Detak Media — Penurunan harga emas beberapa pekan terakhir dinilai bukan sinyal berakhirnya tren kenaikan, melainkan kesempatan bagi investor untuk menambah kepemilikan. Pandangan itu disampaikan Co-Founder sekaligus Chief Investment Officer Waratah Capital Advisors, Brad Dunkley, yang optimistis terhadap prospek jangka panjang emas.
Dunkley menilai kondisi makro saat ini — utamanya beban utang tinggi dan kecenderungan kebijakan moneter yang longgar — akan mempertahankan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Menurut Dunkley, pemerintah dan bank sentral di berbagai negara tak akan membiarkan perlambatan ekonomi atau resesi berkepanjangan. Beban utang yang besar membuat suku bunga sulit dipertahankan pada level tinggi dalam jangka panjang, sehingga kebijakan moneter kemungkinan akan dilonggarkan kembali untuk mendukung pertumbuhan.
“Utang sudah terlalu besar sehingga suku bunga tidak bisa terus dinaikkan. Pada akhirnya mereka akan membiarkan ekonomi tetap panas dan kembali mencetak uang,”
Ia menyatakan banyak investor terlalu optimistis bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam waktu lama. Pengalaman beberapa tahun terakhir, menurut Dunkley, menunjukkan bank sentral cenderung cepat mengubah arah kebijakan ketika pasar keuangan mulai tertekan.
Dunkley menambahkan bahwa pemerintah kini enggan membiarkan resesi, lonjakan pengangguran, atau tekanan ekonomi berkepanjangan karena dampaknya terhadap stabilitas fiskal dan sosial lebih besar daripada sebelumnya.
Lingkungan suku bunga riil yang rendah dan ekspansi moneter disebutnya sebagai faktor utama yang menopang harga emas dalam jangka panjang. Menurut Dunkley, langkah menjaga biaya pinjaman tetap rendah untuk mengelola utang akan menjaga emas tetap menarik sebagai pelindung daya beli mata uang.
Selain faktor moneter, Dunkley juga menyebut meningkatnya fragmentasi geopolitik sebagai katalis positif bagi emas. Ketidakpercayaan antarnegara mendorong bank-bank sentral untuk meningkatkan kepemilikan emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa.
“Bank-bank sentral terus menjadi pembeli besar emas karena situasi geopolitik yang semakin tidak menentu,”
Saham Emiten Emas Dijagokan
Meski optimistis terhadap harga emas, Waratah Capital memilih menempatkan modal pada saham perusahaan tambang emas ketimbang emas fisik. Dunkley berpendapat valuasi emiten tambang saat ini masih belum mencerminkan potensi fundamentalnya karena pasar belum sepenuhnya percaya harga emas akan bertahan di level tinggi.
Ia menyatakan banyak produsen emas kini menghasilkan arus kas kuat, bahkan sebagian memiliki posisi kas bersih, namun kondisi tersebut belum terlihat pada harga saham mereka.
“Kalau tidak tahu mereka perusahaan tambang emas, Anda mungkin akan mengira ini adalah perusahaan terbaik di dunia. Margin arus kas bebas mereka sangat tinggi,”
Associate Portfolio Manager Waratah Capital Advisors, Grant McAdam, menambahkan bahwa banyak perusahaan tambang emas masih menawarkan tingkat free cash flow yield yang menarik dibandingkan sektor lain.
Dunkley menilai sebagian besar investor institusi masih memiliki eksposur rendah terhadap saham-saham emas. Menurutnya, minat terhadap sektor ini berpotensi meningkat ketika pasar saham secara umum mulai kehilangan momentum, mirip dengan siklus komoditas pada era 1970-an ketika emas menjadi salah satu aset berkinerja terbaik saat valuasi pasar saham tertekan.
Ikuti Detak Media
