dan akan mengajukan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 10 Juli 2026.

Dengan asumsi harga saham ASII sebesar Rp4.600 per lembar, UOB memperkirakan program buyback tersebut setara sekitar 4,3% dari free float. “Apabila langkah strategis ini berjalan dengan baik … maka saham ASII berpotensi mengalami re-rating,” tulis UOB Kay Hian.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, UOB Kay Hian mempertahankan rekomendasi beli terhadap saham ASII dengan target harga Rp7.100.