— Klaim Bobibos sebagai bahan bakar berbasis jerami padi dengan angka oktan setara BBM RON 98 memantik perhatian publik. Namun, kalangan akademisi mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan pada idenya, melainkan pada kerumitan teknologi dan biaya tinggi untuk mengubah biomassa jerami menjadi hidrokarbon yang layak dipakai mesin kendaraan.

Dosen Teknik Mesin dan Biosistem IPB University, Leopold Oscar Nelwan, menegaskan bahwa bahan bakar komersial untuk kendaraan bermotor harus berupa hidrokarbon, bukan etanol atau biodiesel. Artinya, jika Bobibos dimaksudkan sebagai pengganti bensin atau solar, maka proses konversinya harus mencapai tahap yang jauh lebih kompleks.

Diklaim RON 98, BBM Jerami Bobibos Kini Diuji Lemigas

Bobibos dan Klaim RON 98 dari Jerami Padi

Bobibos—akronim dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia, Bos!—dikembangkan oleh PT Inti Sinergi Formula yang dipimpin Muhammad Ikhlas Thamrin. Produk ini diklaim memiliki emisi rendah, angka oktan RON 98, serta varian untuk mesin bensin (Bobibos Putih) dan diesel (Bobibos Merah).

Bahan baku utamanya adalah jerami padi, limbah panen yang selama ini kerap dibakar. Prototipe disebut telah diuji pada mesin traktor di Subang pada November 2025, dan pengembang menargetkan produksi massal pada 2026.

Lignoselulosa: Struktur Kimia yang Sulit Diurai

Menurut Leopold, jerami termasuk biomassa lignoselulosa yang struktur kimianya kompleks dan sulit dipecah. Untuk menjadi bahan bakar setara bensin atau solar, biomassa harus melewati proses termokimia tingkat lanjut seperti:

  • Gasifikasi lalu sintesis Fischer–Tropsch (FT) menjadi hidrokarbon cair
  • Pirolisis cepat menghasilkan bio-oil yang kemudian di-hydrotreating

Sebagian besar teknologi ini, kata dia, masih dominan di tahap riset dan pilot plant di berbagai negara.

“Proses untuk mengubah jerami menjadi hidrokarbon itu panjang, teknisnya rumit, dan membutuhkan energi sangat besar,” ujarnya.

Biaya Produksi Bisa Melonjak Tinggi

Proses FT dan hydrotreating memerlukan katalis khusus, suhu tinggi, tekanan tinggi, serta energi besar. Ini berdampak langsung pada biaya investasi dan operasional.

Leopold mengutip literatur yang memperkirakan biaya produksi bahan bakar melalui proses FT dari batu bara saja berkisar Rp12.800–25.600. Jika bahan bakunya jerami yang lebih kompleks, tantangannya dinilai bisa lebih berat.

Sementara itu, pengembang Bobibos mengklaim biaya produksi sekitar Rp4.300 dan harga jual di bawah Rp10.000. Klaim ini, menurut Leopold, perlu dihitung ulang dengan memasukkan seluruh komponen energi proses, investasi reaktor, katalis, serta logistik bahan baku.

Pengembang menyebut produksi 3.000 liter Bobibos membutuhkan sekitar 9.000 ton jerami. Leopold menilai rasio ini memunculkan pertanyaan lanjutan soal efisiensi energi dan logistik.

“Biomassa itu volumenya besar, densitasnya rendah, dan perlu penanganan sebelum diproses. Rantai pasoknya tidak sederhana,” jelasnya.

Menunggu Uji Resmi dan Keterbukaan Data

Saat ini Bobibos belum memiliki izin edar dari Kementerian ESDM dan masih menunggu pengujian resmi di Lemigas. Data komposisi kimia, efisiensi energi, serta hasil uji emisi juga belum dipublikasikan secara terbuka.

Leopold menekankan pentingnya transparansi data agar klaim dapat diuji secara ilmiah oleh regulator dan komunitas akademik.

Muhammad Ikhlas Thamrin menyatakan optimistis Bobibos dapat diproduksi massal dan dijual murah di berbagai daerah. Namun, pandangan akademik menunjukkan jalan menuju komersialisasi bahan bakar jerami membutuhkan pembuktian teknologi dan perhitungan ekonomi yang matang.

Di titik ini, hasil pengujian resmi oleh Lemigas akan menjadi penentu apakah Bobibos benar-benar bisa menjadi terobosan energi nasional atau masih menghadapi tantangan besar di ranah teknis dan biaya.