— Target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,4% pada 2026 masih terbuka untuk dikejar, namun perhatian kini bergeser pada kualitas dasar pertumbuhan itu sendiri. Fokus utama adalah memastikan angka yang dicapai berdiri di atas fondasi produktif, kokoh, dan berkelanjutan.

Pengalaman sejumlah negara memperingatkan bahwa lonjakan pertumbuhan yang bertumpu pada konsumsi semata cenderung menghasilkan euforia sementara, bukan kemakmuran jangka panjang.

Proyeksi Dan Realisasi Terkini

Optimisme terhadap prospek ekonomi domestik tetap kuat. Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 mencapai 5,61%, melampaui ekspektasi banyak pihak.

Beberapa lembaga internasional juga menyodorkan proyeksi yang mendukung. Dana Moneter Internasional memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 5% tahun ini dan meningkat menjadi 5,1% pada 2027, sementara Asian Development Bank mempertahankan proyeksi 5,2%.

Risiko Global Yang Perlu Diwaspadai

Namun, proyeksi tersebut datang di tengah ketidakpastian global. IMF mengingatkan adanya ancaman dari konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, tekanan harga energi, dan fragmentasi perdagangan.

ADB juga mencatat gejolak harga energi dan komoditas yang bisa memicu inflasi, memperketat kondisi keuangan global, dan menekan negara pengimpor energi seperti Indonesia. Kedua lembaga menekankan pentingnya menjaga stabilitas makroekonomi, memperkuat reformasi struktural, dan meningkatkan produktivitas.

Kekuatan Dan Kelemahan Domestik

Di dalam negeri, modal untuk memperkuat pertumbuhan antara lain konsumsi domestik yang besar, populasi yang besar, inflasi relatif terkendali, perkembangan digitalisasi ekonomi, dan perbaikan investasi. Hilirisasi sumber daya alam juga mulai memberikan nilai tambah.

Namun, sejumlah kelemahan struktural masih menjadi pekerjaan rumah. Daya beli kelas menengah belum pulih sepenuhnya, investasi produktif belum deras, efisiensi investasi masih rendah sebagaimana tercermin dari tingginya ICOR, dan sektor manufaktur belum menjadi motor utama penciptaan lapangan kerja.

Selain itu, defisit neraca perdagangan pada Mei 2026, pelemahan nilai tukar rupiah, serta ketergantungan pada impor energi menunjukkan kerentanan terhadap guncangan eksternal.

Agenda Kebijakan Prioritas

Untuk mencapai pertumbuhan berkualitas, kebijakan ekonomi sebaiknya tidak semata-mata mengejar angka jangka pendek. Reformasi birokrasi dan penyederhanaan regulasi investasi dinilai penting untuk memperlancar aliran investasi.

Penguatan industri manufaktur berteknologi tinggi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pengembangan ekonomi digital juga menjadi agenda utama. Di sisi lain, peneguhan ketahanan energi dan pangan perlu dilanjutkan agar guncangan global tidak mudah berdampak ke dalam negeri.

Definisi Pertumbuhan Berkualitas

Pertumbuhan yang berkualitas harus melampaui tinggi atau rendahnya produk domestik bruto. Ukurannya mencakup produktivitas yang meningkat, penambahan lapangan kerja formal, penguatan kelas menengah, penurunan kemiskinan dan ketimpangan, serta meningkatnya investasi produktif.

Stabilitas inflasi dan nilai tukar, serta perbaikan kualitas hidup masyarakat dan daya saing nasional, juga menjadi bagian dari tolok ukur tersebut.

Penutup

Target 5,4% layak diperjuangkan, namun yang lebih penting adalah memastikan setiap persen pertumbuhan benar-benar menciptakan lapangan kerja, memperkuat industri nasional, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pertumbuhan tinggi adalah pencapaian; pertumbuhan berkualitas adalah warisan.