Dominasi Tesla Runtuh, BYD Jadi Raja Mobil Listrik Global 2025
Dominasi produsen mobil listrik global bergeser signifikan pada tahun 2025. BYD, raksasa otomotif asal China, resmi mengukuhkan diri sebagai penjual mobil listrik terbesar di dunia, menggulingkan tahta Tesla berdasarkan angka penjualan tahunan. Pergeseran ini menandai era baru dalam persaingan industri kendaraan listrik global.
Pencapaian BYD ini sekaligus menjadi jawaban atas pandangan skeptis di masa lalu. CEO Tesla Elon Musk pada 2011 sempat meremehkan BYD, menyebutnya bukan ancaman serius. Namun, situasi berbalik drastis pada 2025, membuktikan kebangkitan produsen asal China tersebut.

Dalam laporan resminya di akhir 2025, BYD mengumumkan penjualan kendaraan listrik baterai (BEV) mencapai sekitar 2,26 juta unit sepanjang tahun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan hampir 28 persen dibanding tahun sebelumnya, menempatkan BYD di puncak segmen mobil listrik murni, melampaui Tesla.
Secara total, BYD membukukan penjualan kendaraan penumpang sekitar 4,55 juta unit pada 2025, naik 7,1 persen dari 2024. Penjualan ini mencakup BEV dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), sesuai dengan strategi perusahaan yang telah menghentikan produksi mobil konvensional sejak 2022.
Kinerja Tesla Menurun Dua Tahun Beruntun
Sementara itu, Tesla melaporkan pengiriman global sebanyak 1,64 juta unit kendaraan sepanjang 2025. Angka ini sesuai proyeksi internal, namun mencerminkan penurunan sekitar 8 persen dibanding 2024. Ini merupakan penurunan tahunan kedua secara beruntun bagi Tesla.
Pada kuartal IV-2025, pengiriman Tesla turun 16 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Model 3 dan Model Y masih menjadi kontributor utama, menyumbang 97 persen dari total pengiriman kuartalan. Model S, X, dan Cybertruck hanya berkontribusi kecil.

Meskipun Cybertruck diklaim memiliki lebih dari satu juta reservasi, model ini belum menjadi penggerak penjualan utama. Penjualan Cybertruck pada 2025 didominasi pembelian korporasi, termasuk dari SpaceX.
Tekanan terhadap Tesla juga terasa di pasar Eropa. Data European Automobile Manufacturers’ Association (ACEA) mencatat registrasi Tesla di Eropa turun 39 persen dalam 11 bulan pertama 2025.
Sebaliknya, registrasi BYD melonjak lebih dari 240 persen pada periode yang sama. Kendaraan listrik baterai kini menyumbang 16 persen dari total penjualan mobil baru di Eropa, menandakan persaingan ketat di segmen kendaraan nol emisi.
Tekanan Kebijakan dan Faktor Non-Bisnis
Sepanjang 2025, Tesla menghadapi tantangan dari berbagai sisi, termasuk persaingan produsen China dan perubahan kebijakan di Amerika Serikat. Berakhirnya insentif kendaraan listrik federal pada 30 September 2025 menggeser sebagian permintaan ke kuartal III, yang berdampak pada kinerja kuartal berikutnya.
Perhatian publik terhadap Tesla juga dipengaruhi oleh aktivitas politik Elon Musk. Keterlibatannya dalam inisiatif pemangkasan tenaga kerja federal dan pandangan politiknya di Eropa menuai kontroversi, yang dinilai sebagian analis memengaruhi persepsi konsumen.
Namun, di tengah tekanan tersebut, saham Tesla justru menguat pada paruh kedua 2025. Pada kuartal III, saham perusahaan melonjak 40 persen dan sempat mencetak rekor penutupan tertinggi di level sekitar IDR 7,9 juta per saham (konversi dari harga puncak di pasar AS).
BYD Perkuat Posisi Lewat Ekspor Global
Keberhasilan BYD tidak hanya ditopang pasar domestik China. Pada 2025, ekspor mobil listrik BYD untuk pertama kalinya menembus lebih dari 1 juta unit, melonjak 150 persen dibanding tahun sebelumnya. Kinerja ekspor ini menjadi penopang penting di tengah persaingan ketat di China.
Dari total penjualan BYD pada 2025, sekitar 2,25 juta unit adalah BEV dan 2,29 juta unit adalah PHEV. Komposisi ini menunjukkan pergeseran signifikan, dengan porsi BEV yang hampir menyamai PHEV, memperkuat posisi BYD di segmen mobil listrik murni.
Dengan capaian tersebut, BYD menutup 2025 sebagai produsen mobil listrik terbesar dunia, membuka babak baru persaingan global industri kendaraan listrik yang semakin didominasi pemain asal China.