Jumat Terakhir Bulan Rajab Bertepatan Isra Mi’raj, Ini Amalan yang Dianjurkan Ulama

Jumat, 16 Januari 2026 menjadi hari yang istimewa bagi umat Islam. Selain menandai Jumat terakhir bulan Rajab 1447 Hijriah, tanggal ini juga bertepatan dengan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Momen langka ini dimanfaatkan umat Muslim untuk memperbanyak ibadah dan refleksi diri menjelang datangnya bulan suci Ramadan.

Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 terbitan Kementerian Agama RI, 1 Rajab 1447 H jatuh pada Minggu, 21 Desember 2025. Dengan demikian, 27 Rajab 1447 H bertepatan dengan Jumat, 16 Januari 2026, yang secara tradisi diperingati sebagai hari Isra Mi’raj.

Rajab, Bulan Mulia yang Dianjurkan Perbanyak Amal Saleh

Bulan Rajab termasuk satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah SWT. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an surah At-Taubah ayat 36, di mana umat Islam diperintahkan untuk tidak berbuat zalim dan memperbanyak amal kebajikan pada bulan-bulan tersebut.

Rasulullah SAW juga memberikan perhatian khusus pada Rajab. Dalam hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik RA, Nabi Muhammad SAW kerap membaca doa, “Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana wa ballighna Ramadhan.” Doa ini menunjukkan bahwa Rajab merupakan bulan persiapan spiritual menuju Ramadan.

Di tengah masyarakat, Jumat terakhir Rajab sering dikaitkan dengan sejumlah amalan tertentu. Salah satunya adalah membaca zikir tertentu saat khatib duduk di antara dua khutbah Jumat. Sejumlah ulama klasik menyebutkan praktik ini sebagai bagian dari tradisi, meskipun tidak didukung hadis sahih yang kuat.

Ulama menegaskan bahwa amalan seperti ini tidak boleh diyakini sebagai kewajiban atau sunah khusus, melainkan sebatas zikir yang dibolehkan selama tidak bertentangan dengan syariat. Perbedaan pendapat ini menunjukkan pentingnya kehati-hatian dalam mengamalkan ibadah yang dikaitkan dengan waktu tertentu.

Isra Mi’raj dan Amalan Khusus, Ini Penjelasan Ulama

Peringatan Isra Mi’raj juga kerap diiringi dengan anjuran shalat atau ibadah tertentu pada malam 27 Rajab. Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menyebut keutamaan memperbanyak ibadah pada malam tersebut. Namun, para ahli hadis seperti Imam an-Nawawi dan Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa tidak ada hadis sahih yang secara khusus menetapkan shalat tertentu pada malam Isra Mi’raj.

Karena itu, ulama sepakat bahwa memperingati Isra Mi’raj diperbolehkan sebagai sarana dakwah dan pengingat, selama tidak menetapkan ritual khusus yang diyakini berasal dari sunah Nabi SAW.

Amalan yang Dianjurkan dan Disepakati Ulama

Meski terdapat perbedaan pendapat terkait amalan khusus, para ulama sepakat bahwa Jumat terakhir Rajab dan momentum Isra Mi’raj sangat baik diisi dengan amalan yang telah jelas dalilnya. Di antaranya adalah memperbanyak istighfar dan taubat, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda bahwa beliau beristighfar lebih dari 70 kali dalam sehari.

Selain itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa, membaca Al-Qur’an, bershalawat kepada Nabi SAW, serta melaksanakan puasa sunah seperti Senin-Kamis atau Ayyamul Bidh. Amalan-amalan ini disepakati keutamaannya dan relevan sebagai bekal menyambut Ramadan.

Ulama mengingatkan bahwa Rajab adalah bulan muhasabah, Sya’ban bulan pembiasaan, dan Ramadan bulan puncak ibadah. Oleh karena itu, Jumat terakhir Rajab yang bertepatan dengan Isra Mi’raj menjadi momentum penting untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas shalat, serta meneguhkan komitmen ketaatan kepada Allah SWT.

Dengan mengisi hari mulia ini dengan amalan yang sahih dan sikap moderat terhadap perbedaan pendapat, umat Islam diharapkan dapat meraih keberkahan Rajab sekaligus menyambut Ramadan dengan kesiapan iman dan amal.