Meksiko Berlakukan Tarif Impor Hingga 50 Persen Mulai 2026, Ekspor Mobil Listrik China Terancam
Pemerintah Meksiko bersiap memberlakukan kebijakan tarif impor baru yang signifikan mulai awal 2026. Kebijakan ini diprediksi akan memberikan dampak besar bagi perdagangan otomotif global, terutama menyasar negara-negara yang tidak memiliki perjanjian perdagangan bebas (FTA) dengan Meksiko. China menjadi salah satu negara yang diperkirakan paling terdampak oleh regulasi ini.
Berdasarkan laporan dari Carscoops dan Reuters, Kongres Meksiko telah menyetujui pengenaan tarif impor baru untuk 1.463 jenis produk. Komponen yang termasuk dalam daftar ini meliputi mobil, kendaraan listrik (EV), dan suku cadang otomotif. Besaran tarif yang ditetapkan bervariasi, namun untuk produk yang berasal dari China, tarifnya dilaporkan dapat mencapai angka 50 persen. Angka ini jauh melampaui tarif rata-rata sekitar 35 persen yang dikenakan pada negara-negara lain.
Langkah Meksiko ini diambil sebagai respons terhadap lonjakan ekspor kendaraan listrik dari China yang terjadi sepanjang 2025. Dalam satu bulan terakhir sebelum kebijakan baru disahkan, tercatat ada 19.344 unit kendaraan listrik asal China yang diimpor ke Meksiko. Angka ini menunjukkan peningkatan drastis sebesar 2.367 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Bahkan, Meksiko sempat menduduki posisi sebagai pasar ekspor kendaraan listrik terbesar bagi China dalam basis bulanan.
Namun, lonjakan tersebut diperkirakan tidak akan berlanjut setelah tarif baru berlaku per 1 Januari 2026. Kenaikan tarif impor yang signifikan berpotensi membuat harga kendaraan listrik dan produk otomotif asal China melonjak drastis. Hal ini tentu akan menekan daya saing produk-produk tersebut di pasar Meksiko.
Tarif Meluas ke Berbagai Sektor Industri
Kebijakan tarif impor baru Meksiko tidak hanya menyasar sektor otomotif, tetapi juga merambah ke berbagai sektor industri strategis lainnya. Produk-produk yang akan dikenakan tarif baru mencakup sepeda motor, trailer, baja, aluminium, plastik, tekstil, alas kaki, pakaian, peralatan rumah tangga, produk kertas, furnitur, hingga sepatu.
Kementerian Ekonomi Meksiko menjelaskan bahwa kebijakan ini dirancang untuk melindungi sekitar 350.000 lapangan kerja domestik. Sektor-sektor yang dinilai paling sensitif dan menjadi fokus perlindungan adalah otomotif, baja, tekstil, dan alas kaki. Pemerintah menilai bahwa ketergantungan yang tinggi terhadap barang impor telah menciptakan distorsi dalam perdagangan yang perlu segera diatasi.
Otoritas Meksiko menegaskan bahwa kebijakan tarif ini bersifat komersial dan ekonomi, bukan merupakan langkah politis yang ditujukan secara spesifik kepada negara tertentu. Pemerintah berargumen bahwa kebijakan ini adil dan bertujuan untuk melindungi kepentingan nasional serta memperkuat industri dalam negeri.
Meskipun demikian, langkah ini telah memicu reaksi keras dari sejumlah negara mitra dagang Meksiko.
China Protes, Dampak Global Dipantau
Menanggapi kebijakan tarif impor baru Meksiko, Kementerian Perdagangan China menyatakan keprihatinannya. Beijing menilai bahwa tarif baru ini akan sangat merugikan eksportir China serta mitra dagang lainnya yang terdampak. China mendesak pemerintah Meksiko untuk meninjau ulang kebijakan tersebut, yang dinilai mencerminkan praktik unilateralisme dan proteksionisme berlebihan.
Hingga saat ini, China belum mengumumkan langkah balasan konkret selain pernyataan resmi. Namun, para analis memperkirakan bahwa kebijakan ini dapat mendorong produsen otomotif China untuk melakukan penyesuaian strategi ekspor. Salah satu strategi yang mungkin diambil adalah percepatan investasi dalam pembangunan pabrik perakitan lokal di kawasan Amerika Latin.
Bagi Meksiko sendiri, penerapan tarif baru ini diperkirakan akan menambah penerimaan negara hingga sekitar USD 3,76 miliar per tahun.
Indonesia Hadapi Ketidakpastian Insentif Mobil Listrik
Di tengah dinamika global yang terjadi, Indonesia juga menghadapi tantangan tersendiri dalam upaya pengembangan industri kendaraan listrik. Hingga awal tahun 2026, kepastian mengenai kelanjutan dan skema insentif untuk mobil listrik di Tanah Air masih belum sepenuhnya jelas.
Pemerintah Indonesia sebelumnya telah memberikan insentif mobil listrik berupa pembebasan bea masuk dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk kendaraan listrik impor berbasis baterai. Syaratnya adalah adanya komitmen investasi dan perakitan lokal. Namun, masa berlaku dan detail lanjutan dari kebijakan ini masih menunggu kepastian regulasi baru.
Ketidakpastian insentif ini berpotensi memengaruhi strategi produsen kendaraan listrik global, termasuk merek-merek asal China, dalam menentukan harga dan keputusan investasi di Indonesia. Sejumlah pelaku industri menilai bahwa kejelasan skema insentif merupakan faktor krusial agar Indonesia tetap dapat bersaing di tengah meningkatnya tren proteksionisme dan kebijakan tarif di berbagai negara.
Dengan Meksiko yang memperketat kebijakan impor dan Indonesia yang masih merumuskan arah kebijakannya, peta persaingan global untuk kendaraan listrik diperkirakan akan menjadi semakin dinamis sepanjang tahun 2026.